Tum-tum, Kura-kura Paling Terancam di Dunia

No comment 238 views
Tum tum (pinterest)

 


JAKARTA – Perburuan satwa liar memang menjadi momok dan pekerjaan rumah besar bagi Indonesia serta menjadi salah satu penyebab utama penurunan potensi keanekaragaman hayati di negara ini.

Perburuan satwa liar terjadi di seluruh kawasan Indonesia, termasuk di Kalimantan Selatan.

Tingkat kesadaran dan pengetahuan masyarakat yang masih rendah membuat aktivitas perburuan dan jual beli hewan dilindungi masih marak ditemui.

Kebanyakan masyarakat tidak mengetahui bahwa hewan-hewan yang diperjualbelikan di media sosial maupun di pasar satwa adalah spesies terancam punah dan dilindungi.

Salah satunya adalah Tum-tum atau tuntong laut (Batagur borneoensis, dulunya bernama Callagur borneoensis) yang juga ditemui di negara Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Thailand.

Tidak banyak masyarakat yang mengenal hewan eksotis yang satu ini, masyarakat pada umumnya menganggap tum-tum sama seperti kura-kura kebanyakan.

Padahal hewan ini termasuk kura-kura yang paling terancam di dunia, kata pemerhati lingkungan Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin Zainuddin.

Tum-tum merupakan primadona bagi kalangan pehobi reptil. Warna merah dan putih pada kepala indukan jantan membuat harganya kerap melambung tinggi di pasaran. Satu indukan dewasa tum-tum dapat dibandrol dengan harga jutaan rupiah.

Selain dari keeksotisannya, penyebab tingginya harga pasaran hewan itu baik pada pasar legal hingga pasar gelap disebabkan oleh sulitnya mendapatkan hewan yang satu ini.

Menurut Zainudin yang juga peneliti muda Pusat Studi dan Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia Unlam, tum-tum adalah hewan yang sangat langka.

Tum-tum masuk ke dalam daftar 25 jenis kura-kura paling terancam di dunia,” katanya.

Tortoise and Freshwater Turtle Specialist Group dari IUCN menyebutkan bahwa dari 25 kura-kura paling terancam di dunia tersebut, lima diantaranya adalah hewan khas Indonesia dengan tum-tum salah satunya.

Kura-kura khas yang dulunya banyak dijumpai di Kalimantan, khususnya di Kalimantan Selatan (Kalsel) itu juga telah masuk dalam daftar “red list” lembaga perlindungan hewan internasional International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) dengan kategori Critically Endangered (sangat terancam) dan oleh CITES (Convention on International Trade of Endagered Species) digolongkkan dalam Appendiks II yang berarti perdagangannya harus diawasi secara ketat.

SUMBER : NETRALNEWS.COM