Seorang Nelayan Selamatkan Anak Beruang Madu Dari Hutan Bakau

Foto : Ilustrasi Beruang madu. Sumber : Google

 


BALIKPAPAN – Seorang nelayan pancing mengevakuasi satu anak beruang madu (helarctos malayanus) dari sungai dan hutan bakau di sekitaran pelabuhan peti kemas milik PT Kaltim Kariangau Terminal di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Beruang itu masih kecil berkisar satu tahun dengan bobot sekitar 15 kilogram. Panjang tubuhnya kurang dari 1 meter.

“Nelayan ini menyerahkan ke polisi setempat dan kemudian polisi menyerahkan pada kami,” kata Suriawati Halim, kepala Seksi III Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kaltim di Balikpapan, Jumat (10/3/2017).

Anak beruang madu tersebut tampak jinak. Ia tidak menunjukkan sifat agresif, bahkan cenderung ingin mendekat pada manusia yang berada di sekitarnya. Perangainya seperti kehilangan sifat liar dan insting alaminya.

“Keadaannya yang begitu memprihatinkan bagi satwa liar,” kata Darmanto, polisi hutan di BKSDA.

Bagi Darmanto, anak beruang ini terlihat begitu jinak. Beruang ini tidak mau makan layaknya beruang madu lain. Bahkan hewasn tersebut tidak mau menyentuh buah seperti pisang, semangga, dan pepaya.

Ia malah menghabiskan 8 susu kaleng cap Beruang, makan sedikit nasi campur kecap, makan kacang kulit kupas, dan sedikit minum susu kental manis.

“Satwa ini seharusnya suka yang manis-manis. Madu saja hanya dijilat sedikit,” kata Darmanto.

Kondisi jinak ini membangkitkan kecurigaan bahwa anak beruang ini tidak muncul begitu saja di hutan bakau.

“Seperti pernah dipelihara sebelumnya,” kata Darmanto.

Saat serah terima beruang, polisi jaga Pospol KKT, Triono, mengaku hanya berfokus pada penyelamatan hewan tersebut. Ia tidak sempat menanyakan lebih dalam tentang asal muasal beruang kepada nelayan.

“Dia serahkan ke sekuriti KKT, baru ke kami. Dia hanya menceritakan menemukan beruang dalam keadaan lemas seperti kelaparan di hutan bakau sekitaran KKT,” kata Triono.

BKSDA tidak akan melepaskan kembali beruang ke alam liar, melainkan mengirimnya ke penampuangan di sebuah lembaga konservasi atau kebun binatang Golden Prima di Samarinda.

Penempatan ke kebun binatang lantaran beruang jinak diyakini tidak akan bertahan bila dilepas kembali ke alam liar.

“Karena kita tidak memiliki lembaga konservasi yang khusus merehabilitasi satwa ini,” kata Suriawati.

Temuan satu anak beruang madu ini menyusul beberapa temuan sebelumnya, yakni satu beruang dewasa pada 2016 dan satu beruang bayi pada 2015.

Sementara sepanjang 2017 ini, beruang ini merupakan satu dari dua satwa dilindungi yang bisa diselamatkan.

Beruang madu sendiri berada dalam Appendix of the Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) sejak tahun 1979 yang menyatakan bahwa mereka tidak boleh diburu oleh siapapun.

SUMBER : KOMPAS