Kisah “Kaban Mayas” Bertahan dari Gempuran Penebang Hutan

KAPUAS HULU, KOMPAS.com – Warga Dusun Meliau di pedalaman Kalimantan tidak tergiur gempuran iming-iming keuntungan dari merambah hutan. Mereka memilih kembali hidup selaras dengan alam.

Masyarakat Meliau yang berada di Desa Melemba, Kecamatan Batang Lupar, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat itu mempraktikkan pola perekonomian yang ramah lingkungan meski keuntungan mereka tidak sebesar yang diharapkan.

Pada Senin (30/5/2016) lalu, Kompas.com mengunjungi Dusun Meliau atas undangan World Wild Fund (WWF) Indonesia Program Kalimantan Barat untuk melihat bagaimana masyarakat berusaha membangun kesejahteraan ekonomi yang lebih ramah lingkungan melalui program ekowisata.

Untuk sampai di Dusun Meliau, kami harus menggunakan speed boat dari kota Lanjak, Kecamatan Batang Lupar.

Kristian Erdianto/Kompas.comPerjalanan membelah Danau Sentarum menuju Dusun Meliau, Desa Melemba.

Dusun Meliau terletak di pinggiran Sungai Leboyan. Satu-satunya cara sampai ke sana adalah dengan menyeberangi kawasan Taman Nasional Danau Sentarum selama hampir 2 jam.

Selama perjalanan, kami disuguhkan pemandangan khas perkampungan nelayan yang terletak di pinggiran sungai.

Umumnya mereka hidup dari menangkap ikan di beberapa anak sungai dan Danau Sentarum. Sebagian lagi, misalnya masyarakat Kampung Semangit, juga mengandalkan hidup dari hasil hutan seperti madu. (baca: Menengok Kampung Semangit, Berdikari dengan Ekonomi Hijau)

Perangkap ikan tradisional pun terhampar sepanjang sungai yang menjadi koridor Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) dan Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS).

Di kejauhan tampak hamparan perbukitan yang menghijau. Setelah menyeberangi Danau Sentarum dan mengarungi sebagian daerah aliran Sungai Leboyan, akhirnya kami sampai di Dusun Meliau pada sore hari.

Hermas Rintik Maring dari Divisi Ecotourism Development dan Jimmy Syahirsyah, Technical Support Unit Leader WWF Indonesia program Kalimantan barat mengantar menuju Rumah Betang yang dihuni oleh beberapa keluarga dari suku Dayak Iban.

Ternyata, selain sebagai tempat tinggal masyarakat Dayak Iban, rumah tersebut juga diperuntukkan sebagai guest house bagi tamu-tamu yang datang ke Meliau.

Kristian Erdianto/Kompas.comSuasana di dalam Rumah Betang, rumah adat masyarakat Dayak Iban di Dusun Meliau.

Rumah Betang atau masyarakat Dayak Iban menyebutnya Rumah Panjay, yang berarti panjang, membentang sepanjang 150 meter.

Seluruh bagian rumah terbuat dari kayu, terletak di pinggiran sungai Leboyan. Rumah itu terdiri dari 15 bilik, 1 bilik panjangnya 10 meter dan biasanya dihuni oleh satu keluarga.

Kaban Mayas

Di dalam Rumah Betang, kami disambut oleh Sodik Asmoro koordinator Kelompok Pengelola Pariwisata (KPP) “Kaban Mayas”.

Kaban Mayas merupakan salah satu kelompok yang aktif dalam mengelola ekowisata di Kapuas Hulu yang berdiri sejak tahun 2010.

Nama Kaban Mayas, menurut Sodik, diambil dari bahasa asli Dayak. Kaban artinya kawan atau sahabat, sedangkan Mayas artinya orangutan.

Secara harafiah, kelompok tersebut merupakan salah satu ujung tombak dalam menjaga kelestarian ekosistem dan habitat orangutan yang ada di kampung mereka.

Sambil menikmati segelas kopi hangat, kami mulai berbincang santai di dalam Rumah Betang. Sodik menceritakan awal mula tercetusnya inisiatif membentuk KPP dengan memberdayakan seluruh masyarakat Meliau.

Pada tahun 2008 sebuah lembaga swadaya masyarakat mengadakan pelatihan tentang pembuatan peraturan desa (Perdes). Lima orang dari Desa Melemba terpilih menjadi peserta dan Sodik menjadi salah satu perwakilan dari Dusun Meliau untuk mengikuti pelatihan tersebut.

Kristian Erdianto/Kompas.comSodik Asmoro Ketua Kelompok Pengelola Pariwisata Kaban Mayas

Sodik mengaku, awalnya dirinya tidak memiliki ide untuk membuat sebuah Perdes yang mengatur tentang ekowisata.

Namun, pekerjaan sehari-harinya sebagai nelayan, membuat Sodik mengenal potensi alam Meliau yang bisa “dijual”.

“Awalnya tidak ada gambaran membuat ekowisata, tapi harus ada rencana membuat Perdes, misal Perdes tentang hutan lindung dan hutan adat,” cerita dia.

“Kemudian saya mulai berpikir, Meliau memiliki 7 danau dengan jenis ikan yang bermacam-macam dan satwa-satwa liar yang bisa menarik wisatawan. Akhirnya tercetuslah untuk membuat perdes tentang ekowisata,” tutur Sodik.

Pada tahun 2010, Sodik dan beberapa warga Meliau mendapat pelatihan pengelolaan destinasi pariwisata dari Dinas Pariwisata Kabupaten Kapuas Hulu, WWF dan beberapa LSM lain. Dari situ, Sodik dan warga Meliau meyakinkan diri untuk membentuk KPP Kaban Mayas.

Meski masih tertatih, penerapan konsep ekowisata terus mengalami perkembangan yang cukup baik.

Pada tahun 2011, KPP berhasil membuat peraturan desa yang kemudian disahkan oleh Pemerintah Daerah menjadi Peraturan Desa Melemba Nomor 1 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Objek Pariwisata

Dalam Perdes yang dibuat melalui partisipasi masyarakat itu terdapat beberapa aturan menyangkut kelestarian alam Meliau agar konsep ekowisata bisa berkembang.

Pelarangan tersebut antara lain masyarakat dilarang menangkap ikan di kawasan danau dengan setrum, jaring dan bahan kimia berbahaya.

Masyarakat pun dilarang menebang pohon sembarangan tanpa izin dari Kepala Desa dan Kepala Adat.

“Karena hidup di daerah perairan, rawan dengan penebangan liar dan perkebunan sawit, kami bikin peraturan desa. Kami harus jaga ekosistem ikan, satwa liar dan alam agar menjadi penghasilan tambahan. Saya yakin itu akan menjadi kompensasi dari menjaga kelestarian,” kata Sodik.

Ekowisata

Sebagai destinasi ekowisata, Meliau menawarkan daya tarik budaya, petualangan dan alam untuk dinikmati wisatawan dengan minat khusus.

Menurut Sodik, belakangan mayoritas wisatawan yang datang adalah penggemar olahraga memancing karena Meliau terkenal dengan belasan danaunya.

Peminat wisata memancing bisa menjajal sensasi menarik kail di 12 danau dekat dusu Meliau. Biasanya para memancing jenis ikan khas Kalimantan seperti Toman (Snake head/channidae), Tapah (wallago leeri) dan Arwana (Dragon fish/scleropages formosus).

Bagi para penikmat wisata petualangan, Meliau memiliki jalur trekking ke Bukit Peninjau. Di sana wisatawan bisa melihat satwa liar Meliau, antara lain Orangutan (Pongo Pygmaeus), Bekantan (Nasalis Lavartus), berbagai jenis burung hingga buaya (Tomistoma schlegelii).

“Sampai sekarang memang masih belum mulus dalam hal manajemen pengelolaan. Meski tertatih kami tetap mencoba. Kami juga mendapat dampingan dari WWF,” ungkap Sodik.

Sumber: Kompas

Foto : Kompas