Heboh ! Pencari Cacing Hutan Ditangkap Polisi

Didin, pencari cacing di TNGGP
Foto: Syahdan Alamsyah/detikcom

 


Ella Nurhayati, 43 tahun, sudah beranjak tidur ketika terdengar seseorang mengetuk pintu rumahnya pada Jumat, 24 Maret 2017, malam itu. Ella kaget saat melihat orang yang bertamu ke rumahnya adalah aparat berseragam lengkap dari Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Bukan hanya itu, tim yang berjumlah sepuluh orang, didukung Polisi Hutan dari Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (TNGGP), itu juga mengepung rumah Ella, yang terletak di Kampung Rahan RT 006 RW 08, Desa Cimacan, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Tujuan mereka adalah menangkap Didin, 48 tahun, suaminya.

Sekitar pukul 20.30 WIB itu, Didin masih sibuk berjualan di kawasan wisata Taman Cibodas. Ella diminta menelepon suaminya agar lekas pulang. Begitu sampai di rumah, Didin langsung diinterogasi. Ia ditanya apakah melakukan transaksi jual-beli cacing. Mendengar jawaban “tidak”, petugas langsung menggeledah dapur dan beberapa sudut rumah Didin.

Mereka menemukan cacing yang diletakkan di sebuah ember. Tanpa menunggu lagi, Didin ditangkap bersama barang bukti cacing kering berjumlah 77 ekor. Disita juga peralatan, seperti tenda dan senter, untuk mencari cacing di TNGGP. “’Sudah, Bu, Bapak kami pinjam dulu.’ Sampai sekarang belum pulang,” tutur ibu dua anak tersebut menirukan ucapan petugas kepada detikX, Selasa, 9 Mei lalu.

Pihak TNGGP mengatakan cacing kalung dan sonari merupakan satu spesies. Ini contoh cacing yang tertinggal di TKP. Foto: dok. TNGGP

Itu sudah menjadi tradisi. Itu nggak pernah diperjualbelikan. Dicariin satu-dua paling banyak. Atau lima ekor cacing. Dikasih paling Rp 10-20 ribu.”

Didin awalnya dibawa ke kantor Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup, Jalan DI Panjaitan, Jakarta Timur. Setelah itu ia dititipkan di Markas Polres Cianjur. Hingga kini, sudah sekitar 45 hari Didin merasakan dinginnya lantai ruang tahanan. Ia disangka melanggar Pasal 78 Ayat (5) dan/atau Ayat (12) juncto Pasal 50 Ayat (3) huruf e dan/atau huruf m Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1999 tentang Kehutanan oleh Kementerian Lingkungan Hidup.

READ  Hutan Indonesia Makin Hilang

Didin diduga terlibat dalam perburuan cacing sonari dan kalung atau gelang yang mengakibatkan rusaknya area hutan konservasi di kawasan TNGGP. Pihak pengelola Taman Nasional menyebutkan hutan yang mengalami kerusakan itu berada di ketinggian 2.300 meter di atas permukaan laut atau dekat dengan puncak Gunung Gede dan Pangrango. Totalnya mencapai 20 hektare, yang terbagi dalam beberapa titik.

Pengungkapan kasus ini berawal dari laporan Yayasan Surya Kadaka pada 11 September 2016 tentang adanya pengambilan cacing kalung dan perambahan hutan di zona inti kawasan TNGGP. Cacing itu mempunyai nilai keekonomian yang tinggi. Harga jualnya mencapai Rp 40 ribu per ekor dan diekspor hingga China dan Jepang sebagai bahan kosmetik serta obat-obatan.

Tim TNGGP pun melakukan pendakian ke lokasi. Lokasi perburuan cacing itu rata-rata berada di medan yang curam dan sulit dijangkau oleh Polisi Hutan. Di bekas lahan perburuan cacing banyak sekali dijumpai pohon yang ditebang. Pohon-pohon itu dibabat untuk mengambil cacing yang berada di bawah pohon dan untuk mendirikan tenda.

Pelaksana Tugas Kepala Balai TNGGP Adison mengungkapkan perburuan cacing itu dilakukan secara berkelompok dan bergiliran. Satu kelompok beranggotakan sekitar 20 orang. Mereka membawa alat-alat untuk menggali tanah hingga genset sebagai sumber penerangan. Setiap kelompok mampu bertahan di hutan selama seminggu di tengah cuaca yang ekstrem.

Didin, lanjut Adison, terpantau sejak November 2016. Pria itu berperan sebagai penyuplai logistik bagi kelompok pemburu cacing itu. Didin pulalah yang menjadi penadah cacing-cacing hasil buruan tersebut, dan setelah itu dia jual kepada bandar-bandar. Didin bekerja sama dengan tetangga-tetangganya dalam memburu cacing hutan itu.

“Dia itu ‘darah’-nya. Kita ambil darahnya. Kalau kita menangkap 20-40 orang, ya percuma. Dan itu mereka nggak bakal jera. Kalau kita mengambil darahnya, pasti mata rantainya bisa terputus,” kata Adison kepada detikX.

READ  Ulang Tahun ke 25, Raflesia Arnoldii Menghiasi Google Doodle Hari ini

 

Pelaksana Tugas Kepala Balai TNGGP Adison
Foto: dok. pribadi

Didin akan menghadapi persidangan di Pengadilan Negeri Cianjur pada 23 Mei 2017. Namun tim pengacara Didin melakukan perlawanan dengan mendaftarkan permohonan praperadilan atas penangkapan Didin ke pengadilan yang sama pada 17 April lalu. Semula sidang praperadilan itu digelar pada Senin, 8 Mei lalu, namun pihak termohon, yakni perwakilan Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup, tidak datang.

Pengacara Didin menilai penindakan terhadap kliennya tidak dilakukan sesuai dengan prosedur. Pada saat melakukan penangkapan dan penggeledahan itu, para petugas tidak membawa surat pemberitahuan. Surat itu baru diberikan kepada keluarga Didin setelahnya. Begitupun dengan surat penahanan Didin, yang baru diserahkan pada 25 Maret 2017.

Karnaen, pengacara Didin, menuding penangkapan Didin merupakan kriminalisasi terhadap masyarakat kecil. Didin dan warga Kampung Rahan memang beberapa kali mengambil cacing di kawasan TNGGP. Namun yang mereka ambil hanya cacing jenis sonari, yang habitatnya di bawah akar atau menempel pada pohon kadaka, sehingga tidak sampai merusak hutan apabila cacing itu diambil.

 

Suasana penangkapan Didin pada Jumat, 24 Maret 2017. Foto: dok. TNGGP

 

Cacing-cacing yang diambil Didin dan warga sekitar itu pun tidak banyak jumlahnya. Mereka mencari cacing karena ada masyarakat yang butuh untuk pengobatan penyakit. “Itu sudah menjadi tradisi. Itu nggak pernah diperjualbelikan. Dicariin satu-dua paling banyak. Atau lima ekor cacing. Dikasih paling Rp 10-20 ribu,” kata Karnaen kepada detikX.

Lalu mengapa ada 77 ekor cacing yang ditemukan di rumah Didin, menurut Karnaen, karena kliennya dijebak Kementerian Lingkungan Hidup. Beberapa hari sebelum ditangkap, Didin kedatangan seorang tamu yang mencari cacing sonari sebanyak dua ekor. Setelah mendapatkannya, tamu yang mengaku bernama Adi itu memesan cacing melalui telepon sebanyak 400 ekor dengan janji akan dibayar Rp 40 ribu per ekor.

READ  Tim KLHK Disandera Saat Investigasi Kebakaran Hutan di Riau

Didin pun mencari cacing untuk memenuhi pesanan Adi itu. Namun, belakangan, justru dia ditangkap dengan tuduhan telah merusak hutan. Karnaen menganggap Kementerian hanya mencari tumbal atas rusaknya hutan akibat pengambilan cacing di puncak Pangrango. Sementara itu, komplotan pelaku yang sebenarnya tidak ditindak.

“Saya tidak tahu itu. Saya nyari di tempat yang ada tumbuhan kadaka, karena cacing sonari adanya di tumbuhan itu, yang nempel di batang pohon,” begitu pengakuan Didin setelah ditemui anggota Komisi IV DPR Joko Purwanto di Mapolres Cianjur.

Bekas tenda yang dipakai oleh para pemburu cacing Foto: dok. TNGGP

Yayasan Surya Kadaka, yang melaporkan kerusakan hutan TNGGP, juga membela Didin. Menurut Rusli Hartawan, pengurus yayasan tersebut, ia tidak yakin Didin pelaku perusakan hutan, karena aktivitas itu sudah berlangsung selama empat tahun, namun pihak TNGGP mendiamkan saja. “Lagi pula mekanisme penangkapannya di rumah, bukan hutan,” katanya.

Adison membantah tudingan bahwa pihaknya menjebak Didin. Ia mengatakan baik cacing sonari maupun kalung diburu secara bersamaan karena spesies dan khasiatnya hampir sama. Terkait dengan Didin, ia mengaku mempunyai bukti kuat bahwa tersangka terlibat dalam kelompok mafia cacing hutan. “Dia membeli cash. Ada transaksi berupa nomor rekening. Betul-betul mafia,” ujar Adison.

 

 

SUMBER : Detik.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enable Notifications    Ok No thanks