Seniman Patung Asal Yogyakarta Yang Perduli Akan Satwa Liar Indonesia

Badak sumatera yang berada di Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Foto: Rhett Butler

 


Mengunjungi kediamanan pematung Komroden Haro di Kasihan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, saya menemukan berbagai patung berwujud badak jawa dan sumatera, gajah, harimau, kerbau dan lainnya. Ternyata, pematung yang pernah memimpin Asosiasi Pematung Indonesia (API), baik nasional maupun untuk Yogyakarta-Bali, ini sengaja berkarya patung aneka satwa tersebut karena khawatir akan nasibnya yang kian terancam.

“Saya benar-benar sedih. Badak jawa dan sumatera menurut saya yang paling memprihatinkan. Begitu pula gajah dan harimau sumatera yang saya dapatkan informasi terus dibunuh oleh para pemburu. Hutan tempat tinggalnya juga makin habis,” kata jebolan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta di ruang workshopnya, pertengahan Januari 2017.

Melalui patung-patung tersebut, Komroden berharap pemerintah maupun masyarakat memiliki kepedulian untuk melindungi dan melestarikan satwa kebanggaan Indonesia ini.

“Meskipun di bagian lain dunia juga ditemukan gajah, harimau dan badak, tapi keberadaan hewan tersebut di Indonesia sebagai bukti kebesaran bangsa ini. Selama beratus tahun, mereka hidup berdampingan dengan manusia dan hewan lainnya. Memberikan inspirasi maupun turut menjaga keseimbangan alam sehingga melahirkan peradaban maupun kebudayaan di Nusantara,” kata lelaki kelahiran Madala, Baturaja, Sumatera Selatan, 26 Mei 1966.

 

Harimau sumatera yang hidupnya kian terdesak akibat habitatnya menyempit. Foto: Rhett ButlerHarimau sumatera yang hidupnya kian terdesak akibat habitatnya menyempit. Foto: Rhett Butler

 


Gajah dan harimau memiliki kenangan tersendiri bagi Komroden. “Saat masih kecil saya sering melihat gajah, yang mungkin saat ini sudah tidak ada lagi di kampung saya. Kalau harimau saya selalu sering mendengar ceritanya, terutama dari orangtua di kampung yang melihat atau bertemu di hutan,” ujarnya.

Kenangan ini yang mendorongnya untuk berkarya patung dua hewan tersebut. “Selain kecemasan saya terhadap keberadaan hewan-hewan itu,” kata pematung yang melakukan pameran tunggal “Mencatat Batu” di Taman Budaya Yogyakarta (2011), “Respon Merespon” di Tirana Art Space Yogyakarta (2013), serta mengikuti 79 pameran bersama sejak 1986.

Komroden Haro heran terhadap mereka yang suka memburu dan membunuh satwa langka. “Banyak kisah atau mitos yang menghubungkan kehidupan manusia dengan hewan. Misalnya, harimau sumatera. Jangankan dibunuh, menyebut ‘harimau’ saja dianggap tabu. Saya pikir ada yang salah dengan cara berpikir manusia Indonesia hari ini terhadap ala.”

Secara spiritual kondisi yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini, bisa jadi akibat perlakuan yang kurang arif terhadap alam, terutama terhadap hewan-hewan tersebut. “Mereka itu juga makhluk Tuhan, dan saya yakin mereka juga berdoa dan bersyukur kepada Tuhan. Mereka juga punya rasa. Coba perhatikan perilaku gajah yang mengekspresikan kesedihan jika kehilangan anak atau saudaranya.”

 

 

Gajah sumatera yang hidupnya juga tak lepas dari ancaman perburuan. Foto: Junaidi HanafiahGajah sumatera yang hidupnya juga tak lepas dari ancaman perburuan. Foto: Junaidi Hanafiah

 


Patung untuk Asian Games 2018

Sebagai wong Sumatera Selatan, Komroden berencana menyumbangkan sejumlah karya patungnya itu, gajah, harimau dan badak, ke lokasi perkampungan olahraga Jakabaring Palembang.

“Saya bangga Sumsel ditunjuk sebagai salah satu tuan rumah Asian Games 2018. Saya ingin menyumbangkan beberapa karya patung sebagai ekspresi kebanggaan tersebut. Patung-patung itu saya inginkan berada di halaman parkir Stadion Jakabaring, sehingga siapa pun dapat menyentuh dan mengenalnya sebagai hewan khas Sumatera, khususnya Sumatera Selatan.”

 

 

Miniatur badak sumatera karya Komroden Haro. Foto: Taufik wijayaMiniatur badak sumatera karya Komroden Haro. Foto: Taufik wijaya

Yang lebih penting lagi, katanya, bangsa-bangsa di Asia, melalui atletnya tergerak melindungi satwa-satwa tersebut. “Misalnya, tidak membeli gading gajah, cula badak, kulit maupun bagian tubuh harimau,” ujar Komroden.

Dr. Najib Asmani, Staf Khusus Gubernur Sumsel Bidang Perubahan Iklim, menyambut baik keinginan perupa Komroden tersebut. “Itu sumbangan yang menarik. Hal yang pantas diapresiasi. Saya pikir Gubernur Sumsel Alex Noerdin akan sangat senang dan bangga,” katanya.

 

 

Komroden berdiri di depan patung gajah sumatera (realis). Foto: Taufik WijayaKomroden berdiri di depan patung gajah sumatera (realis). Foto: Taufik Wijaya

 

 


Apa yang diinginkan Komroden, kata Najib, merupakan bukti kecintaan wong Sumsel terhadap apa yang telah dicapai Sumatera Selatan. “Kita berharap Sumatera Selatan bangkit seperti di masa Sriwijaya, seperti yang selalu diungkapkan Pak Alex, makmur bersama kelestarian lingkungan hidupnya,” tandas Najib.

 

 

SUMBER : Mongabay.co.id