Joel Sartore: Pria Yang Membuat Studio Foto Untuk Binatang Yang Terancam Punah

Fotografer satwa Amerika, Joel Sartore, berupaya menyelamatkan binatang langka dengan membuat kita semua jatuh cinta dengan binatang-binatang ini melalui foto.

Joel Sartore telah menjadi fotografer satwa liar di National Geographic selama 15 tahun sampai saat istrinya, Kathy, didiagnosa kanker. Dengan tiga anak yang masih kecil, ia mengambil satu tahun cuti untuk merawat istrinya yang harus menjalani kemoterapi dan radiasi.

Selama cuti dan tidak berkeliling dunia, Sartore melihat ulang karya-karyanya.

 

 

coquerelHak atas fotoJOEL SARTORE/NATIONAL GEOGRAPHIC PHOTO ARKImage captionCoquerel sifaka (Propithecus coquereli), Kebun Binatang Houston, Houston, Texas.

 

 

“Artikel di majalah datang dan pergi,” katanya.

“Namun nasib binatang langka tetap belum membaik jadi saya merasa saya harus berbuat sesuatu. “Jawabannya muncul saat ia mengambil foto tikus di kebun binatang anak-anak di dekat kediamannya, di Lincoln, Nebraska.

Ia memutuskan untuk meletakkan tikus dengan latar belakang kardus putih yang ia temukan di dapur kebun binatang. Hasilnya seperti foto studio profesional.

 

 

 

tikusHak atas fotoJOEL SARTORE/NATIONAL GEOGRAPHIC PHOTO ARKImage captionTikus damaraland mole (Fukomys damarensis) Houston Zoo, Houston, Texas.

 

 

“Saya pikir bila saya lebih fokus dan tidak ada gangguan dan membuat latar kardus hitam putih, dan tikus ini bisa terlihat besar dan menakjubkan seperti gajah, maka perhatian publik akan lebih terbawa ke spesies yang terancam dan hampir punah,” tambahnya.

Setelah istrinya sembuh, Sartore pergi ke kebun binatang-kebun binatang lain untuk mengambil foto-foto satwa.

Para staf kebun binatang membantu membuat latar belakang pemotretan yang dapat dicat hitam atau putih dan meninggalkan makanan.

“Binatang-binatang ini mengira akan masuk untuk dapat makanan namun juga diambil fotonya,” kata Sartore.

 

 

 

unggasHak atas fotoJOEL SARTORE/NATIONAL GEOGRAPHIC PHOTO ARKImage captionCurl-crested araçari (Pteroglossus beauharnaesii) Dallas World Aquarium, Texas.

 

 

Proyek ini mendapatkan perhatian dari National Geographic – yang meminta Sartore mengambil serangkaian foto amfibi dan spesies langka Amerika.

Sartore mulai keliling dunia dengan berbagai ukuran tenda untuk memotret binatang yang lebih kecil seperti burung dan kadal. Untuk binatang yang lebih besar ia tetap mengandalkan kebun binatang sebagai lingkungan yang lebih aman.

 

 

 

joel sartoreHak atas fotoJOEL SARTORE/NATIONAL GEOGRAPHIC PHOTO ARKImage caption“Binatang ini paling manis. Dia memberikan semua bahasa tubuh dan ekspresi wajah selama foto. Saya ingat dia juga selalu makan selama dipotret,” kata Joel.

 

 

“Sebagian besar binatang yang saya foto lahir di penangkaran dan perawat binatang ini tahu bagaimana mengendalikan binatang ini,” katanya.

“Sesekali binatang yang saya potret sedikit agresif namun sebagian besar pemotretan berjalan lancar.”

Ia telah memfoto lebih dari 6.000 spesies di 40 negara. Proyek ini berkembang menjadi The National Geographic Photo Ark dan foto-fotonya digunakan sebagai sampul depan majalah National Geographic dan telah diproyeksikan ke gedung-gedung, termasuk gedung PBB dan Empire State di New York serta di Vatikan.

 

 

 

Kodok Hak atas fotoEMPICSImage captionKodok “Toughie” di Vatican.

 

 

Sebagian binatang yang difoto dalam Photo Ark sudah diambang punah.

Tahun lalu, Sartore memotret Toughie, satu-satunya kodok pohon jenis Rabbs’ fringe-limbed. Toughie ditemukan di Panama pada 2005 oleh pegiat lingkungan yang berupaya menyelamatkan amfibi dari chytrid fungus, penyakit kulit dengan tingkat kematian 100% pada kodok.

Toughie dibawa ke Atlanta Botanical Gardens di Georgia dan disatukan dengan kodok betina. Namun tak ada kecebong yang hidup.

Sartore memotret Toughie sebelum kodok ini mati pada Setempber 2016.

 

 

 

trenggilingHak atas fotoJOEL SARTORE/NATIONAL GEOGRAPHIC PHOTO ARKImage captionTenggiling pohon Afrika, African White-Bellied Tree Pangolin (Phataginus tricuspis) Pangolin Conservation, St. Augustine, Florida.

 

 

“Saya selalu membicarakan tentang Toughie setiap kali saya presentasi karena dari pada saya depresi karena spesies ini di ambang punah, saya ingin menggunakan ceritanya agar orang lain juga menyadari,” katanya.

Sartore juga memotret salah satu dari hanya sedikit badak putih yang masih hidup di kebun binatang Ceko.

“Kami memotretnya tepat waktu. Foto yang sangat bagus sebelum badak ini tidur. Badak tidur banyak sebelum mati,” tambahnya. Badak yang dinamakan Nabire mati seminggu kemudian.

 

 

 

kura-kuraHak atas fotoJOEL SARTORE/NATIONAL GEOGRAPHIC PHOTO ARKImage captionKura-kura jenis snake-necked turtle (Chelodina reimanni) di kebun binatang Atlanta Zoo, Atlanta.

 

 

Setelah kematian Nabire dan kemudian badak putih lain di San Diego, hanya tinggal tiga badak di Kenya dan dijaga ketat. Badak-badak ini terlalu tua untuk berkembang biak dan para pegiat berupaya menciptakan embrio melalui tabung.

 

 

 

simpanseHak atas fotoJOEL SARTORE/NATIONAL GEOGRAPHIC PHOTO ARKImage captionBayi simpanse berusia tiga bulan di Kebun Binatang Lowry Park, Tampa, Florida.

 

 

Sartore berharap proyeknya akan mendokumentasikan 12.000 spesies dan menjadi sumber bagi generasi mendatang. Ia juga berharap proyek ini dapat mencegah punahnya spesies seperti Toughie.

“Paling tidak 75-80% spesies yang saya foto dapat diselamatkan dari kepunahan, namun orang perlu tahu bahwa binatang ini pernah ada dan mereka perlu jatuh cinta dengan mereka sehingga dapat membantu kelangsungkan hidup mereka,” katanya.

Sartore mengatakan kesadaran menyelamatkan binatang besar seperti beruang salju dan harimau sudah terlihat namun binatang yang lebih kecil seperti tikus, kodok dan kelelawar masih belum cukup.

 

 

 

rubahHak atas fotoJOEL SARTORE/NATIONAL GEOGRAPHIC PHOTO ARKImage captionRubah Fennec (Vulpes zerda) St. Louis Zoo, Missouri.

 

“Tujuan dari Photo Ark adalah merayakan semua makhluk besar dan kecil dan memberitahu orang bahwa spesies ini terancam punah.”

“Merupakan kepentingan manusia untuk tidak membuang semua yang tercipta dan menjaga planet agar tetap sehat.”

 

 

SUMBER : BBC indonesia