Agar Tidak Punah, Konservasi Badak Sumatera Harus Ada Perlakuan Khusus

Penyelamatan badak sumatera harus cepat dilakukan. Perburuan dan gangguan habitat terus mempersempit ruang gerak satwa bersejarah ini. Foto: Rhett Butler

 


Taman Nasional Bukit Barisan Selatan adalah habitatnya badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis). Namun, ancaman perburuan terus mengintai kehidupan satwa langka bercula ini.

Kepala Balai Besar TNBBS Timbul Batubara mengemukakan, pembangunan Intensive Protection Zone (IPZ) seluas 100.000 hektare akan dilakukan. Intervensi perlakuan khusus ini sebagai upaya peningkatan populasi. “Kita juga sudah mendapatkan dukungan dari KFW, lembaga konservasi di Jerman, dan mitra kerja TNBBS. Juni ini launching. Kegiatan utamanya pelestarian habitat, perlindungan habitat dan spesies, serta survei dan monitoring,” terang Timbul di ruang kerjanya, di Lampung, baru-baru ini.

Ada delapan nilai yang diintergrasikan melalui IPZ, tambah Timbul. Dimulai penghapusan dari daftar taman nasional yang terancam (in dangered list), ekosistem terjaga dan lestari, status populasi badak sumatera meningkat, habitat satwa kunci terjamin, menjadi taman nasional model, pengembangan ekowisata, dan pemanfaatan jasa lingkungan air. “Searah jarum jam, nilai-nilai ini berujung pada Indonesia Sejahtera.”

Upaya membangun IPZ di TNBBS, diadaptasi dari Afrika yang wilayahnya kecil dengan pagar beton. Untuk di TNBBS, pagar yang dibangun adalah pagar sosial, pagar yang benar-benar utuh. Pagar ini mengintegrasikan sistem pengelolaan TNBBS, sosial, budaya, dan ekonomi, sehingga tidak ada pertentangan visi.

Sementara untuk Intensive Management Zone (IMZ), Timbul mengatakan, akan dibangun di kawasan Way Canguk, Lampung. “Ada areal datar, ketersediaan pakan yang cukup, yang intinya badak sumatera bisa hidup nyaman. Ada juga sungai yang akan membatasi badak keluar-masuk,” tutur Timbul sembari mengatakan target populasi badak di TNBBS pada 2022 nanti sekitar 60 individu.

 

Menyelamatkan badak sumatera berarti juga harus menyelamatkan habitatnya, hutan alami sebagai sumber kehidupan. Foto: Rhett Butler

 

Tantangan

Perlakuan khusus harus diterapkan pada badak sumatera beserta habitatnya bila ingin tetap ada di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). “Tantangan konservasinya sangat kompleks. Bukan hanya perburuan, deforestasi dan kehadiran manusia, tetapi juga perilaku unik badak itu sendiri,” ujar Conservation Network Development Coordinator Wildlife Conservation Society – Indonesia Programe (WCS-IP) Fahrul Amama kepada Mongabay Indonesia, Minggu (02/04/2017).

Perilaku unik badak sumatera yang dimaksud adalah soliter (menyediri), elusif (pemalu), bahkan sekretif (rahasia). Salah satu tindakan yang biasa dilakukan untuk menghilangkan jejaknya adalah menghancurkan kotoran. Bila mencium keberadaan manusia, badak cenderung menghindar, mencari tempat aman.

Sehingga, tambah Southern Sumatra Manager WCS-IP, Firdaus Afandi, populasi badak sumatera cenderung berpindah ke habitat yang berlokasi lebih dalam dan sulit. “Jarak antar-badak semakin jauh. Kondisi ini juga mengakibatkan potensi perkembangbiakan badak sumatera di TNBBS kian sulit.”

Bila populasinya dalam satu kantong habitat tidak viable (berdaya hidup) bukan perkembangbiakan yang terjadi. Sebaliknya, kepunahan. “Harus dilakukan intervensi perlakuan khusus,” ujar Fahrul.

IPZ dan IMZ merupakan intervensi perlakuan khusus untuk konservasi badak sumatera. IPZ dilakukan untuk memastikan bahwa habitat aman dari perburuan, deforestasi, dan kehadiran manusia. Sedangkan IMZ untuk menyatukan populasi dalam satu zona intensif. Bahkan, upaya mempersatukan populasi badak sumatera agar memenuhi jumlah minimum populasi viable dapat dilakukan. “Perlakuan khusus sangat penting agar penambahan populasi ada,” terang Fahrul.

Wulan Pusparini, peneliti badak sumatera dari WCS-IP, yang telah riset di TNBBS sejak 2005 menuturkan, upaya penyelamatan badak sumatera harus dilakukan serius. “Tidak hanya pengumpulan sejumlah data, tapi juga harus dipastikan keberadaan badak itu sendiri; dimana, berapa jumlahnya, dan bagaimana kondisinya.”

Wulan menekankan, penerapan teknologi dalam pengelolaan kawasan konservasi seperti halnya SMART yang telah dilakukan di TNBBS sejak 2013 sangat ampuh. SMART yang merupakan sistem aplikasi manajemen informasi, begitu berdaya guna untuk mengumpulkan, menyimpan, menganalisa, mengevaluasi, hingga melaporkan hasil kegiatan yang dilakukan di lapangan. “Sejauh ini, keberadaan satwa liar yang ada di TNBBS dapat terpantau, bukan hanya badak tapi juga harimau dan gajah. Namun begitu, ancaman perburuan juga tinggi, mereka (pemburu) selalu bersenjata.”

 

Harapan dan nilai-nilai yang dicapai pada pembangunan IPZ. Foto: Dedek Hendry

 

Perilaku unik

Terpisah, Direktur Eksekutif Yayasan Badak Indonesia Widodo Ramono mengemukakan, perilaku reproduksi badak sumatera memang unik. Badak betina mulai reproduksi pertama kali usia 7 – 9 tahun. Sedangkan masa ovulasi (masa subur) selama 20 – 24 hari, dengan masa estrus (masa birahi) 4 hari.

“Hanya 4 hari dari masa ovulasi, badak betina menerima jantan. Di luar itu, biasanya saling menyerang. Bisa menimbulkan cedera bahkan kematian. Sedangkan jarak kawin setelah melahirkan 3 – 4 tahun.”

Perilaku makannya juga unik. Umumnya, tidak makan dalam jumlah banyak, melainkan sedikit dan berpindah. Pakannya berupa tunas, daun muda, ranting muda, dan buah-buahan. Istilahnya browser. Saat makan, gigi seri berperan seperti gunting. Untuk mengunyah menggunakan geraham. “Lebih dari 200 jenis tumbuhan yang dimakan,” tutur Widodo.

Badak sumatera termasuk satwa berkuku. Namun, tidak menggunakan kuku kaki sebagai cengkraman untuk berdiri, melainkan tetapak. Sehingga, memerlukan tempat datar. Oleh karena itu, upaya konservasi harus dilakukan dengan perlakuan khusus. Hal utama yang harus dikerjakan adalah memastikan lokasi dan jumlah populasi. “Kalau dalam satu kantong habitat kurang 40 individu, perlu upaya pertemuan jantan dan betina. Perlindungan habitat juga harus ekstra.”

Dengan estimasi  badak sumatera di TNBBS berkisar 17 – 24 individu, Widodo berpendapat, upaya konservasi dengan penerapan IPZ dan IMZ bisa dicoba. “Pengalaman konservasi badak di Taman Nasional Way Kambas dapat dijadikan model pembelajaran,” paparnya.

 

 

 

SUMBER : Mongabay.co.id