Konservasi Ekowisata di Banyuwangi

No comment 507 views
Bupati Banyuwangi tinjau beberapa tempat wisata yang akan terus dikembangkan, Kamis (19/1/2017).

BANYUWANGI – Tahun ini Banyuwangi terus menggenjot sektor pariwasata. Salah satunya gerakan konservasi untuk mendukung ekowisata, oleh Dinas Perikanan, Kelautan, dan Ketahanan Pangan. “Ada empat lokasi yang kami kembangkan untuk gerakan konservasi,” kata Hary Cahyo Purnomo, Kepala Dinas Perikanan, Kelautan, dan Ketahanan Pangan kepada Surya (TRIBUNnews.com Network), Kamis (19/1/2016).

Empat lokasi tersebut adalah di Desa Bengkak (Kecamatan Wongsorejo), Pantai Cemara (Desa Pakis, Kecamatan Banyuwangi), Pulau Santen (Kecamatan Pondoknongko), Badean (Kecamatan Pondok Nongko). Menurut Hary di empat lokasi tersebut dilakukan konservasi ekowisata yang berbeda-beda. Ini karena, di empat lokasi tersebut memiliki sumber daya alam yang berbeda.

Masyarakat desa di sekitar lokasi tersebut, didorong untuk menjaga potensi alamnya. Di Desa Bengkak dilakukan konservasi Mangrove. Lokasi tepatnya di Pantai Tirtawangi, di Dusun Possumur, Desa Bengkak, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi. Di lokasi ini terdapat hamparan pohon mangrove dengan latar belakang laut. Lokasi ini merupakan kawasan konservasi hutan mangrove yang sekaligus dikembangkan sebagai tempat wisata baru di Banyuwangi.

Di tempat ini juga terdapat spot selfie favorit, Sangkar Penantian dan Batu Warna. Pantai Cemara, yang terkenal dengan cemara udangnya cocok untuk konservasi cemara udang. Tempat ini dikembangkan menjadi destinasi wisata baru, serta menjadi salah satu hutan kota Banyuwangi. Pantai Cemara merupakan pantai dengan hutan cemara laut yang lebat di sepanjang bibir pantainya. Secara bertahap pemerintah telah membangun infrastruktur penunjangnya, seperti akses jalan masuk, penataan lansekapnya, promosi, dan sebagainya.

Pulau Santen terletak di desa Karangharjo, sebelah selatan Stasiun Banyuwangi lama. Pantai ini berada dalam wilayah perairan Selat Bali. Dinamakan Pulau Santen karena didalamnya banyak ditumbuhi pohon yang dikenal oleh masyarakat Banyuwangi dengan nama pohon santen. Saat pagi hari, Pantai ini menyajikan pemandangan indah pada cuaca cerah.
Konservasi terumbu karang dilakukan di pulau ini.
Tidak jauh dari Pulau Santen, di Desa Badean, Pondoknongko menjadi pusat konservasi penyu.

Hary mengatakan, konservasi ini untuk mendukung aktifitas ekowisata Banyuwangi. Dengan adanya konservasi ini bisa menjadi wisata alam. Masyarakat sekitar selain bisa memanfaatkan hasil tangkapan ikan laut, juga bisa menjadi penggiat wisata.

“Dengan demikian ekonomi masyarakat ikut tergerek. Selain itu, dengan cara seperti ini masyarakat yang mayoritas nelayan itu bisa turut menjaga potensi alamnya. Seperti di Bangsring Underwater dan Watudodol, nelayan yang dulunya mengembom ikan kini menjadi penjaga pantai,” kata Hary kepada Surya.

 

 

SUMBER : TribunNews Surabaya