Kerusakan Hutan Aceh Capai 1.956 Ha/Tahun

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aceh, Ir Ahmad Hanan MP menyatakan, sebesar 23 persen atau 3.144.216,23 hektare tutupan hutan Pulau Sumatera, berada di wilayah Aceh dan berpotensi menjadi stok karbon. SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS.COM
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aceh, Ir Ahmad Hanan MP menyatakan, sebesar 23 persen atau 3.144.216,23 hektare tutupan hutan Pulau Sumatera, berada di wilayah Aceh dan berpotensi menjadi stok karbon. SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS.COM

 

BANDA ACEH – Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aceh, Ir Ahmad Hanan MP menyatakan, seluas 3.144.216,23 hektare (ha) atau 23 persen tutupan hutan Pulau Sumatera, berada di wilayah Aceh dan berpotensi menjadi stok karbon.

Namun begitu, katanya, khusus periode 2019-2020 menurut Balai Penataan Kawasan Hutan Tata Lingkungan (BPKH TL) deforestasi atau kerusakan hutan Aceh mencapai 1.596 ha, terdiri dari 842 ha di Areal Penggunaan Lain (APL) dan 1.114 ha dalam kawasan hutan.

Hal itu disampaikan Hanan pada workshop peningkatan kapasitas tim percepatan penurunan emisi gas rumah kaca di Aceh, di Hotel Hermes, Senin (21/11/2022).

Diungkapkan, dampak dari kehilangan tutupan hutan dan emisi gas rumah kaca (GRK) tersebut, mengakibatkan kenaikan suhu, perubahan pola curah hujan, anomali iklim (peningkatan elnino dan atau lanina), perubahan iklim secara ekstrem.

Selanjutnya, peningkatan permukaan air laut, mamasalah produktivitas tanaman pangan, kondisi alam jadi kurang mendukung kehidupan, akan sering terjadi bencana alam banjir, kekeringan, angin kencang, hilangnya daratan.

Kemudian, akan terjadi kelangkaan air, energi dan makanan, penurunan keanegaragaman hayati, kerusakan infrastruktur dan resiko terhadap kesehatan, keselamatan, keamanan dan lingkungan bagi masyarakat.

Ancaman tersebut itu, kata Hanan, sudah mulai dirasakan oleh masyarakat.

Contohnya, banjir yang melanda sejumlah daerah di Aceh.

Selain itu, akibat keruskan hutan, konflik satwa (gajah, harimau, badak, dan orang hutan) dengan manusia terus terjadi.

Kawanan gajah masuk ke areal perkebunan masyarakat untuk mencari makanan.

Kasus ini sering terjadi di kawasan hutan Pidie, Aceh Timur, Aceh Utara, dimana kawanan gajah masuk ke areal perkebunan warga, memakan serta merusak tanaman milik petani.

“Sampai April 2022 sudah terjadi 23 kasus, tahun lalu 53 kasus dan tahun 2020 mencapai 70 kasus,” rincinya.

READ  Hari Hutan Internasional: Merawat Hutan sebagai Sumber Kehidupan Manusia

Mitigasi dan adaptasi merupakan strategis yang saling melengkapi untuk mengurangi dan mengelola risiko perubahan iklim.

Mitigasi, adalah usaha penanggulangan untuk mencegah terjadinya perubahan iklim melalui kegiatan yang dapat menurunkan emisi/meningkatkan penyerapan gas rumah kaca dari berbagai sumber emisi/rosot.

Sedangkan adaptasi merupakan proses memperkuat dan membangun strategis antisipasi dampak perubahan iklim serta melaksanakannya, sehingga mampu mengurangi dampak negatif dan mengambil manfaat positifnya.

Aceh Dorong Penurunan Emisi Rumah Kaca

Sekda Aceh melalui Asisten I, Dr Iskandar, saat membuka workshop tersebut kembali menegaskan komitmen Pemerintah Aceh untuk mendukung program pemerintah pusat yang digagas oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, terkait isu pengendalian perubahan iklim.

Dikatakan, sejak tahun 2007 Aceh secara aktif sudah mengembangkan berbagai upaya dan kebijakan dalam konteks mendukung pertumbuhan hijau dan meredam dampak perubahan iklim.

Diantaranya moratorium longing, program Aceh green, sebagai dari visi misi Pemerintah Aceh dan landasan pembangunan.

Kemudian penyusunan strategi pembangunan rendah emisi yang terpadu, peta jalan pertumbuhan Aceh dan rencana aksi daerah untuk tujuan pembangunan berkelanjutan Program kampung Iklim dan lainnya.

Sejalan dengan hal itu, Pemerintah Aceh berkomitmen untuk mendorong percepatan upaya penurunan emisi gas rumah kaca di Aceh melalui dukungan program pembayaran berbasisi kinerja yaitu insentif atau pembayaran yang diperoleh dari hasil capaian pengurangan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang telah direvisi dan divalidasi. (her)

SUMBER: SerambiNews.com

Enable Notifications    Ok No thanks