Dua Gajah Sumatra Mati Akibat Keracunan dan Dibunuh Manusia

Tim dokter BKSDA Aceh saat melakukan bedah bangkai gajah sumatera di Aceh Timur, Jumat (17/4). (Foto: Courtesy/BKSDA Aceh).

 


Dalam sepekan terakhir dua gajah Sumatra (elephas maximus sumatranus) ditemukan mati di dua wilayah berbeda yaitu Provinsi Aceh dan Riau. Dua gajah tersebut mengalami nasib tragis mulai dari keracunan hingga mati dibunuh oleh manusia.

 

Seekor gajah Sumatra ditemukan mati membusuk di dalam areal Afdeling 3 PT Dwi Kencana/ PT Makmur Inti Bersaudara, Dusun Blang Gading, Desa Seumanah Jaya, Kecamatan Ranto Peureulak, Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh. Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh Agus Arianto mengatakan hasil nekropsi yang dilakukan, Jumat (17/4), menunjukkan bangkai gajah Sumatra berjenis kelamin betina itu mati karena keracunan.Dari hasil olah tempat kejadian perkara, ditemukan adanya cairan merah dan bubuk hitam terbungkus plastik yang diduga merupakan salah satu jenis bahan insektisida yang umum digunakan dalam bidang pertanian. Barang-barang tersebut ditemukan sekitar 100 meter dari lokasi bangkai gajah. Bukan hanya itu, di dalam saluran pencernaan gajah tersebut juga terdapat kemasan detergen yang dibalut dengan peci kupluk.

“Setelah dilakukan bedah terdapat perubahan warna isi lambung atau makanan dalam saluran cerna yang umumnya ditemukan dalam kasus keracunan,” kata Agus kepada VOA, Sabtu (18/4).

 

Gajah Sumatera yang ditemukan mati kuat dugaan dibunuh manusia di Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, Rabu 15 April 2020. (Foto: Courtesy/BBKSDA Riau)

 

Di dalam saluran pencernaannya, lanjut Agus, juga ditemukan benda berupa serbuk hitam yang terbungkus dalam plastik bening. Kesimpulan sementara mengatakan kematian tersebut diduga karena keracunan. Hal tersebut diperkuat lantaran tak ditemukannya tanda-tanda kekerasan fisik, seperti luka tusuk, sayat, peluru, sengatan listrik, bakar atau pun benturan benda tumpul pada bagian satwa mamalia besar darat tersebut.

READ  Harimau Sumatera Dievakuasi Dari Pondok Pesantren di Jatim

“Kondisi bangkai sudah mengalami pembusukan, kematian gajah diperkirakan kurang lebih 8 sampai 10 hari,” ucap Agus.

Namun BKSDA Aceh masih akan melakukan uji laboratorium untuk memastikan penyebab kematian gajah Sumatra yang diperkirakan berusia 8 sampai 10 tahun tersebut.

“Itu akan masih terus didalami, artinya itu ada korelasinya. Kemudian apakah benar gajah itu makan racun yang ditemukan itu kan perlu diuji secara laboratorium untuk diketahui kepastiannya,” ungkap Agus.

 

Gajah Sumatera betina ditemukan mati membusuk di dalam kawasan hutan tanaman industri, Kabupaten Bengkalis, Riau. Jumat, 7 Februari 2020. (Foto: BKSDA Riau)

Di Riau, Ditemukan Gajah Mati Tanpa Belalai

Sementara kematian gajah Sumatra juga terjadi di Kecamatan Kelayang, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, Rabu (15/4). Gajah berjenis kelamin jantan ditemukan mati dalam keadaan mengenaskan. Bbagian depan kepala mengalami luka terbuka bekas sayatan benda tajam, sedangkan gadingnya masih dalam keadaan utuh.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau Suharyono mengatakan tak jauh dari lokasi sekitar bangkai juga ditemukan belalai gajah yang sudah terpotong. Kuat dugaan gajah tersebut mati lantaran dibunuh oleh manusia mengingat mamalia besar tersebut sempat masuk ke dalam permukiman masyarakat.

“Satwa yang mati tersebut merupakan gajah tunggal yang telah terpisah dari rombongannya pada kantong Gajah Tesso Tenggara. Beberapa kali memasuki area permukiman perkebunan masyarakat yang merupakan bagian dari wilayah jelajah (home range) gajah tersebut,” kata Suharyono kepada VOA.

BBKSDA Riau, lanjut Suharyono, telah melakukan upaya penghalauan bersama masyarakat beberapa kali. Namun mengalami kendala dikarenakan masih ada beberapa desa yang akan dilalui saat proses penghalauan kurang kooperatif.

“Untuk mengantisipasi adanya tindakan dari masyarakat. Pada kesempatan yang sama BBKSDA Riau bersama aparat kepolisian setempat juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak melakukan kegiatan yang dapat membahayakan bagi mereka dan satwa liar gajah itu sendiri,” ungkapnya.

READ  Gerakan Rakyat Menggugat (Geram) Tolak Re-Zonasi Leuser

 

Seekor gajah Sumatera ditemukan mati di Gampong Seumanah Jaya, Kecamatan Ranto Peureulak, Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh, Kamis (21/11). (Courtesy: BKSDA Aceh)

 


Menurut Suharyono, saat ini pihak kepolisian dari Polda Riau masih melakukan penyelidikan terkait kematian gajah diduga kuat mati karena dibunuh manusia.

“BBKSDA Riau mengutuk keras kejadian pembunuhan satwa liar gajah Sumatra dan bersama dengan penegak hukum akan melakukan penyelidikan terhadap kejadian ini,” tegasnya.

Sementara itu Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Riau, Riko Kurniawan, mengungkapkan konflik satwa dengan manusia cukup tinggi di wilayah Riau. Menurut Riko, alih fungsi hutan menjadi salah satu penyebab tingginya konflik antara satwa liar dengan manusia di Riau.

“Beberapa waktu lalu hampir tiap bulan banyak harimau mati atau diburu, nah sekarang gajah. Artinya situasi saat ini memang kondisi alam di Riau sudah tidak seimbang antara habitat satwa telah dialihfungsikan untuk dua komoditas yaitu sawit dan akasia,” ungkap Riko kepada VOA.

Hal itulah yang menyebabkan daya jelajah satwa semakin berkurang, bahkan cenderung menuju ke lokasi-lokasi di mana ada perkebunan sehingga konfliknya cukup tinggi, katanya.

 

 

 

WALHI Riau menilai upaya mitigasi untuk pencegahan dan penindakan dalam penegakan hukum di wilayah Riau cenderung berkurang. Terutama dalam tugas pokok serta fungsi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) termasuk BKSDA.

“Kalau kami lihat, situasi saat ini memang penegakan hukum yang lemah terkait dengan kenapa tingginya satwa-satwa dibunuh dan sengaja diburu oleh manusia. Harusnya lebih tegas karena melihat angka grafik yang cukup tinggi ini di Riau. Kawasan perkebunan sawit-sawit ilegal itu juga cukup tinggi.,” papar Riko.

READ  Warga Jepang Selundupkan Ratusan Satwa Langka

Menurutnya, persoalan-persoalan itu lah yang harus segera dicegah. KLHK harus memastikan kawasan hutan yang sudah dirambah harus ditertibkan secara hukum.

“Di samping kegiatannya ilegal, yaitu perkebunan, juga pasti akan berhadapan dengan satwa tadi,” tukasnya Riko.

 

 

 

 

SUMBER : VOA INDONESIA

 

 

Enable Notifications    Ok No thanks