Kisah Corina, Harimau Sumatera Terbebas Jerat dalam Hutan Tanaman Industri

Harimau sumatera bernama Corina berhasil diselamatkan dibebaskan sejak terkena jerat pada 29 Maret 2020 di dalam kawasan hutan tanaman industri milik perusahaan di Kabupaten Pelalawan,Riau. Harimau betina tersebut mendapatkan luka parah akibat jerat yang melilit di bagian kaki kanannya. (Foto : KLHK)

 


Kebringasaan pemburu harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) masih terus ditunjukan, meski konsentrasi sebagaian besar masyarakat Indonesia tertuju pada penyelamatan pandemi virus corona (Covid-19). Beruntung, harimau sumatera bernama Corina tersebut berhasil diselamatkan meski mendapatkan luka parah akibat jerat yang melilit di bagian kaki kanannya.

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Suharyono Corina dibebaskan sejak terkena jerat pada 29 Maret 2020 di dalam kawasan hutan tanaman industri milik perusahaan di Kabupaten Pelalawan,Riau. Kini, Corina masih berada di Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatra Dharmasrayadi (PR-HSD) Sumatera Barat.

“Per tanggal 13 April 2020, progres kesembuhan luka Corina sangat bagus, nafsu makan juga cukup bagus pakan selalu habis,” kata Kepala BBKSDA Riau, Suharyono, dalam keterangan tertulis (14/4/2020).

Meski kondisi terkini Corina terlihat makin membaik, Suharyono mengatakan dua hari belakangan satwa belang itu mengalami gejala flu, ini terlihat dari adanya cairan bening dari hidung.

“Corina sepertinya masih butuh waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan site PR-HSD. Kondisi cuaca di area sekitar sangat cepat berubah-ubah dan hampir setiap hari turun hujan terlebih sore dan malam hari,” katanya.

Untuk pemantauan kesehatan harimau yang terancam punah itu, maka mulai tanggal 3 April 2020 Corina telah dipindahkan ke kandang karantina untuk perawatan intensif 24 jam selama 14 hari ke depan. Kandang tersebut berukuran 6X12 meter dengan fasilitas bak air untuk berendam, batang kayu untuk bermain dan dipan untuk berbaring.

READ  Penjual Kulit Harimau Sumatera Divonis 2 Tahun Penjara

Di dalam kandang tersebut juga terdapat lampu penghangat untuk menghangatkan badan apabila Corina selesai berendam di bak mandinya. Kebersihan dan keamanan kandang terjaga dengan baik selama 24 jam.

Menurut dia, Corina dapat berjalan dengan menggunakan keempat kakinya, karena walaupun luka kaki kanan depannya sangat dalam hingga ke tulang, namun tendon tidak putus.

“Corina bahkan sering terlihat menjilati lukanya sendiri, ini sifat alami satwa untuk mengobati luka di tubuhnya. Tentu saja injeksi melalui tulup dilakukan oleh Tim medis untuk mempercepat proses penyembuhannya selain obat topical yang disemprotkan dengan spray guna membersihkan belatung di lukanya tersebut,” katanya.

Selain itu, pemberian multivitamin tetap diberikan untuk menjaga kondisi Corina tetap baik. Tim PR-HSD juga menambah lampu penghangat di dekat tempat tidur Corina yang sebelumnya hanya dua menjadi empat buah lampu infrared untuk menjaga kondisi di sekitar tempat tidur Corina tetap hangat.

“Semoga proses penyembuhan dapat berjalan sesuai dengan harapan dan Corina dapat segera pulih sehingga dapat dilepasliarkan kembali ke habitatnya,” ungkap Suharyono.

 

 

 

 

SUMBER : Trubus.id