“Jangan Lagi Rusak Rumah Orangutan Ya”

Bayi orangutan (Pongo abelii) yang akan direlokasi menjalani pemeriksaan di Klinik Dokter Hewan Jalan Melur Pekanbaru, Minggu (15/11/2015). Ketiga bayi orangutan yang diselamatkan dari upaya penyelundupan sindikat perdagangan satwa liar tersebut selanjutnya akan berada dalam perawatan Sumatran Orangutan Conservation Programme (SOCP) di pusat karantina orangutan Sibolangit, Sumatera Utara.

 


MALANG – “Jangan nebang pohon lagi. Jangan rusak rumah Otan (orangutan) lagi ya. Otan rumahnya di hutan,” kata Yudha Sakkisa, suporter di Protection of Forest and Fauna (Profauna), sebuah lembaga yang perhatian terhadap kehidupan satwa kepada 106 siswa di SDN Karang Besuki 1 Kota Malang, Kamis (2/2/2017).

Saat itu, Yudha tidak sedang menjadi dirinya sendiri. Dia memerankan sosok orangutan dengan memakai kostum mirip seperti hewan yang keberadaannya dilindungi itu.

Bersama aktivis Profauna lainnya, dia memperkenalkan sejumlah primata kepada para siswa. Tujuannya, siswa dapat mengenal hewan tersebut sejak dini, terutama primata yang keberadaannya terancam karena perburuan dan alih fungsi lahan hutan.

Sejumlah siswa yang tertarik dengan sosok orang hutan lantas mengerubunginya setelah kampanye primata selesai. Ada yang sekedar minta foto, ada pula yang minta digendong.

“Kegiatan ini sebenarnya rutin. Ini dalam rangka hari primata Indonesia,” kata Juru Kampanye Profauna Swasti Prawidya Mukti.

Swasti menjelaskan, hewan jenis primata keberadaanya sangat terancam. Menurut dia, banyak hewan jenis itu yang menjadi korban perburuan dan perdagangan hewan.

“Primata sebetulnya sebagian besar dari satwa yang masih diburu dan ditangkap, dijual belikan,” ungkapnya.

Dia menyebutkan, ada sejumlah primata yang keberadaanya sudah sangat terancam, seperti orangutan sumatera, kukang dan simakobu yang hanya ada di Pulau Mentawai, Sumatera Barat.

Data yang ada pada tahun 2016, populasi orang utan tersisa sekitar 14.000 ekor. Sementara populasi orangutan Kalimantan tersisa sekitar 40.000 ekor berdasarkan data pada tahun 2015.

READ  TFCA Sumatera Luncurkan Buku Rawa Tarung Tripa

“Tren populasinya, kalau kita bandingkan dengan tahun dulu, tingkat kesulitan untuk ketemu dengan jenis-jenis itu sekarang semakin sulit,” ucapnya.

Begitu juga yang terjadi pada lutung Jawa. Jumlahnya semakin menyusut dan sulit dijumpai. Dia mengaku sudah melakukan pemantauan di hutan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Taman Hutan Raya (Tahura) R Soerjo dan di hutan Suaka Marga Satwa dataran tinggi Hyang. Hasilnya, keberadaan lutung jawa semakin sulit dijumpai.

“Populasi lutung Jawa semakin sedikit,” tegasnya.

Kepala SDN Karang Besuki 1 Musleh mengatakan, kampaye primata yang dilakukan oleh aktivis Profauna bisa membantu siswa memahami pelajaran yang diajarkan di sekolah. Seperti pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

SUMBER : KOMPAS.COM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enable Notifications    Ok No thanks