Korban Banjir Bandang di Aceh Capai 2.476 Orang

Ilustrasi. Sebuah alat berat beraktivitas di kawasan galian C pedalaman Kecamatan Celala, Aceh Tengah, Aceh, Selasa (28/3). Banyaknya aktivitas penambangan galian C di pedalaman Aceh yang tidak mempedulikan dampak lingkungan sekitar dikhawatirkan beresiko memicu bencana longsor dan banjir bandang yang mengancam pemukiman penduduk disekitar. ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas.

Terdapat 2.467 jiwa atau 648 kepala keluarga menjadi korban banjir bandang pada lima desa di Kecamatan Lawe Sigala-gala, menurut catatan BPBD.

 Tercatat total 2.476 orang menjadi korban banjir bandang akibat luapan air yang berasal dari kawasan ekosistem Gunung Leuser. Informasi ini dikemukakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh.

“Hingga kemarin, terdapat 2.467 jiwa atau 648 kepala keluarga menjadi korban pada lima desa di Kecamatan Lawe Sigala-gala,” ucap Kepala Bidang Darurat dan Logistik BPBD Aceh Tenggara, Irwan di Kutacane, seperti diberitakan Antara, Kamis (13/4/2017).

Bila dirinci, sebanyak dua ribuan jiwa tersebut tersebar di Desa Lawe Sigala Timur berjumlah 900 orang atau 195 kepala keluarga, dan di Desa Lawe Tua Gabungan sebanyak 608 jiwa atau 159 kepala keluarga.

Lalu di Desa Lawe Tua Persatuan terdapat 568 orang atau 148 kepala keluarga, kemudian di Desa Kayu Belin 220 jiwa dengan 80 kepala keluarga, dan terakhir di Desa Lawe Sigala Barat 180 orang atau 66 kepala keluarga.

Sementara untuk korban meninggal dunia, tercatat dua orang yakni atas nama Orlina boru Sitorus (86), perempuan di Desa Lawe Sigala Barat, dan balita bernama Terang Sitanggang (1,5), perempuan dari Desa Lawe Tua Gabungan.

“Ini data rekapitulasi sementara bencana banjir bandang di Aceh Tenggara yang terjadi pada Selasa (11/4)/2017 petang, dan kita himpun hingga kemarin (Rabu, 12/4/2017),” katanya.

Irwan mengklaim, berbagai material yang dibawa air bah dari lereng pegunungan kawasan ekosistem Gunung Leuser seperti kayu gelondongan dan berbatuan di jalan lintas Kutacane-Medan telah dibersihkan.

“Kita juga telah mendirikan dua posko pengungsi di Desa Suka Makmur, Kecamatan Semadam untuk tampung warga sementara,” terang dia.

Sipayung (51), korban di tempat pengungsian mengaku, banjir bandang kali ini tergolong paling parah dibanding yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

Akibat kejadian tersebut, kata dia, dinding rumah bagian depan yang terbuat dari batu bata dan kayu jebol diterjang derasnya arus air, serta dinding rumah bagian belakang rusak.

“Genangan air di dalam rumah kami, mencapai selutut orang dewasa,” ucapnya.

Data Badan Pusat Statistik setempat menyebutkan, wilayah Aceh Tenggara memiliki 16 kecamatan dengan 385 desa. Dari jumlah itu, 282 desa diantaranya berada di lembah dan 103 desa terletak di lereng pegunungan.

Wilayah di Aceh Tenggara ini merupakan daerah pegunungan dengan ketinggian 25 meter hingga 1.000 meter di atas permukaan laut, dan dikelilingi oleh Taman Nasional Gunung Leuser dan Bukit Barisan.

SUMBER : Tirto.id