Dari Hutan Aceh, Jangan Sampai Bencana yang Menghentikan Kita

1

Buku Perjalanan Patroli (Leuser Conservation News/BimHarahap)

Kluet Selatan (LeuserConservationNews) – Satu perahu kayu robin sepanjang 5 meter telah menunggu di bibir sungai Kluet, tepatnya di Desa Kotondarung, Kecamatan Kluet Selatan, Kabupaten Aceh Selatan. sungai dengan lebar lebih kurang 50 meter tersebut tampak deras siang itu. Rencananya, dengan mengikuti jalur sungai inilah satu tim Wildlife Protection Team (WPT) akan masuk ke titik rencana patroli hutan. Tim yang terdiri 5 orang ini akan terombang ambing selama 4 jam dengan perahu kayu selebar badan. setelahnya akan memulai jalur patroli dengan berjalan kaki dan kembali setelah 15 hari kemudian.

Tim yang akan berangkat hari itu adalah Tim Manggamat II. Dipimpin oleh Muammar (45), Ibrahim Nyak Cut (27), Syawaldi (35) dan Saleh (46)  tim ini didampingi oleh satu orang tenaga Pamhut (Pegamanan Hutan), Sofyan (33) dari Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) 6 yang berkantor di Subulussalam. Setiap tim akan bertanggung jawab terhadap 60.000 Hektar kawasan hutan. Kali ini Tim Manggamat II beroperasi di Hutan Lindung di kawasan Hutan Manggamat yang merupakan kawasan hutan berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL).

Muammar menuturkan, kegiatan ini tidak hanya melakukan patroli hutan dari perambahan atau perburuan satwa, namun juga melakukan monitoring pemetaan dan dokumentasi satwa yang ada di dalamnya, sehingga setiap mereka keluar hutan didapatkan gambaran jalur yang mereka lintasi.

Diakui pria yang sudah terjun patroli hutan sejak tahun 2001 ini, medan yang mereka lintasi cukup sulit, sehingga daya jelajah mereka sangat terbatas lebih kurang 5 KM setiap harinya. Pada malam hari mereka akan mendirikan tenda untuk beristirahat. Tidak jarang mereka harus ekstra berhemat karena di beberapa wilayah tidak ditemukan sumber mata air. Bahkan Muammar dan tim  nya pernah tidak makan selama tiga hari karena tersesat.

“Memasuki hutan tentu ada tantangannya, seperti berhadap-hadapan (bertemu) satwa itu sendiri seperti gajah, beruang atau harimau, ada juga tantangan dari diri sendiri. Seperti sakit misalnya, bahkan saya sendiri pernah ditandu turun selama berhari-hari karena sakit saat berada di dalam (hutan).” Ujar Muammar.

Namun, bagi Muammar, masuk hutan telah menjadi panggilan tersendiri, bahkan ia merasa rindu kalau tidak masuk hutan untuk berpatroli. “Apa yang kami lakukan ini semata untuk menjaga hutan aceh dan satwa yang ada di dalamnya, agar kelak nanti anak cucu tetap bisa mengenal satwa yang ada di hutan-hutan aceh, tidak tinggal nama.” Jelasnya.

Muammar berharap, orang semakin paham dan mengerti untuk menjaga hutan, selain untuk kelestariannya juga untuk menjaga dari ancaman bencana yang pada akhirnya berdampak kepada manusia. “Saatnya kita sadar, jangan lagi merambah apalagi berburu satwa dilindungi, ini semua demi kepentingan anak cucu kita, alihkan pada pekerjaan lain. Jangan sampai bencana yang menghentikan kita,” himbau muammar

3

Tim Manggamat II Wildlife Protection Team (WPT) Konsorsium Haka-FKL (LeuserConservationNews/BimHarahap)

Hal senada diungkapkan Ibrahim Nyak Cut (27), menjaga hutan Aceh telah menjadi panggilan yang harus ia jawab dengan tindakan nyata, Anggota tim WPT paling muda ini menganggap hutan aceh telah menjadi rumah bagi dirinya. Sehingga kesadaran untuk menjaga telah muncul  dengan sendirinya.

“Saya terlanjur jatuh cinta dengan hutan, dengan satwa yang ada didalamnya. Yang bisa saya lakukan ya seperti ini dengan menyumbangkan tenaga dan pikiran saya, bagaimana hutan dan satwa yang ada didalamnya tetap bisa terjaga. Lebih baik kita jaga sekarang sebelum menyesal nanti ada bencana melanda,” tutur pria dua anak ini.

Profesi yang ia lakoni sejak tahun 2006 silam ini telah mengajarkan banyak hal pada Ibrahim Nyak Cut, Bagaimana hidup berdampingan dengan alam dan penguhuninya. Menurut pria yang berasal dari Desa Jambur Dalim, Trumon Timor ini, sangat aneh masih saja ada orang yang mau merusak hutan, menangkap satwa dilindungi. Padahal, keberadaan mereka tidak menggangu manusia.

“Merusak hutan sama dengan merusak diri kita sendiri, dampaknya adalah bencana, misalnya saja adalah bencana kekeringan atau bahkan banjir, ini kita yang merasakan nantinya, kalau tidak kita yah anak atau cucu kita kelak,” ujarnya.

Disinggung mengenai tantangan berpatroli di hutan selama 15 hari setiap bulannya, Ibrahim mengatakan tantangan paling berat adalah saat menemui adanya bekas hutan yang dirambah, atau bertemu para pemburu satwa. “Tantangannya lebih kepada diri sendiri, kita kesal dan kecewa melihat hutan yang rusak akibat perambahan liar, kita sudah berjalan berhari-hari untuk menjaga, tapi tetap saja ada yang merusak,” kata Ibrahim.

6

Menyusuri Sungai Menuju Titik Awal Patroli (LeuserConservationNews/BimHarahap)

Menurut Koordinator Pendidikan dan Pemberdayaan Konsorsium Haka-FKL, Dedi Yansyah, Program patroli dan monitoring hutan ini merupakan salah satu program Konsorsium antara Yayasan Hutan Alam dan lingkungan Aceh (Haka) dan Forum Konservasi Leuser (FKL) kerjasama dengan Tropical Forest Conservation Action (TFCA) Sumatera. Program ini kata Dedi telah berjalan selama satu tahun. Tujuaannya adalah untuk melindungi hutan aceh dari tangan-tangan orang yang tidak bertanggung jawab termasuk habitat yang ada di dalamnya.

Sejauh ini program tersebut kata Dedi sudah cukup efektif, beberapa kali timnya menurunkan para pemburu dan juga menemukan lokasi perambahan. Setiap temuan di lapangan kata Dedi akan dikordinasikan dengan instansi terkait. Namun kegiatan ini kata Dedi perlu diperkuat, karena saat ini pihaknya menilai masih butuh penambahan tim agar kegiatan patroli ini dapat berjalan lebih maksimal.

“Patroli ini sangat diperlukan, ada beberapa temuan yang membuat kita sangat prihatin, misalnya di beberapa wilayah yang dahulunya sebagai habitat gajah, sejak setahun terakhir tdak pernah kita temukan lagi gajah di sana, ini memang perlu dipelajari lebih lanjut. Kegiatan Patroli ini juga akan kami publikasikan secara luas, tujuannya memberi pemahaman kepada masyarakat dan juga mendorong respons multipihak terkait kenapa kita harus melakukan kegiatan ini dan apa dampaknya ketika kita biarkan,” ujar Dedi.

img_7252

Menyusuri Sungai Menuju Titik Awal Patroli (LeuserConservationNews/BimHarahap)

Sementara Itu, Sekretaris KPH 6, Hamdan saat ditemui di kantornya Di Subulussalam mengapresiasi kegiatan Konsorsium Haka-FKL tersebut. Menurutnya sepanjang adanya kerjasama ini pihaknya merasa terbantu terutama dalam kegiatan patroli hutan.  Ke depan Hamdan berharap kolaborasi kemitraaan seperti ini terus ditingkatkan agar semakin banyak upaya yang dapat dilakukan dalam menjaga kawasan hutan.

“Selama ini selalu ada kendala patroli misalnya dari sisi anggaran yang tidak maksimal untuk berpatroli rutin, sekaran hal ini terbantu dan kita dapat rutin melakukan patroli bersama. Sehinga temuan di lapangan dapat dicegah dan diproses dengan lebih cepat.” Ujarnya

 (LeuserConservationNews/BimHarahap)