Bertemu Januminro, Pejuang Dayak Yang Mengelola ‘Hutan Tahan Api’

Januminro Bunsal, di depan foto kebakaran hutan dan lahan gambut yang terjadi di Desa Tumbang Nusa, Pulang Pisau, Kalimantan Tengah.


Luas kawasan hutan gambut di Kalimantan Tengah itu sekitar 20 hektar. Letaknya kurang dari satu jam dengan kendaraan dari ibu kota Palangkaraya.

Suara burung dan satwa liar langsung terdengar nyaring begitu memasuki hutan gambut dengan pohon-pohon setinggi kurang lebih 10 meter.

Seekor orang utan tampak bergelantungan sambil memakan buah-buahan hutan di pohon. Dari udara, kawasan ini terlihat menonjol, dengan pepohonan hijau, sangat kontras dengan kawasan luas di sekelilingnya yang rusak akibat kebarakan besar hutan dan lahan pada 2015 lalu.

 

Jumpun Pembelom, bagian yang tampak hijau dari udara, sementara bagian di luar kawasan yang rusak akibat kebakaran 2015.

 

Hutan gambut ini dinamakan Jumpun Pambelom, bahasa Dayak yang artinya Hutan Sumber Kehidupan. Pengelolanya, warga setempat, Januminro Bunsal.

“Vegetasi pohon di sini tinggi-tinggi,” kata Januminro menunjuk hutan yang dia kelola sejak kebakaran besar tahun 1997. Janu mulai membeli lahan-lahan rusak akibat kebakaran hutan gambut dan mengelolanya dengan penanaman kembali.

 

Jalan masuk Jumpun Pambelom, bahasa Dayak, yang berarti Hutan Sumber Kehidupan.

 

“Di sana rusak, sebagian besar habis tumbang akibat kebakaran besar tahun 2015 lalu,” tambahnya menunjuk areal di luar Jumpun Pambelom.

“Jumpun Pambelom pada 2015 terbebas dari kebakaran hutan dalan lahan karena kita memiliki sistem pertahanan api dengan mengembangkan sumur bor,” tandas Janu.

“Sumur bor itu fungsinya untuk mensuplair air kalau terjadi kebakaran dan membasahi sekitar batas (hutan) ini,” tambahnya.

 

Menguji coba air dari sumur bor dengan kedalaman minimum 20 meter.

 

Di setiap 100 sampai 150 meter di seputar Jumpun Pambelom, Janu dan timnya menggali sumur-sumur bor dengan kedalaman sedikitnya 20 meter.

Air di sumur bor inilah yang menjadi kunci. Area hutan gambut ini dikelilingi parit-parit. Saat musim hujan seperti saat ini, parit-parit ini penuh dengan air.

“Kalau kemarau lebih dari tiga bulan, parit kosong dan bila terjadi kebakaran kita mengandalkan sumur bor. Sumur bor fungsinya untuk mensuplai air kalau terjadi kebakaran dan membasahi area sekitar batas hutan ini,” jelas Janu.

 

Vital, sistem respons cepat memadamkan api

Akar di lahan gambut yang dapat mencapai kedalaman puluhan meter menyebabkan sulitnya memadamkan kebakaran di areal hutan ini karena bara api yang dapat bertahan lama.

Karenanya, sistem respons cepat bila terlihat adanya titik api, menjadi sesuatu yang sangat vital.

“Seberapa banyak sumur bor tak ada fungsinya kalau tak ada tim yang memfungsikan sumur bor itu,” kata Janu lagi.

Bekerja sama dengan para penduduk desa setempat, ia membentuk tim, yang sepanjang tahun berjaga di posko di depan Jumpun Pembelom untuk menerima laporan bila ada penduduk desa yang melihat titik api.

 

Tim respon cepat kebakaran hutan dan lahan di Desa Tumbang Nusa.

 

“Kalau kita harapkan tim dari luar tak efektif. Melalui sistem respons cepat itulah, api bisa dipadamkan. Kemudian kalau sudah terbakar, bisa berbulan-bulan, bila tidak dipadamkan dia akan terus,” tambahnya lagi.

Desa di seputar Jumpun Pambelom termasuk yang paling parah terkena kebakaran hutan, dengan asap tebal terjadi hampir tiga bulan pada 2015.

Dio, Kepala Desa Tumbang Nusa, termasuk yang merasakan dampak kebakaran hutan ini.

“Tahun 2015 kebakaran sangat hebat, asap luar biasa. Tidak adanya fasilitas seperti sumur bor dan mesin sangat terasa dalam penanganan kebakaran,” tutur Dio.

 

Dio, kepala Desa Tumbang Nusa, salah satu daerah terparah kebakaran hutan pada 2015.

 

 

‘Tak sanggup padamkan api dengan ember’

Di sejumlah desa lain, kawasan yang rentan kebakaran juga banyak terpasang sumur-sumur seperti ini, seperti cerita Siti Neneng yang tinggal di desa Bereng Bengkel.

“Saya lihat sekarang di jalan-jalan ada sumur bor, kalau dulu kan tak ada, mau pakai ember siram api kan tak sanggup. (Dulu) pemadam kebakaran tak bisa masuk, pakai air mana bisa kita,” kata Siti.

Siti -yang kehilangan putri berusia 22 tahun karena gangguan asap tebal pada 2015- mengatakan dia dan penduduk desa lain lebih berwaspada saat melihat titik-titik api dengan langsung memberi laporan ke aparat desa setempat.

siti neneng, desa bereng bengkel, kalimantan tengahSiti Neneng, penduduk desa Bereng Bengkel, menyatakan banyak sumur bor di sekitar desanya.

Januminro sendiri memberikan pelatihan-pelatihan membuat sumur bor dan pentingnya membentuk tim di daerah-daerah rawan kebakaran di Kalimantan dan juga di Riau, Sumatra.

Sadikin, salah seorang warga dari 12 desa di Bukit Batu, Bengkalis, Riau,telah membuat dan menguji sumur bor di desanya.

“Saya telah menguji dengan memompa air dari sumur selama enam jam, dan air keluar dengan ketinggian sampai 10 meter,” kata Sadikin.

Namun hanya ada dua sumur bor di desanya. Dana -untuk pembuatan sumur bor sekitar Rp2 juta dan untuk menggerakkan tim- menjadi ganjalannya.

 

Dana opeasional lewat adopsi pohon

jumpun pambelom, kalimantan tengahAdopsi pohon, program dengan penjualan bibit-bibit pohon dengan hasil yang digunakan untuk dana operasional pembuatan sumur bor dan tim respon cepat.

 

Untuk mengelola Jumpun Pambelom, Janu mengajak masyarakat menanam kembali dengan menjual bibit-bibit melalui media sosial dengan program yang dinamakan adopsi pohon.

Di sepanjang jalan kayu, pohon-pohon hasil adopsi ini diberi nama dari mereka yang membeli bibit-bibit pohon ini.

“Untuk mendukung dana operasional, kita pakai unit kegiatan persemaian, dengan program adopsi pohon … yang ditekankan adalah kewirausahaan untuk para penduduk desa,” kata Janu.

Ia menambahkan usaha kelompok penduduk desa secara mandiri inilah yang masih belum banyak diterapkan karena lebih mengedepankan bantuan dari luar, termasuk pemerintah daerah dan pusat.

Kalimantan Tengah merupakan satu dari tujuh provinsi -selain Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Papua- yang masuk dalam target restorasi gambut yang ditetapkan Presiden Joko Widodo seluas dua juta hektar dalam lima tahun mendatang dalam usaha mencegah kebakaran hutan dan lahan.

Dan Kabupaten Pulang Pisau termasuk sasaran pertama.

Namun Janu masih tetap khawatir.

 

jumpun pambelom, kalimantan tengahJumpun Pembelon sempat dijadikan basis bagi petugas pemadam kebakaran dan berlindungnya satwa liar termasuk orang utan pada 2015.

 

 

Kebakaran tak banyak terjadi pada tahun lalu, dan terbantu dengan banyaknya curah hujan. Namun tahun 2017, musim kering diperkirakan akan lebih panjang.

“Kondisi riil di luar Jumpun Pambelom ini sangat parah sekali, jadi secara umum lima tahun sekali akan terus terbakar terus, dan tidak ada upaya untuk pencegahannya dan kalau sudah terbakar akan sulit dipadamkan.”

“Sumur bor mungkin berkembang tapi tugas kelompok yang belum optimal dengan pengembangan kewirausahaan, konsep ini bisa dikembangkan di tempat lain. Pemda perlu mendukung dulu di tahap awal untuk dana,” tandas Janu.

SUMBER : BBC Indonesia