Kucing Ini Dijuluki “Spesialis” Lahan Basah

  • Kucing tandang [Prionailurus planiceps] dan kucing bakau [Prionailurus viverrinus], merupakan jenis kucing liar yang hidup di Indonesia. Mereka sering dijuluki sebagai spesialis lahan basah.
  • Mereka sangat istimewa, karena pilihannya pada mangsa air [terutama ikan] dibandingkan dengan sebagian besar kucing. Ini didukung dengan segudang adaptasi morofologi mereka terhadap lahan basah.
  • Penelitian Ganguly & Adhya, [2021], menggambarkan keahlian memancing ikan kucing bakau, yang setidaknya dapat menjelaskan strategi kucing dalam berburu mangsa air. Mulai dari mencari, menunggu [1-3 jam], menyelam, hingga menyergap ikan.
  • Kedua spesies ini sangat penting bagi manusia, karena menjadi indikator kesehatan lahan basah yang berkaitan dengan air tawar. Dengan lebih banyak mengetahui tentang mereka, kita akan mengetahui apa yang terjadi pada lahan basah dan masa depan kita.

 

Kaki pendek namun kuat, memudahkan pergerakan di lumpur, serta jari-jari berselaput yang berfungsi layaknya sirip ikan, berguna untuk mengayuh saat berenang. Kucing tandang [Prionailurus planiceps] memang istimewa, hidup dan berburu di lahan basah.

“Ekornya pun tebal dan pendek, yang dapat digunakan sebagai pengarah gerak saat berenang layaknya dayung. Ia adalah perenang handal,” kata Erwin Wilianto, Founder Save Indonesian Nature & Thereatened Species/SINTAS Indonesia dan anggota Fishing Cat Working Group kepada Mongabay Indonesia, Senin [19/2/2024].

Kucing tandang berkerabat dekat dengan kucing bakau [Prionailurus viverrinus]. Keduanya merupakan jenis kucing liar yang hidup di Indonesia, sering dijuluki spesialis lahan basah.

“Hal ini dikarenakan mereka memiliki preferensi pakan yang tinggi berupa ikan dan crustaceae [jenis-jenis kepiting dan udang]. Oleh karena itu, mereka lebih sering ditemukan di sekitar badan air yang menjadi habitat pakannya,” lanjut Erwin.

Kucing bakau atau Fishing Cat yang habitatnya berada di lahan basah. Foto: Kla Trey/Cambodian Fishing Cat Project
Kucing bakau atau Fishing Cat yang habitatnya berada di lahan basah. Foto: Kla Trey/Cambodian Fishing Cat Project

 

Secara umum, keduanya memiliki adaptasi morfologi yang mirip terhadap ekosistem lahan basah. Ini termasuk cakar semi-retractile [tidak dapat ditarik sepenuhya] untuk mencengkeram mangsa air yang licin, serta bulu berlapis ganda yang mencegah tubuh mereka basah.

“Hal ini menunjukkan adanya seleksi yang kuat untuk berburu di lahan basah,” kata Divyajyoti Ganguly & Tiasa Adhya, [2021], dalam penelitian mereka yang dipublikasikan di Cold Spring Harbor Laboratory, berjudul “How Fishing Cats Prionailurus viverrinus fish: Describing a felid’s strategy to hunt aquatic prey.

Mereka juga memiliki gigi tajam melengkung. Namun, pertumbuhan gigi kucing bakau merupakan pola makan yang lebih eklektik [pilihan terbaik] jika dibandingkan kucing tandang.

READ  25 Satwa Hampir Punah Jadi Prioritas Konservasi

Pembeda paling kontras keduanya adalah ukuran kucing bakau dua kali lebih besar dibandingkan kucing tandang yang hanya seukuran kucing rumahan. Warna tubuhnya juga keabuan dengan pola khas kucing hutan, sedangkan kucing tandang berwarna cokelat kemerahan pada wajah, warna putih pada dagu dan moncong, serta tubuh berwarna gelap.

Kucing tandang yang dijuluki spesialis lahan basah. Foto: Wikimedia Commons/Jim Sanderson/CC BY-SA 3.0
Kucing tandang yang dijuluki spesialis lahan basah. Foto: Wikimedia Commons/Jim Sanderson/CC BY-SA 3.0

 

Ahli memancing di lahan basah

Dengan segudang perlengkapan yang mereka miliki, kucing tandang dan kucing bakau sangat ahli dalam memancing ikan; makanan favoritnya.

“Mereka sangat istimewa karena pilihan terhadap mangsa air dibandingkan sebagian besar kucing,” kata Ganguly & Adhya, [2021].

Dalam penelitian tersebut, juga tergambar bagaimana keahlian memancing ikan kucing bakau [fishing cat], yang dapat menjelaskan strateginya berburu.

Dari analisis 200 rekaman video kamera jebak [camera trap], para peneliti menjelaskan 12 perilaku kucing bakau saat berburu mangsa air. Ini terbagi dalam strategi berburu di perairan dalam dan dangkal.

Di perairan dalam, kucing mengawali pencarian mangsa dengan berjalan cepat ataupun lambat. Terkadang berhenti sejenak, mengamati permukaan air dan beberapa kali menyemprotkan urine ke permukaan atau vegetasi tepian air.

“Ia juga terus mengamati tepian badan air yang biasanya ditumbuhi tumbuhan terapung, terendam atau muncul, dari waktu ke waktu sambil berjalan.”

Saat menemukan tempat yang cocok, ia melambat, mengendus tanah atau udara dan mendekat lebih dekat ke badan air. ‘Mendekati’ terkadang diikuti menunggu.

“Selagi menunggu, termasuk berdiri, duduk, dan berjongkok, kucing tersebut tetap sesekali menyergap, sebagian besar diam dan dengan hati-hati mengawasi air dekat tepian untuk mencari tanda-tanda mangsa.”

Menurut Tiasa Adhya, rekan penulis utama riset tersebut, dalam webinar Indian Institute Of Technology Gandhinagar [IIT Gandhinagar] 2022, kucing bakau adalah pemancing yang sabar dan bijaksana.

“Mereka mampu menunggu selama satu hingga tiga jam hanya untuk menentukan momen penyergapan mangsa [ikan],” kata Tiasa yang juga anggota IUCN Cat Specialist Group dan anggota Fishing Cat Conservation Alliance.

READ  Kian Maraknya Penyelundupan Satwa Liar Melalui Bandara
Kucing tandang berstatus Genting dan diburu untuk dijadikan satwa peliharaan. Foto: Lili Rambe/Mongabay Indonesia
Kucing tandang berstatus Genting dan diburu untuk dijadikan satwa peliharaan. Foto: Lili Rambe/Mongabay Indonesia

 

Keseimbangan lahan basah

Masih penelitian yang sama, kucing bakau juga ditemukan bertengger di hamparan vegetasi yang terbentuk di tepian sungai. Kemungkinan, untuk menangkap ikan yang terperangkap dalam ‘dhauris’ atau keranjang ikan bambu yang dipasang nelayan tradisional.

Dalam situasi ‘mendekati’, terkadang juga diikuti oleh perilaku ‘menguntit’. Saat mangsa terdeteksi, ia menjadi waspada dan mengintai dengan pandangan dan telinga terfokus ke arah mangsa.

Saat mengintai, ada kucing yang tetap diam dan menunggu mangsa berenang dalam jarak serang. Namun, ada juga yang mendekat ke tanah untuk mencapai jarak serang. Dengan melakukan hal ini, vegetasi terapung mungkin bisa menjadi tempat persembunyian bagi kucing.

Dalam dalam webinar, Tiasa juga menjelaskan bahwa kucing bakau memiliki kemampuan untuk menyeimbangkan tubuhnya, saat mencoba menangkap ikan di antara serasah kayu yang terapung dan terombang ambing di sekitar pesisir.

“Pada jarak sangat dekat, kucing pemancing terjun atau menyelam [tergantung kedalaman] dengan kaki depan terentang diikuti kepala untuk menangkap mangsa. Jika serangan tidak berhasil, kucing segera keluar, membuang sisa air dari tubuhnya dan segera mengambil posisi di tempat lain,” tulis penelitian tersebut.

Beragam jenis ikan terancam hilang akibat lahan basah yang terus terdegradasi. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia
Beragam jenis ikan terancam hilang akibat lahan basah yang terus terdegradasi. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia

 

Sementara di air yang lebih dangkal, setinggi lutut atau kaki, kucing bakau cenderung lebih aktif, yakni dengan mengais kerikil atau rumput untuk mengusir mangsa dari persembunyiannya.

“Di perairan dangkal, kucing mengintai dengan tetap diam agar mangsa berada dalam jarak serang, lalu menerkam dengan mengejar mangsanya baik setelah mengintai atau langsung mendeteksi gerakan, saat berada dalam mode ‘Pencarian Aktif’. Kami tidak mencatat upaya yang berhasil,” lanjutnya.

Jika perburuan berhasil, kucing akan menangkap mangsanya dan keluar dari air menuju daratan. Mangsa kecil akan dimakan dengan cepat tanpa sisa di sepanjang tepi sungai sambil tetap waspada. Namun, bila mangsa berukuran besar akan diseret menjauhi badan air.

“Ketika seekor ikan gabus [snake-head] yang diperkirakan berbobot sekitar dua kilogram ditangkap kucing bakau betina, mangsa langsung diseret ke alang-alang di dekatnya. Berdasarkan pengamatan di lapangan, kucing tersebut memakan daging ikan yang lebih besar, sedangkan kepala, usus, dan kantung telurnya tertinggal,” jelas penelitian Ganguly & Adyha [2021].

Ekosistem lahan basah di Sumatera Selatan yang tidak luput dari ancaman alih fungsi lahan. Foto drone: Humaidy Kennedy/Mongabay Indonesia
Ekosistem lahan basah di Sumatera Selatan yang tidak luput dari ancaman alih fungsi lahan. Foto drone: Humaidy Kennedy/Mongabay Indonesia

 

READ  Saat Dampak Pergeseran Musim Mencemaskan Pembudidaya Rumput Laut Pulau Seram

Indikator lahan basah

Lanskap lahan basah, sebagai ekosistem paling rentan di Bumi, memiliki beragam jenis ikan melimpah, yang sangat penting bagi kucing tandang maupun kucing bakau.

Erwin Wilianto mengatakan, mereka merupakan indikator kesehatan lingkungan perairan atau lahan basah, seperti sungai, rawa gambut, hingga mangrove.

“Pastinya, bersama perubahan iklim, degradasi lingkungan perairan berpengaruh negatif terhadap keragaman jenis dan populasi satwa-satwa aquatik, yang merupakan pakan utama kucing tandang maupun kucing bakau,” lanjutnya.

Menurut Tiasa Adhya, masih di webinar IIT Gandhinagar, kucing yang hidup di lahan basah juga sangat terkait dengan kehidupan kita [manusia] dalam banyak hal. Ini berkaitan dengan air tawar yang sehat berasal dari ekosistem lahan basah yang sehat.

Bumi hanya memiliki 0,1 persen ekosistem air tawar, yang menampung sekitar 10 persen spesies yang kita kenal atau tidak. Ruang-ruang kecil ini menampung begitu banyak spesies, sehingga menjadikan mereka pusat keanekaragaman hayati secara alami.

“Jadi, bayangkan,kondisi lahan basah saat ini sangat rentan karena hanya sedikit lahan tersisa. Dan kucing bakau menjadi indikator ekosistem ini,” katanya.

Sebagai informasi, kucing tandang saat ini berstatus Genting [Endangered/EN] menurut IUCN, tersebar secara terbatas dan tidak merata di sekitar lahan basah di hutan dataran rendah di Pulau Sumatera, Kalimantan, hingga Semenanjung Malaysia.

“Sebelumnya juga tersebar di Thailand bagian selatan namun pengamatan terakhir yang dikonfirmasi, terjadi hampir 20 tahun yang lalu,” dikutip dari situs resmi IUCN.

Sementara kucing bakau, IUCN memberi status Rentan [Vulnerabble/VU], yang tersebar di India, Nepal, Srilangka, Bangladesh, Myanmar, Laos, Kamboja, Malaysia, dan Indonesia.

“Di berbagai tingkatan, spesies ini sebenarnya harus menjadi prioritas. Ketika kita banyak mengetahui tentang mereka, kita akan tahu apa yang sedang terjadi pada komunitas di sana, serta apa yang terjadi pada ekosistem lahan basah dan apa yang akan terjadi pada kita di masa depan,” tegas Tiasa Adhya.

 

Referensi jurnal:

Ganguly, D., & Adhya, T. (2020). How fishing cats Prionailurus viverrinus Bennett, 1833 fish: Describing a felid’s strategy to hunt aquatic prey86(2), 182–189. https://doi.org/10.1515/mammalia-2020-0133

 

SUMBER: MONGABAY

Enable Notifications    Ok No thanks