Bedah Buku Before Too late Karya Regina Safri


Lampung Geh, Bandar Lampung – Wakil Gubernur Lampung Chusnunia Chalim (Nunik) hadiri acara bedah buku Before Too Late karya Regina Safri di Woodstairs Cafe, Sabtu (6/7) malam. Selain dihadiri Wakil Gubernur Lampung, Roadshow buku foto ini juga dihadiri oleh Kabid Humas Polda Lampung, Kementerian Lingkungan Hidup, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Lampung, serta berbagai media online dan cetak di Lampung. Acara ini diprakarsai oleh Aliansi Pewarta Foto Lampung, Gueari Galeri, dan TFCA Sumatera.

Wakil Gubernur Lampung ini dalam sambutanya sangat mengapresiasi buku foto karya Regina Safri, mengingat Nunik yang juga pernah menjabat sebagai Bupati Lampung Timur dan turut berperan aktif dalam memperjuangkan dan membangkitkan kawasan konservasi terutama Taman Nasional Way Kambas yang ada di Lampung Timur.
“Kami mengapresiasi jika ada orang yang peduli terhadap keberlangsungan lingkungan. Apapun bentuknya, satu pemikiran kecil, itu akan membawa efek untuk kelangsungan lingkungan, hutan dan satwa, terutama di hutan Sumatera. Saya sangat antusias dengan acara ini, karena saya juga tahu persis bagaimana keadaan Taman Nasional Way Kambas yang sangat memprihatinkan. Maka kita berusaha mengangkat dan membangkitkan lagi bersama stakeholder yang ada, sehingga dengan usaha dan perjuangan bersama, Way Kambas bisa seperti sekarang ini,” jelas Nunik antusias.
Suasana peserta bedah buku Before Too Late, Sabtu (6/7) | Foto : Sidik Aryono / Lampung Geh

Dalam kesempatan itu, Nunik juga menceritakan keadaan Erin, anak gajah yang ditemukan 2016 lalu dimana ditemukan dalam keadaan sangat memprihatinkan. Kondisi belalai Erin telah dipotong oleh pemburu liar yang tidak bertanggung jawab. Akhirnya melalui perjuangan dan kerja keras tim yang ada di Way Kambas, Erin perlahan mulai pulih. Namun keadaan Erin yang berbeda dari gajah-gajah lainya di Way Kambas, dengan belalai terpotong membuat Erin minder dari kawanan gajah lainya. Hal ini sungguh menyayat hati, karena Erin seringkali menyendiri terpisah dari kawanannya. Bukan hanya Erin, tetapi ini juga menjadi tugas kita bersama dalam menjaga keberlangsungan satwa dan lingkungan di sekitar kita.
Regina Safri atau biasa dipanggil Rere ini mulai mengawali karirnya dengan menjadi pewarta foto di kantor berita Antara Jakarta selama sebelas tahun. Setelah itu Rere menjadi fotografer Menteri Kelautan Susi Pujiastuti, dan banyak mengabadikan momen Ibu Susi hingga sekarang. Dalam perjalanannya bersama Ibu Susi, Rere telah menelurkan karyanya berupa buku foto yang dihadiahkan kepada Ibu Susi pada saat beliau berulang tahun, berjudul Kece Dari Lahir 1, dan Kece Dari Lahir 2. Sebelumnya Rere sudah menerbitkan buku foto pertamanya yang berjudul Orangutan, sebagai bentuk kampanye kepedulian kepada binatang langka tersebut yang sedang menjadi pembahasan internasional.
Regina Safri atau Rere (memegang microphone), sedang menceritakan pengalamannya dalam perjalanan penyusunan buku Before Too Late, Sabtu (6/7) | Foto : Sidik Aryono/Lampung Geh

“Before Too Late, Sebelum Terlambat merupakan buku keenam dari perjalanan saya sebagai jurnalis. Judul ini diambil sebagai langkah kampanye, mengampanyekan dan menyebarkan virus peduli kepada lingkungan. Karena hutan kita sudah sangat memprihatinkan keadaannya. Buku ini saya buat selama tiga tahun lebih melalui perjalanan keluar masuk hutan Sumatera, dari Aceh sampai Lampung. Harapannya, dengan buku Before Too Late ini mampu mengingatkan dan mengajak pembaca untuk peduli terhadap hutan dan satwa di dalamnya, khususnya di Sumatera,” jelas Rere dalam kesempatan itu.
Rere memang tidak berharap besar dengan karyanya itu, tetapi setidaknya orang menjadi tergugah untuk ikut memikirkan keberlangsungan lingkungan. Senada dengan Rere, Nunik juga mengatakan bahwa ini menjadi pekerjaan bersama mengharmonikan hubungan manusia dengan alam.
“Kita mengupayakan harmoni manusia dengan alam, dengan satwa yang ada. Karena tidak seharusnya kita bermusuhan, karena mereka, hewan-hewan di hutan lebih dulu ada dibandingkan manusia. Justru karena ulah manusia, maka habitat hewan terganggu. Maka mari kita jaga harmoni manusia dengan alam, bukan bermusuhan,” lanjut Nuni.
Laporan Reporter Lampung Geh Sidik Aryono
Editor : M Adita Putra
SUMBER : KUMPARAN.COM
READ  Yayasan BOS Sudah Selamatkan 2.000 Orangutan