Ketika Orangutan Bersekolah…

No comment 94 views
Foto karya Andrew Suryono yang masuk dalam daftar pemenang lomba foto Natonal Geographics(Andrew Suryono)

JAKARTA – Yeni (33) dengan telaten menjaga bayiorangutan berusia delapan bulan bernama Gonda. Beberapa kali Gonda mencoba bergelayut pada batang pohon, hingga akhirnya tangan Gonda mendekap Yeni erat.

Tak berapa lama, Yeni tampak memasukkan daun ke mulutnya sendiri, Gonda yang melihatnya perlahan memakan daun yang sama dan mengunyahnya.
Di samping Yeni dan Gonda ada juga Tegar, bayi orangutan berusia satu tahun bersama pengasuhnya yang duduk di hammock yang telah dilapisi daun dan ranting oleh. Mereka duduk bersama tak lama Tegar tampak mengantuk dan tidur.
“Ini cara mengajarkan orangutan untuk membuat sarang. Biasanya orangutan membuat sarang di atas pohon, tetapi karena keterbatasan kami sebagai manusia jadi sarang dibuat dengan hammock,” kata pengasuh orangutan di Balai Litbang dan Teknologi Konservasi Sumber Daya Alam Samboja bekerja sama dengan Yayasan Jejak Pulang, Aolia (25), Kalimantan Timur, Kamis (5/10/2017).
Yeni dan Aolia berperan sebagai pengasuh, menggantikan ibu asli dari bayi orangutan yang mati atau terpisah dari anaknya. Seperti Gonda, dikisahkan Aolia ditemukan di sebelah mayat induknya oleh warga dan kemudian dirawat selayaknya bayi manusia.
Meski bermaksud baik, perilaku menyamakan orangutan dengan manusia membuat Gonda cenderung lebih sulit belajar di sekolah orangutan daripada Tegar yang cukup lama hidup bersama induknya.
Bayi orangutan dan induknya sejatinya sulit terpisahkan, karena bayi orangutan bergantung hidup dan belajar langsung dari induknya hingga usia delapan tahun.
Ada banyak sebab mengapa induk orangutan dan bayinya terpisah. Namun perburuan dan orangutan yang dianggap hama dari kebun kelapa sawit kerap jadi penyebabnya.
Upaya rehabilitasi
Gonda bersama lima orangutan lain saat ini dirawat oleh Balitek KSDA Samboja yang berlokasi di Samboja, Kalimantan Timur. Satu-satunya pusat penelitian dan rehabilitasi orangutan dari negara.
Di sana Gonda diajarkan kemampuan agar dapat bertahan hidup di habitat aslinya. Seperti mengenal, menemukan, dan memproses pakan, memanjat pohon, membuat sarang, bersosialisasi dengan orangutan lain, serta mengenal bahaya.
“Tahun 2017 dibangun pusat penelitian orangutan di Sanboja ini. Hasil riset akan digunakan untuk proses rehabilitasi dan reintroduksi,” kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur, Sunandar Trigunajasa saat ditemui di acara press tour di OrangutanResearch Centre, Samboja, Kalimantan Timur, Kamis (5/10/2017).

Sekolah orangutan di Balitek KSDA, Samboja, Kalimantan TimurSekolah orangutan di Balitek KSDA, Samboja, Kalimantan Timur(Kompas.com/Silvita Agmasari)
Balitek KSDA, di bawah Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang bekerja sama dengan Yayasan Jejak Pulang terbilang penting. Sebab menurut Sunandar, hasil penelitian akan disalurkan untuk menyesuaikan metode, SOP, dan regulasi terkait orangutan langsung ke pemerintah.
Total ada 123,9 hektar area penelitian orangutan di Balitek KSDA Samboja yang secara tak langsung juga berfungsi untuk menjaga keutuhan hutan dan menyerap kerja masyarakat sekitar.
Gonda dan lima orangutan lainnya masing-masing diasuh oleh pengasuh yang berperan sebagai induk orangutan. Layaknya manusia, orangutan juga memiliki kelas khusus. Namun yang berbeda kelasnya di alam dan ajarannya bukan untuk memanusiakan orangutan.
Sebaliknya kelas disekolah orangutan ini ada untuk mempersiapkan orangutan untuk dilepasliarkan ke habitatnya. Di sini, orangutan juga akan diperiksa kesehatan secara rutin.
Tiap orangutan akan diamati perkembangan kemampuan yang kemudian disesuaikan dengan tingkatan kelas. Jika penilaian sudah baik, orangutan yang dirasa telah kompeten bertahan hidup di alam bebas maka akan dilepas. Inilah saat Yeni, Aolia melepas orangutan asuh.
“Saya pernah menyaksikkan saat melepas orangutan. Rasanya seperti melihat anak sendiri, senang campur haru. Mungkin rasanya seperti melihat anak yang lulus kuliah, sudah sukses belajar dan siap dilepas,” kata Aolia.
Sampai saatnya tiba, ia yakin akan bahagia melihat Gonda, Tegar, dan orangutan lain dilepas ke habitat aslinya, hutan Kalimantan.