Baku Tembak di Taman Nasional Gunung Leuser, Polisi Kehutanan Diteror?

satuan-polisi-kehutanan-reaksi-cepat-sporc-mengikuti-apel-pembukaan-_151118130635-641

Polisi Kehutanan (ilustrasi)

 

REPUBLIKA.CO.ID,  MEDAN — Baku tembak terjadi antara tim Polisi Kehutanan Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (Polhut BBTNGL) dan orang tak dikenal (OTK), Kamis (31/3) malam. Peristiwa yang nyaris menimbulkan korban ini terjadi saat petugas melakukan patroli rutin di dalam kawasan TNGL.

Kepala Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III Stabat, Sapto Aji Prabowo mengatakan, tim tersebut merupakan satu dari lima tim yang berpatroli selama 10-14 hari setiap bulan.

Saat kejadian, tim sedang membuat camp di alur Sei Pinang, Hulu Sungai Besitang, Resort Sei Betung. Lokasi kejadian, lanjut Sapto, merupakan kawasan hutan belantara.

“Lokasinya dekat sungai, jalan kaki sekitar enam sampai tujuh jam dari batas kawasan di Trenggulun,” kata Sapto, Selasa (5/4).

Ia menjelaskan, kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 21.00 WIB. Saat itu, tim melihat tiga orang yang menggunakan headlamp dan meminta mereka mematikannya. Tiba-tiba, kata Sapto, ketiga orang tersebut berteriak ‘mainkan’ lalu menembak dua kali ke arah tim. Tim pun membalas dengan empat kali tembakan.

Saat itu, jarak antara tim patroli dan tiga OTK tersebut sekitar sepuluh meter. Untungnya, tembakan para pelaku mengenai pijakan tanah anggota patroli yang membawa senjata api sehingga tidak ada korban dalam baku tembak tersebut.

“Saat mereka kabur, mereka sempat menembak lagi dua kali, ganti ditembak tim dua kali,” ujar Sapto.

Pascakejadian, tim yang sudah berpatroli selama sembilan hari itu kemudian berpindah camp. Besoknya, setelah berhasil mendapatkan sinyal, tim langsung melapor ke kantor BBTNGL di Medan.

“Kami kemudian turunkan tim backup untuk mencari tambahan bukti. Hasilnya, ditemukan tiga selongsong peluru tapi jenisnya belum dapat dipastikan. Hari ini kami akan melapor ke Polres Stabat,” ujar Sapto.

Terkait ciri-ciri pelaku, Sapto mengaku, tim tersebut tidak melihatnya dengan jelas dan belum bisa menjelaskan dengan detail. “Cuma info dari pemilik perahu tentang siapa yang naik, sudah kami dapati,” ujarnya.

Pihaknya pun berharap kejadian ini dapat ditindaklanjuti dan diselidiki dengan serius oleh pihak kepolisian. “Karena ini merupakan bentuk teror ke petugas Taman Nasional ini,” kata Sapto.

 

SUMBER : REPUBLIKA.CO.ID