10 Ekor Kukang Jawa Kembali dilepasliarkan

Kukang yang dilepasliarkan. (Foto: Ist)

BOGOR – Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Satwa International Animal Rescue (IAR) Indonesia Bogor melepasliarkan 10 ekor kukang jawa di Kawasan Suaka Marga Satwa Gunung Sawal, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

Dokter Hewan IAR Indonesia, Nur Purba Priambada mengatakan, kesepuluh kukang yang terdiri dari lima jantan dan lima betina tersebut merupakan serahan masyarajat ke Badan Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) serta IAR Indonesia.

“Kukang yang dilepas tersebut telah menjalani proses karantina dan rehabilitasi, hingga dipastikan bisa kembali beradaptasi di habitat barunya,” kata Purba, Sabtu 18 Februari 2017.

Purba menambahkan, butuh waktu sekitar enam bulan hingga satu tahun untuk memulihkan kondisi kukang. Terlebih, beberapa di antaranya diserahkan dalam kondisi terluka dan memprihatikan.

Seperti yang terjadi salah satu kukang betina serahan masyarakat pada 2016. Tangan kanan kukang itu mengalami luka parah seperti terkena jerat. Tim medis terpaksa mengamputasi seluruh jarinya agar infeksi tidak menyebar.

“Beruntung kondisi kukangnya masih liar dengan formasi gigi yang lengkap sehingga pemulihannya berangsur cepat hingga waktu pelepasliaran,” jelas Purba.

Kondisi serupa juga terjadi pada salah satu kukang jantan yang diserahkan masyarakat ke BKSDA Ciamis. Kukang tersebut kondisinya lemah karena bagian dada, perut dan tangannya mengalami luka akibat sengatan listrik.

“Sekarang semua kukang siap menikmati kebebasan. Semoga mereka bisa beradaptasi dengan baik dan dapat mengkoreksi secara positif populasi kukang yang semakin berkurang,” harap Purba.

Sementara itu, Kepala Bidang KSDA Wilayah III Ciamis, Himawan Sasongko menjelaskan, pelepasliaran kukang jawa di kawasan SM Gunung Sawal merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan populasi kukang sebagai satwa endemik.

“SM Gunung Sawal sendiri sudah diketahui merupakan salah satu habitat alami kukang jawa yang penting di wilayah Ciamis, selain juga merupakan kantong habitat macan tutul jawa,” ujar Himawan

Menurutnya, keberadaan kukang di alam berfungsi sebagai penyeimbang ekosistem, penjaga keanekaragaman tumbuhan asli dan membantu proses pengendalian hama di wilayah tersebut

“Pelestarian kukang ini tidak lepas dari peran kader konservasi yang aktif menyampaikan pentingnya upaya konservasi satwa liar kepada masyarakat dengan membiarkannya berkembang alami bukan memburunya,” tuturnya.

Ke depannya, SM Gunung Sawal diharapkan dapat berperan dalam menunjang pendidikan konservasi, baik tingkat dasar maupun lanjutan tentang pentingnya mempelajari proses ekologi dan manfaatnya.

“Mempelajari ekologi dengan melihat langsung prosesnya di alam menjadi tantangan kami setidaknya untuk wilayah Ciamis dan sekitarnya,” tutupnya.

 

 

 

SUMBER : OKEZONE.COM