Kopi Sialaman, Sebuah Identitas

No comment 176 views

KOPI SIALAMAN: Petani kopi memetik biji kopi Sialaman yang berasal dari Desa Sialaman, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan. Kopi Sialaman memiliki cita rasa khas yang berbeda dengan kopi arabika lainnya.

 

 


Oleh: Bambang Riyanto

KABUT mulai menipis di area Cagar Alam Bukit Sibual-buali. Petani di ketinggian 1.020 meter dari permu­kaan laut (mdpl) bergegas ke ladang: memetik biji kopi yang telah ranum atau mengumpulkan serakan biji am­pas luwak (Paradoxorus hermaphro­di­tus) sisa semalam. Sekali waktu, ta­ngannya memotong ranting pohon kopi yang meranggas.

Kopi yang dipanen para petani Desa Sialaman, Kecamatan Sipirok, Kabu­paten Tapanuli Selatan, itu sejatinya adalah klan kopi arabika. “Tapi kami menamakannya Kopi Sialaman,” kata Rambe, petani kopi setempat.

Petani di sana sengaja mengiden­titas­kan kopi miliknya bukan untuk gagah-gagahan. Kopi Sialaman me­mang berbeda. Tumbuh di antara po­hon naungan, pohon kopi Sialaman tak langsung terpapar sinar Matahari. Efeknya, biji yang dihasilkan lebih ra­num, berkualitas dan bersih.

“Uniknya, kopi yang diolah akan menghasilkan cita rasa khas. Cita rasa khas buah dari pohon yang menaungi kopi Sialaman. Kalau dinaungi pohon alpukat, maka akan ada rasa alpukat. Saya sendiri per­nah minum kopi ber­aroma dan berasa nangka,” kata Afri­zal dari lembaga swadaya masya­rakat (LSM) Petra yang sejak 2015 me­la­kukan pendampingan kepada petani kopi.

Berada di desa terpencil di atas bu­kit, tak membuat kopi Sialaman teri­solasi. Faktanya, kopi ini telah diakui sebagai salah satu kopi ter­baik yang ada di dataran Indonesia.

Hanya menunggu waktu, tim lisensi dari Amerika akan melihat lang­sung bagaimana kopi Sialaman tumbuh dan dirawat. Bila kua­lifikasi terpenuhi, ko­pi Sialaman siap  dilisensi sebagai kopi unggulan yang spesial.

Potensi panen kopi di Desa Siala­man juga besar dan memiliki harga jual melambung. Setiap pekan, para agen menggelontorkan uang Rp200-300 juta untuk membeli kopi Sia­laman. Tak memakai hitungan kilogram, petani lebih senang menakar kopinya dengan satuan solup. Setiap solup berisi dua liter dengan harga Rp25.000.

Kalau dikonversikan, per solup  se­berat 0,9 kilogram. Bila dijadikan bu­buk hanya bisa menghasilkan 3 ons. “Dengan harga yang tinggi itu seha­rusnya petani kopi di sini sejahtera,” kata Fernando Aruan dari Petra.

Melawan Tengkulak

Namun, harga kopi kerap terpero­sok karena dimainkan para teng­kulak. Tidak adanya pembanding membuat para tengkulak seenak hati memban­drol hasil kopi Sialaman milik petani.

Rambe yang 11 tahun menjadi pe­tani kopi mengingat betul bagai­mana sulitnya petani sebelum Tropical Forest Conservation Action (TFCA) Su­matera-Petra melakukan pendam­pingan. Hasil panen tidak memuaskan, harga jual selalu anjlok.

“Kini kami bisa bernafas lega. Pelatihan dan pendampingan itu me­muaskan hasil. Panen berlipat tanpa membuka lahan baru. Mereka juga membuatkan kami koperasi untuk menstabilkan harga,” ujar pemilik dua hektare ladang kopi ini.

Fernando Aruan menjelaskan, tujuan koperasi memang untuk men­sejahterakan petani dan melawan para tengkulak yang jahat. Kini sudah ada 18 petani yang masuk menjadi anggota. “Menyadarkan para petani waktu itu tidak gampang,” ungkapnya.

Melalui Kelompok Tani Satahi yang ter­ga­bung dalam Koperasi Produsen Marsada, panen kopi bisa mencapat 1,2 ton setiap bulan dari 25 hektare ladang kopi milik para petani. Hasil kopi itu dikirim ke Medan, ke salah satu pemasok produsen kopi terkenal dunia dan ke Silangit, Tapanuli Utara.

Bagi TFCA-Sumatera, program pendam­pingan bukan hanya per­soalan petani kopi Sialaman semata, tapi demi efek yang lebih luas:  melindungi hutan dan kawasan Cagar Alam Bukit Sibual-buali.

“Pendekatannya dengan menyejahterakan warga sekitar . Warga sejahtera, hutan lestari,” ujar Asisten Koordinator Faswil TFCA Sumatera Regional Utara, Bim Harahap.

Bukit Sibual-buali tempat bersemayam aneka ragam hayati. Kese­rakahan manusia kerap membuatnya harus mawas diri. Bila tdak terkontrol, bukit hanya akan jadi hutan yang merana. Hewan, tumbuhan punah. Kopi Sialaman pun bisa hanya tinggal identitas tanpa rupa.

SUMBER : Harian.Analisadaily.com