Kapok Tebang Pohon Secara Liar, Warga Kini Bergotong Royong Tanam Mangrove

Maraknya penebangan liar yang terjadi di tahun 1980-an membuat ekosistem mangrove rusak, (Ist)
Maraknya penebangan liar yang terjadi di tahun 1980-an membuat ekosistem mangrove rusak, (Ist)

PEKANBARU – Pembabatan hutan di ekosistem mangrove secara liar atau ‘illegal loging’ dahulu sempat terjadi di Desa Sungai Panji-Panji, Kubu Babussalam, Rokan Hilir, Riau. Di mana warga menebang kayu untuk dijual, membangun rumah, atau pun dijadikan perahu nelayan.

Maraknya penebangan liar yang terjadi di tahun 1980-an itu pun membuat ekosistem mangrove rusak, bahkan sempat terjadi abrasi akibat terganggunya keseimbangan alam.

“Jadi semua dulu kebanyakan masyarakat di sini gak bekerja, akhirnya cari tiang gubuk dari kayu besar atau nanti pengolahan kayu kita kirim ke pulau untuk bikin kapal. Kita cari kayu di hutan nanti kita jual,” ujar Kepala Desa Sungai Panji-Panji I’timaduddin saat menceritakan kondisi sebelumnya di tahun 1980-an.

“Tapi sekarang masyarakat sudah tahu soal pelarangan dan sanksi melakukan ‘illegal loging’. Ahamdulillah sekarang gak ada lagi penebangan sembarangan,” sambungnya.

Sadar dampak yang ditimbulkan begitu besar, warga kini secara bergotong royong kembali menanam pohon dan bersatu untuk menjaga alam demi kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang.

Mereka bahkan terlihat sangat antusias mendukung rehabilitasi mangrove yang dilakukan oleh Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM). Rehabilitasi ini dilakukan dengan pola penanaman bibit mangrove melalui Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang bertujuan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.

“Penanaman bibit mangrove mendukung betul agar tidak ada abrasi lagi, kedua untuk kehidupan juga karena hutan sudah tidak ada lagi. Saya berharap kelak ini bakal jadi tempat wisata sehingga bisa meningkatkan ekonomi warga. Kalau ada wisata kan bagus,” ujar I’timaduddin.

Menurut Didy Wurjanto, Kepala Kelompok Kerja Hubungan Masyarakat, pulihnya ekosistem mangrove diharapkan dapat berkontribusi pada penurunan emisi karbon. Pasalnya, mangrove menyimpan cadangan karbon 4-5 kali lebih besar dibanding hutan daratan.

READ  Pembuangan Sampah yang Semakin Hari Semakin Parah di Danau Toba

Didy menambahkan, bahwa kegiatan rehabilitasi mangrove yang dipelopori Presiden Jokowi ini merupakan komitmen Indonesia dalam Paris Agreement sebagai upaya antisipasi perubahan iklim dunia.

Targetkan rehabilitasi mangrove di seluruh Indonesia tahun 2021 seluas 34.000 hektare pada tahun 2021. Adapun target rehabilitasi mangrove di Desa Sungai Panji Panji seluas 60 hektare. Sejauh ini, masyarakat telah berhasil menanam sekitar 50 persen atau 30 hektare dan penanaman diprediksi akan rampung pada Desember 2021.

SUMBER: sindonews.com

Enable Notifications    Ok No thanks