Mengamati Burung-Burung Liar di Hutan Kota Jakarta

Burung-burung yang hidup di kawasan Jakarta makin terdesak oleh pembangunan kota dan berkurangnya lahan hijau, apakah masih banyak burung yang bertahan hidup di ibukota?

Suara sejumlah burung sayup-sayup terdengar di antara pepohonan di hutan kota Pesanggrahan di Jakarta Selatan.

Sekitar 10 mahasiswa yang ikut dalam kegiatan Jakarta Bird Walk, sibuk mencari sosok burung yang tengah bernyanyi itu dengan binokuler ataupun kamera pada Sabtu (19/11). Sementara yang lainnya mencoba menebak nama burung tersebut dari suaranya.

Kegiatan Jakarta Bird Walk ini, menurut Gusti Wicaksono dari Jakarta Bird Society, untuk mengamati dan meneliti jenis-jenis burung yang hidup di Jakarta, yang jumlahnya sekitar 130 jenis.

“Selain untuk mengumpulkan data-data burung yang ada di hutan kota kita juga untuk silaturahmi agar saling kenal, goalnya sih kita pengen dapatin data baseburung-burung yang ada di Jakarta, karena kalau kita bilang endemik juga belum tentu juga mungkin dari luar singgah di Jakarta, “jelas Gusti.

 

BurungImage copyrightBBC INDONESIA

Image captionSekitar 130 jenis burung tercatat di Jakarta.

Konservasi habitat burung

Hutan Kota di Pesanggrahan seluas sekitar 120 hektar yang dikelola oleh kelompok tani Sangga Buana ini merupakan salah satu habitat berbagai jenis burung di ibukota.

Menurut penggagas kelompok tani Sangga Buana, Chaerudin alias Bang Idin, burung-burung liar yang berada di sini sebagian besar merupakan hasil dari upaya konservasi yang dilakukannya, dan saat ini terdapat sekitar 17 jenis burung.

Bang Idin ingat betul beberapa jenis burung yang sempat menghuni kawasan di pinggir sungai Pesanggrahan di tahun 1960an, yang kemudian hilang karena terdesak pembangunan di wilayah Jakarta.

Ketika melakukan upaya penghijauan bantaran kali Pesanggrahan, bang Idin juga berupaya mengembalikan sejumlah jenis burung yang pernah hidup di daerah ini.

“Jadi dulu burung ini tahun 1960-70 itu masih baguslah, tapi 1976-78 ini kan karena pengaruh lingkungan pembangunan semua itu sudah hampir punah, kayak kutilang, tekukur, itu kan sudah ga ada, bagaimana mengupayakan kan perjuangan berat, burung bisa datang kan karena koridornya itu harus diangkat dari mulai tanaman, tumbuhan dan macem-macem,”jelas Bang Idin.

Bang IdinImage copyrightBBC INDONESIA

Image captionBang Idin lakukan konservasi burung di kawasan bantara kali Pesanggrahan.

Bang Idin mengatakan upaya konservasi burung-burung yang pernah hidup di kawasan ini dilakukan, berdasarkan ingatannya, dan sekitar 80% jenis burung sudah dikembalikan ke sini.

“Kan diinget dulu di sini ada burung kutilang, abis jual apa gitu ya ada burung kutilang dibeli sama gua, tapi ditangkar dulu dikurungi dulu, dinature-in lagi, di kembalikan lagi dari dia setiap hari di depan rumah, kan nanti dia cari makan gabisa, dilatih dulu dikasih makan tapi kurunganya ditaruh di pohon-pohon, lama-lama kan adaptasi,” jelas Bang Idin.

Bukan sekedar penghijauan

Bang Idin dan kelompok taninya akan membeli burung langka dari pemiliknya untuk kemudian dikembalikan ke kawasan hutan Pesanggrahan.

Selain itu dia pun menanam jenis pepohonan yang bisa ‘menghidupi’ burung tersebut.

“Kalau burungnya doang yang diperhatiin pada mabur, kalau tempat rumahnya ga ada makanannya ga ada, itu kan bagian dari mata rantai… pengamat burung harus begitu, jadi bukan siklus burungnya, tapi permasalahanya, secara biologinya gimana, secara sejarahnya apa, seperti kayak burung cekakak lobangnya (untuk sarang) itu kan dipelajarin sama kita, tidurnya gimana itu kan dipelajarin sama kita, tidurnya bagaimana itu dipelajarin sama kita,” jelas Bang Idin.

Setiap burung membutuhkan jenis pohon tertentu, untuk itu dia menyarankan agar penghijauan yang dilakukan juga memperhatikan kebutuhan mereka.

BurungImage copyrightBBC INDONESIA

Image captionHutan Kota Pesanggrahan merupakan salah satu habitat burung.

Hutan-hutan kota yang tengah dibangun di Jakarta sebenarnya, bisa digunakan habitat dan juga koridor burung asal ditanami jenis pohon yang dapat menyediakan pakan bagi burung.

“Penghijauan ya asal hijau saja, dari jenis tanaman ya mungkin menurut dia baik tetapi menurut burung belum tentu baik dari segi pakan dia dan tempat berlindung dia,”jelas Gusti.

Pada 2012 lalu, pemda DKI Jakarta sempat menyatakan rencana menanam 10.000 pohon yang ‘ramah’ bagi burung dan membantu penyebaran mereka.

Bagaimanapun, kehidupan burung-burung di ibukota ini semakin terdesak pembangunan di tengah kota dan pembetonan sungai juga menyebabkan hilangnya habitat burung , serta kebisingan menjadi salah satu penyebab tersingkirnya burung dari ibukota, sehingga tak heran jika kita tak dapat menikmati kembali kicau burung di Jakarta.