Ini Alasan Kehati Kembangkan Ekowisata

No comment 164 views
Ekowisata penting bagi kelanjutan hayati. (Ilustrasi: TimurNusantara)

JAKARTA – Ekowisata menjadi solusi dalam upaya pemeliharaan sekaligus pemanfaatan keanekaragaman hayati dengan tetap memegang aspek kelestariannya.

Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia ( Kehati) mengatakan kaitannya adanya ‘biodiversity’, ekowisata, konservasi adalah kelestarian lingkungan. Dengan ekowisata yang melibatkan masyarakat setempat lingkungan pasti akan dijaga untuk memastikan ekowisata itu bisa tetap berjalan.

Direktur Eksekutif Kehati M S Sembiring di diskusi pojok iklim di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), menjelaskan, Indonesia memiliki sekitar 90 tipe ekosistem, yang terbesar di ekosistem pegunungan, hutan daratan rendah, ekosistem pesisir dan laut hingga ekosistem savana. Keberadaannya tentu harus dipelihara dan dimanfaatkan dengan tepat dengan memperhatikan aspek kelestariannya.

Keanekaragaman hayati Indonesia tersebut, lanjutnya, dalam bentuk 35 spesies primata, 515 mamalia, 515 reptilia, 531 spesies burung, 270 amfibi, serta kekayaan jenis tumbuhan di Indonesia yang mencapai lebih dari 38.000 jenis.

“Kita memang sangat kaya akan sumber daya biodiversitas. Dan ekowisata adalah Salah satu bentuk implementasi yang ideal, untuk menjaga sekaligus memanfaatkannya secara lestari,” tutur Sembiring, Rabu (31/05/2017).

Menurut Sembiring, dengan cara itu masyarakat lokal menjadi pelaku utama, sekaligus dapat menerima manfaatnya secara langsung tanpa harus merusak. Pemanfaatan keanekaragaman hayati untuk sektor pariwisata berkelanjutan juga sejalan dengan poin-poin yang terkandung dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), terutama poin 8, 12 dan 14.

Ukuran pariwisata berkelanjutan tidak hanya sekedar menambah pemasukan masyarakat tapi memastikan agar lingkungan dan keunikan daerah setempat tetap dijaga. Potensi untuk bisa melakukan itu, menurut dia, ekowisata berkelanjutan.

Pulau Maratua di Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur, menurut dia, bisa menjadi salah satu contoh pengembangan ekowisata yang dikembangkan bersama masyarakat yang bisa diduplikasi ke daerah lain.

Pengembangan wisata yang berkesinambungan memperkuat ekowisata di harus tetap ada hingga mampu berkembang seperti Bali dengan menonjolkan maupun menciptakan sesuatu yang baru, contohnya pementasan Tari Kecak seharga Rp70.000 per orang, yang bisa diunggulkan dalam pengembangan wisata di lokasi lain seperti Maratua.

 

 SUMBER: NETRALNEWS.COM