Polda Aceh Gandeng NGO Lingkungan Atasi kejahatan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam


Aceh – Ditreskrimsus Polda Aceh menggandeng sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang lingkungan hidup untuk bekerjasama dalam mengatasi kejahatan Lingkungan hidup dan Sumber Daya Alam di Provinsi Aceh.

 
Direktur Reskrimsus Polda Aceh Kombes Pol Drs. Armensyah Thay melalui Kasubdit IV Tipidter Reskrimsus Polda Aceh, AKBP Erwan, SH. MH mengatakan, pihaknya sengaja mengundang beberapa NGO yang selama ini memiliki program lingkungan hidup di Aceh untuk bersilaturrahmi dan berbagi informasi perkembangan kejahatan lingkungan hidup di Provinsi Aceh 
 
“Kami sangat senang pihak-pihak NGO yang diundang bisa hadir, kami ingin membangun silaturrahmi dan hubungan komunikasi yang baik, sehingga ke depannya upaya-upaya penegakan hukum khususnya lingkungan hidup dan SDM bisa bersinergi dan berjalan lebih maksimal,” ujar AKBP Erwan dalam pertemuan yang digelar di Aula Ditreskrimsus Mapolda Aceh. Rabu(12/04).
 

Erwan juga menegaskan pihaknya sangat terbuka untuk menerima informasi dan menindaklanjuti kasus-kasus kejahatan lingkungan hidup di Aceh, karena itu ia ingin membangun kerjasama dengan LSM-LSM yang selama ini telah banyak melakukan program di lapangan.
 
“Selama ini Polda Aceh juga sudah memiliki kerjasama dengan beberapa LSM, seperti membangun SMS center pelaporan kejahatan lingkungan hidup, dan beberapa kali pelatihan. Ini yang sedang kita tingkatkan agar kerjasama lebih luas,” ujarnya.
 
Pertemuan ini juga membahas beberapa perkembangan terbaru kejahatan lingkungan hidup di Aceh hingga beberapa rencana kerjasama yang akan dilakukan oleh Polda dan NGO yang hadir.
Program Koordinator LSGK (Lembaga Suar Galang Keadilan), Missi Muizzan, Sebuah NGO mitra TFCA Sumatera yang memiliki fokus dalam program peningkatan kapasitas penegakan hukum lingkungan hidup di Aceh mengatakan, LSGK menyambut baik undangan Polda Aceh untuk melakukan rapat koordinasi ini.
“Sebagai NGO kami menyadari posisi kami adalah sebagai suporting aparat penegak hukum, membantu aparat penegak hukum untuk melawan kejahatan lingkungan hidup di Aceh, sehingga koordinasi menurut kami merupakan hal penting agar upaya bersama ini lebih komperehensif dan aparat terkait merasa lebih terbantu dengan kehadiran kami,” ujarnya.
 
Hadir dalam pertemuan tersebut perwakilan beberapa NGO Lingkungan antara lain, WCS, Leuser Conservation Partnership (LCP), Yayasan Haka, WWF, WALHI Aceh, Forum Konservasi Leuser, Yayasan Scorpion Indonesia, Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), Vesswic dan Fauna Flora Internasional (FFI). (Bim/LCN)