Temanggung Pelajari Perkebunan dan Wisata Danau Toba

BERFOTO BERSAMA: Rombongan presstour dari Kabupaten Temanggung berfoto bersama di depan rumah bolon (rumah adat Batak), di Desa Ambarita, Pulau Samosir, Danau Toba Sumatera Utara. (suaramerdeka.com/Raditia Yoni Ariya)

 


TEMANGGUNG – Pertumbuhan sektor pariwisata, perkebunan, dan pertanian di wilayah Sumatera Utara, khususnya di sekitar kawasan Danau Toba yang maju pesat, serta mampu menyedot animo wisatawan domestik mau pun mancanegara, membuat Pemkab Temanggung melakukan studi banding ke sana. Kunjungan yang dikemas dalam acara presstour ini, dipimpin Kepala Bapedda Bambang Dewantoro, diikuti Asisten Admnistrasi Sekda Temanggung Sigit Purwanto, Kepala DPPKAD, Kristiwidodo, Sekwan, Harno Susanto, dan sejumlah wartawan.

Beberapa tempat yang dikunjungi mulai Senin (3/4) sampai Kamis (6/4) antara lain, kebon jeruk siam madu Berastagi, di Desa Bandartongging, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Pemkab Simalungun, Danau Sipiso-Piso, dan Desa Ambarita di mana terdapat kerajaan Batak Toba Kuno bernama Huta Siallagan.

Seperti diketahui, wilayah dataran tinggi Kabupaten Karo, Sumatera Utara, tepatnya di Kecamatan Merek yang tidak jauh dari Danau Toba, merupakan salah satu dari sepuluh kawasan strategis pariwisata nasional. Kebun jeruk di sini disulap menjadi kawasan wisata pegunungan, di mana pengunjung bisa memetik buah jeruk sesuka hati dan cukup membayar Rp 20 ribu per kilogram.

Camat Merek, Tommy Sidabutar mengatakan, dari 19 desa di wilayahnya, 15 desa di antaranya membudidayakan tanaman jeruk sebagai gantungan hidup warganya. Luasan tanaman jeruk di Merek ada sekitar 1.700 hektare dan tersebar di 15 desa.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Karo, Sarjana Purba mengatakan, jenis jeruk di Merek adalah siam madu, yang lebih dikenal dengan nama jeruk berastagi. Keunggulan jeruk berastagi atau siam madu adalah kulit agak tebal, sehingga lebih tahan lama, mudah dikupas, rasanya manis, aromanya wangi, tidak banyak bijinya, dan segar.

“Budi daya tanaman jeruk di Kabupaten Karo dimulai tahun 1978-1979 dan mulai dikembangkan untuk tujuan wisata pada 1990-an. wisatawan yang datang umumnya dari luar Kabupaten Karo, juga wisatawan mancanegara. Daerah pemasaran jeruk berastagi selain untuk mencukupi kebutuhan lokal, juga dipasarkan ke Jakarta dan Bandung,” katanya.

Petani jeruk di Desa Bandartongging Kecamatan Merek, Henri Petrus Munte mengatakan, memiliki tanaman jeruk di lahan seluas 1,5 hentare. Menurut dia, budi daya tanaman jeruk masih menjanjikan dengan harga antara Rp 6.000,- hingga Rp 15.000,-/kilogram.

Asisten Admnistrasi Sekda Temanggung, Sigit Purwanto, setelah mengamati kebun jeruk mengatakan, pihaknya ingin belajar tentang budi daya tanaman jeruk di Kabupaten Karo karena kondisi geografis Kabupaten Temanggung hampir sama dengan Karo. Jika di Karo diapit gunung Sinabung-Sibaya, Temanggung diapit Gunung Sumbing-Sindoro. Tahun 1970-an di Paponan Temanggung juga merupakan sentra jeruk, namun karena kala itu harganya kalah dengan tembakau, maka jeruk pun tergeser.

“Hal ini kesempatan bagi Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, serta Bappeda untuk merancang pemetaan terhadap geografis pertanian. Sehingga tanaman keras seperti jeruk ini bisa dibudidayakan. Sebenarnya Temanggung berpotensi, hanya perlu peningkatan SDM,” katanya.

Di Kabupaten Simalungun, rombongan Temanggung disambut di Balai Harungguan Djabaten Damanik, oleh Wakil Bupati Amran Sinaga, yang langsung menjelaskan wilayahnya memiliki 386 Nagori (desa), 27 Kelurahan, dan 31 Kecamatan memiliki Danau Toba. Dari Danau Toba, PAD Simalungun naik dratis dari Rp 2,4 miliar di tahun 2012 dan kini masa Bupati JR Saragih PAD menjadi Rp 7,6 miliar. Kunjungan wisatawan dari 294.444 orang di tahun 2015 naik menjadi 314.908 orang di tahun 2016.

Usaha JR Saragih untuk memajukan pariwisata Danau Toba antara lain, merehab lokasi air panas di Tinggi Raja, akan membuat jalan dari Bandara Kualanamu menuju wisata air Tinggi Raja hingga pusat Kota Simalungun.

Kepala Bappeda Temanggung Bambang Dewantoro menuturkan, pihaknya akan belajar dari kawasan wisata Toba, terlebih Simalungun dan Karo yang memiliki kesamaan baik secara geografis, pertanian, perkebunan, dan pariwisata. Temanggung dan Simalungun sama-sama menjadi penghasil padi dan kopi, dan ada yang bisa dipetik dari kawasan Toba, yakni Badan Otorita Toba.

 

 

SUMBER : SuaraMerdeka.com