Dibutuhkan Terobosan untuk Pelestarian Harimau Sumatera

Harimau Sumatera (Phantera tigris sumatrae) adalah salah satu jenis harimau yang masih tersisa di dunia dengan jumlah populasi globalnya diperkirakan tak lebih dari 3.871 individu. Di Pulau Sumatera sendiri, besaran populasi Harimau Sumatera diperkirakan tersisa 371 individu yang tersebar dari Aceh hingga Lampung.

Jumlah besaran populasi Harimau Sumatera kian terancam, ancaman kepunahannya pun sudah parah, akibat terus berkurangnya dan terfragmentasinya habitat mereka di Pulau Sumatera. Selain itu, Harimau Sumatera juga menjadi satwa yang rawan perburuan dan perdagangan karena dinilai memiliki ekonomi tinggi.

World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia mencatat dalam kurun waktu 2010 – 2014 terjadi kematian sejumlah 19 individu karena kematian alamiah, konflik dengan manusia maupun perburuan.

Itu sebabnya, upaya untuk meningkatkan populasi harimau ini menjadi fokus dalam peringatan Global Tiger Day 2016 yang jatuh setiap 29 Juli.

Dikhawatirkan, apabila tidak ada tindakan nyata dalam pelestariannya, diperkirakan dunia akan kehilangan seluruh populasi harimau dalam kurun waktu lima tahun ke depan. Kekhawatiran ini cukup beralasan, mengingat begitu kompleksnya permasalahan pelestarian Harimau Sumatera.

Kendati demikian, bentuk penyelamatan bisa dilakukan berbagai upaya. Hanya saja yang paling urgen saat ini adalah penyadaran terhadap masyarakat secara utuh, terkait aksi perlindungan dan konservasi Harimau Sumatera.

Karena pada dasarnya, pokok permasalahan hampir seluruhnya datang dari manusia. Misal, tingginya perburuan hewan termasuk Harimau Sumatera, tidak lain didasari tingginya permintaan pasar terhadap bagian-bagian tubuh hewan yang khas dengan warna loreng tersebut.

Menurut hasil data kompilasi Wildlife Conservation Society – Indonesia Program (WCS-IP), Fauna & Flora International (FFI), Zoological Society of London (ZSL), dan Ditjen Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengungkap (KLHK) dalam kurun 3 tahun terakhir (hingga Juni 2016), sedikitnya ada 58 ekor Harimau Sumatera yang sudah diperdagangkan di pasar gelap.

Dari 58 harimau tersebut, 2 ekor berupa harimau hidup, 14 harimau yang diawetkan, 13 lembar kulit utuh, 70 buah taring harimau dan 8 buah tulang harimau serta bentuk lainnya. Dari hasil investigasi, disimpulkan Harimau Sumatera adalah komoditas utama pasar gelap, yang permintaannya sangat tinggi, baik di domestik maupun internasional. ima/R-1

Gerakan Penyadaran

Dalam acara peringatan Global Tiger Day 2016 yang digelar di Atrium Senayan City, Jakarta, pekan lalu, WWF-Indonesia coba menggugah kepedulian publik akan populasi dan konservasi Harimau Sumatra. Sederet public figure, seperti Daniel Mananta, Nadine Chandrawinata, Marcel Chandrawinata, Ayu Dewi, Melly Goeslow, Nugie, Chicco Jerikho, Arifin Putra, Wulan Guritno terlihat ikut mendukung upaya pelestarian ini.

“Harusnya kita yang menjaga hewanhewan yang tidak bisa bersuara seperti kita, yang tidak bisa menunjukkan perasaan seperti kita,” terang Nadine Chandrawinata.

Dirinya mengaku sedih lantaran Indonesia memiliki banyak jenis Harimau. Namun sebagian jenis sudah punah. ”Harimau Bali dan Jawa sudah punah, tinggal Harimau Sumatera. Namun, karena alam yang dirusak manusia, populasinya semakin hari semakin berkurang. Keadaan ini sangat miris, karena seharusnya ini adalah kebanggaan kita, tapi kok malah kita sendiri yang menghancurkannya,” sambungnya.

2

Koran Jakarta/Imantoko

Sementara itu,Chicco Jerikho memiliki pandangan lain terkait habitat Harimau Sumatera yang dinilainya cukup memprihatinkan. Menurutknya berbagai tindakan bisa dilakukan tanpa harus melakukan aksi langsung ke hutan. “Dengan mengurangi pemakaian kertas saja, kita bisa ikut mencegah penebangan pohon yang jadi rumah harimau itu sendiri,” katanya.

Lebih lanjut laju kerusakan hutan juga salah satu sumber permasalahan tersulit dalam aksi penyelamatan Harimau Sumatera. Sunarto, ekolog satwa liar dari WWFIndonesia menjelaskan kepada Koran Jakarta, kerusakan hutan di Sumatera masih relatif tinggi. Fatalnya lagi rumah dari satwa liar kini banyak beralih menjadi lahan perkebunan kelapa sawit hingga kawasan industri.

3

Koran Jakarta/Imantoko

“Contohnya seperti Riau. Dari 25 tahun terakhir, sampai 2007, lebih dari 70 persen hutan hilang, yang kebanyakan dikonversi menjadi lahan kelapa sawit atau area perindustrian,” jelasnya.

Padahal, lanjut Sunarto, lahan yang beralih fungsi tersebut rata-rata bertanah datar, sangat digemari banyak satwa untuk hidup, tak terkecuali harimau. “Harimau kerap menjadikan lokasi tersebut ladang makanan,” sambung Sunarto.  ima/R-1

Butuh Penguatan

Selain tuntutan kesadaran masyarakat, pelestarian habitat harimau, perlu juga upaya penguatan payung hukum, dan dukungan terhadap perlindungan dan konservasi Harimau Sumatera.

Pada sisi pengawasan dan penelitian, lanjut Sunarto, untuk mengetahui populasi Harimau Sumatera menggunakan camera trap. “Dengan camera trap itu, ada metode yang namanya capture-recapture. Nanti dari situ bisa diestimasi berapa populasi harimau yang ada di satu wilayah,” jelas Sunarto.

5

Hanya saja untuk jumlah camera trap belum memadai. “Pemerintah juga punya, tapi jumlahnya juga masih kurang. Idealnya, misalnya kita memiliki 1.000 harimau, itu bagusnya dihitung dua kali lipatnya. Di satu penempatan bagusnya ada dua kamera (berpasangan) guna menangkap bagian kanan dan kiri badan harimau, karena tiap sisi coraknya berbeda. Jadi tingkat akurasinya tinggi, karena bisa langsung dibandingkan apakah itu harimau yang sama atau bukan pada camera trap lainnya,” jelas Sunarto.

Selain itu sokongan dana juga tidak kalah penting, untuk monitoring saja Sunarto menjelaskan WWF-Indoneisa bisa mengeluarkan anggaran sebesar dua miliar rupiah dalam setahun. “Itu hitungan kasar, meskipun kebutuhan tersebut bisa lebih, seiring banyak wilayah yang kita tangani,” jelasnya.

Dari sisi regulasi, UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya juga sudah dikenal sangat usang. Dirjen Penegakan Hukum KLHK, Rasio Ridho menjelaskan dalam revisi UU tersebut nanti, juga akan mengupayakan meningkatkan hukuman maksimal dan minimal.

6

Efek jera terhadap pelaku kejahatan satwa liar ini terhitung rendah, menurut data WCS rata-rata pelaku perburuan dan perdagangan ilegal satwa liar hanya divonis beberapa bulan hingga 2,5 tahun penjara. Baru ada satu pelaku perdagangan Harimau Sumatera yang diganjar hukuman berat yaitu 4 tahun penjara dengan denda 60 juta rupiah, subsider 3 bulan penjara, di Bengkulu awal Juli.

Selain itu, KLHK juga mengupayakan adanya peningkatan personel polisi hutan. Saat ini, hanya ada 8 ribu personel yang bertugas menjaga 120 juta hektar hutan konservasi Indonesia. “Minimal 3 kali lipatnya lah. Sudah kami ajukan ke KemenPAN/RB,” tandas Rasio. ima/R-1

 

SUMBER : Koran-jakarta.com