Ketika Air Menjadi Cahaya…

No comment 156 views
BENDUNGAN PLTA: Bendungan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Sungai Aek Nador yang dibangun warga atas bantuan dari TFCA Sumatera-Petra di Dusun Aek Matio. Dari bendungan itu, mesin turbin mampu menghasilkan 10.000 watt listrik yang mengalir ke rumah penduduk.

 


ANAK Sungai Aek Nador mengalir deras di antara cadasnya batu kali. Keli­lingnya  pohon kemenyan. Hulu­nya tenang terbendung beton dari 700 sak semen. Seorang penjaga memutar tuas pembuka, mengalirkan air, masuk dari atas pipa baja yang melintang ke bawah. Pipa itu terhubung pada sebuah mesin turbin: mengubah air menjadi listrik; menjadi cahaya.

Sejak Indonesia merdeka, baru tiga tahun 134 jiwa  masyarakat Dusun Aek Matio, Desa Adiankoting, Keca­matan Adiankoting, Kabupaten Ta­panuli Utara, merasakan terangnya membaca di bawah sinar lampu. Me­nikmati hiburan dari perangkat elek­tronik dan tak lagi menanak nasi de­ngan kayu bakar. “Sekarang semua ser­ba mudah,” kata seorang warga Dusun Aek Matio, Panggabean, sum­ringah.

Ia bercerita, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) bantuan hibah Tropical Forest Conservation Action (TFCA) Sumatera-Perkumpulan Pe­ngembangan Partisipasi untuk Rakyat (Petra) itu sangat bermanfaat.  Di­bangun 2014 atas swadaya masya­rakat, kini  27 KK di dusun itu teraliri listrik berkapasitas 10.000 watt.

“Lebih dari cukup untuk bisa digunakan seharian,” ujar suami br Hutagalung ini. Hadirnya listrik di dusun itu pantas disambut sukacita oleh masyarakat. Pasalnya perjuangan mereka tidaklah mudah. Bolak-balik masyarakat meminta listrik ke PLN, namun selalu menemukan jalan buntu.

Tak ada listrik. Tak ada kehidupan. Di tengah keputusasaan itu, LSM Petra membawa  harapan: TFCA-Sumatera  bersedia membantu  pembuatan PLTA. Tapi bantuan  hanya berupa dana, pe­nger­jaannya masyarakat sendiri yang harus berswadaya.

Raja Panggabean kemudian me­ngum­pulkan warga. Mereka sepakat bergotong royong, tanpa upah, bahkan harus meninggalkan ladang pencarian nafkah demi membangun PLTA ter­sebut. Tim ahli kemudian didatang­kan. Pekerjaan pun dilakukan.

Panggabean ingat betul bagaimana warga menapaki jalan sempit yang terjal untuk mengangkut beratus-ratus sak semen di atas pundak mereka. Jalan itu berkalang tanah,  satu sisinya hutan meranggas, jurang bebatuan di sisi lainnya. “Terpeleset sedikit nyawa jadi taruhan. Tapi syukur tak ada warga yang terluka. 700 sak semen itu kini jadi bendungan,” kata Panggabean.

PLTA berfungsi dengan baik. Kabel  membentang 200 meter menyangkut dari kayu-kayu pengganti tiang listrik. Mengalir ke tiap rumah, membawa cahaya kehidupan bagi warga sekitar. “Kini tinggal bagaimana warga merawatnya,” kata Direktur LSM Petra Effendi Siregar.

 

Merawat sungai

Dari hanya sebuah anak sungai, Aek Nador berubah  menjadi nadi kehidup­an warga Aek Matio. Bila hutan dite­bang, ekosistem air terganggu, listrik akan padam. Karenanya warga sepakat menjadikan Sungai Aek Nador sebagai lubuk larangan. Siapa yang menjala ikan dan membuang sampah di sungai itu akan dikenai hukuman adat: denda sampai pengusiran.

“Akhirnya mau tak mau, suka atau tidak, warga menjaga keasrian ling­kungannya, dan pemahaman serta kesa­daran itu telah tumbuh di masya­rakat sekitar,” kata Effendi yang  datang meninjau PLTA bersama rombongan dari TFCA-Sumatera, Tony, Jery Irmansyah, Hamdan dan Bim Harahap, perwakilan USAID Scott Lampman serta Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Benhur A Simamora.

Listrik terjaga karena ada air. Air terjaga karena ada listrik. Begitulah kini warga Aek Matio memaknai peles­tarian lingkungan di wilayahnya. Perwakilan TFCA-Suma­tera, Jery Irmansyah mengakui orientasi pelestarian ling­kungan memang dalam beberapa tahun belakangan berubah.

Dari sekadar kampanye dan imbauan, program dija­lankan melalui intervensi yang memberi kebermanfaatan bagi masyarakat. Masyarakat sejahtera, hutan lestari. “Kalau sudah begitu tidak susah menyuruh warga menjaga hutan dan lingkungannya. Program Aek Matio ini akan menjadi proyek percontohan. Tidak hanya untuk Indonesia, tapi juga akan dibawa ke luar negeri,” ujar Jery.

Desa Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara itu sendiri dikelilingi hutan belantara dengan beraneka ragam fauna di dalamnya. Khusus di Aek Matio, selain aliran sungai yang jernih di sekelilingnya, menjulang pohon kemenyan milik warga adat yang mendiami wilayah tersebut.

Sebelum ada PLTA, pohon-pohon kemenyan itu kerap ditumbangi. Kayunya dijadikan rumah, kemenyan dijual.  Lahan bekas pohon kemenyan dijadikan pemukiman.

Tapi itu dahulu. Sekarang, ketika air menjadi listrik; menjadi cahaya. “Siapa yang menebang pohon akan kami tangkap!” kata Raja Panggabean yang disambut sorak sorai warga Dusun Aek Matio yang ramah dan bersahaja itu.

SUMBER : Analisadaily.com