KLHK Lepasliarkan Elang Laut Dada Putih di Kawasan Hutan Lindung Mangrove Munjang

2 pasang Elang Laut Dada Putih (Halieetus leucogaster), di lepas liar di kawasan Hutan Lindung Mangrove Munjang (areal HKm Gempa 01), Bangka Tengah pada Senin (24/5/2021). Dok KLHK
2 pasang Elang Laut Dada Putih (Halieetus leucogaster), di lepas liar di kawasan Hutan Lindung Mangrove Munjang (areal HKm Gempa 01), Bangka Tengah pada Senin (24/5/2021). Dok KLHK

TRIBUNNEWS.COM, BANGKA – Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Dirjen KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) bersama dengan Kapolda Kepulauan Bangka Belitung (Kep. Babel), Dirjen Penegakan Hukum LHK, dan Wakil Gubernur Kep. Babel melepasliarkan 2 pasang Elang Laut Dada Putih (Halieetus leucogaster), di kawasan Hutan Lindung Mangrove Munjang (areal HKm Gempa 01), Bangka Tengah pada Senin (24/5/2021).

Keempat individu satwa yang diberi nama Gab, Bek, Par, dan Pad tersebut berasal dari hasil penyerahan sukarela masyarakat Gabek, Pangkal Pinang dan Parit Padang, Sungailiat, Provinsi Kep. Bangka Belitung.

Burung Elang Laut Dada Putih (Haliaeetus leucogaster) merupakan salah satu jenis burung yang dilindungi sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri LHK Nomor P.106/Menlhk/Setjen/Kum.1/12/2018.

Wilayah sebarannya berada di Kepulauan Karimunjawa, Sumatra, Bangka Belitung, Kalimantan, Jawa, dan Kepulauan Maratua.

Kegiatan yang diinisiasi oleh BKSDA Sumatera Selatan dengan dukungan Yayasan Animal Lovers Bangka Indonesia (ALOBI) dalam rangka rangkaian International Day for Biological Diversity.

Ini sekaligus menjadi sarana edukasi dan publikasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem, pelestarian satwa, dan daya dukung kawasan konservasi sebagai habitat satwa yang merupakan implementasi dari program Kementerian LHK “Living in Harmony with Nature: Melestarikan Satwa Liar Milik Negara”.

Dirjen KSDAE, Wiratno mengatakan, Yayasan ALOBI telah membantu melepasliarkan sebanyak 7122 individu satwa, yaitu 136 individu satwa mamalia, 6740 individu Burung, dan 246 individu Reptil sejak tahun 2014. Kepedulian tersebut, kemudian diperkuat melalui kerjasama dengan Balai KSDA Sumatera Selatan mulai tahun 2018.

“Kita ini bukan penguasa alam, manusia bukan penguasa bumi, dia hanya salah satu tamu, oleh karena itu manusia harus menjaga etika aturan yang ditetapkan oleh bumi,” ujar Wiratno dalam keterangannya.

Kepala Balai KSDA Sumatera Selatan, Ujang Wisnu Barata, menyatakan bahwa sebelum dilepasliarkan, satwa dilindungi tersebut telah melalui proses rehabilitasi selama 18 bulan di Pusat Penyelamatan Satwa Yayasan ALOBI.

READ  Pelepasan Satwa Liar, Azwar Hadi Singgung Aktivitas Ilegal di Kawasan Konservasi

Selanjutnya setelah melalui proses habituasi selama 1 (satu) bulan di lokasi pelepasliaran, keempat individu satwa tersebut kemudian dinyatakan sehat dan layak dilepasliarkan berdasarkan Surat Kesehatan Hewan Nomor 029/SKL-SKKH/LK-PPS/IV/2021 tanggal 22 April 2021.

Sebelumnya dalam rangkaian program ini, pada tanggal 22 Mei, telah dilepasliarkan sebanyak 2 individu Ayam Jembang (Lophura ignita) berjenis kelamin jantan dan sepasang Bajing Tiga Warna (Callosciurus prevostii) di kawasan Taman Nasional Gunung Maras.

Dirjen Gakkum LHK, Rasio Ridho Sani mengatakan keberadaan satwa ini penting bagi manusia.

Pemerintah dan masyarakat dapat mendorong pencegahan dengan memberikan penyadaran kepada masyarakat, melibatkan masyarakat dalam pengamanan kawasan hutan.

“Kejahatan terjadi karena bisa saja mereka tidak tahu, sehingga kita berikan upaya penyadaran tersebut,” kata Roy.

SUMBER: TRIBUNNEWS.COM

Enable Notifications    Ok No thanks