Laju Degradasi Hutan Mangrove tak Sebanding dengan Upaya Rehabilitasi

  • Total luas hutan mangrove di dunia sekitar 18 juta hektar. Sekitar 25 persen atau 3,311 juta hektar berada di Indonesia. KLHK pada 2019 mendata luas hutan mangrove Indonesia sekitar 3,31 juta hektar. Sekitar 600.000 hektar dalam kondisi kritis.
  • Indonesia memiliki sebanyak 49 jenis mangrove sejati dan 155 jenis mangrove asosiasi.
  • Hutan mangrove memiliki fungsi fisik, ekologi dan ekonomi. Fungsi fisik ekosistem mangrove bisa menahan laju abrasi, mengurangi laju badai, tsunami dan air laut.
  • Ekosistem mangrove berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim. Hutan mangrove menyerap karbon antara tiga sampai lima kali lipat dibandung hutan terestrial.

 

Yayasan Kehati mencatat laju degradasi hutan mangrove di Indonesia tak sebanding dengan usaha rehabilitasi yang dilakukan. Setiap pulau terjadi degradasi ekosistem mangrove, terjadi penurunan luasan hutan mangrove yang banyak dialihfungsikan salah satunya menjadi tambak.

“Degradasi mangrove lebih luas dibandingkan rehabilitasi,” kata Manajer Ekosistem Kelautan Yayasan Kehati, Yasser Ahmed dalam webinar Identifikasi Mangrove dan Panduan Program CSR Rehabilitasi Mangrove di Indonesia yang diselenggarakan Kehati, 23 Juli 2021.

Kementerian Lingkungan dan Kehutanaan (KLHK) pada 2019 mendata luas hutan mangrove Indonesia sekitar 3,31 juta hektar. Indonesia memiliki sebanyak 49 jenis mangrove sejati dan 155 jenis mangrove asosiasi. “Degradasi hutan mangrove berpacu dengan rehabilitasi,” katanya.

Sementara ekosistem mangrove berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim. Hutan mangrove menyerap karbon antara tiga sampai lima kali lipat dibandung hutan terestrial. Yasser menyebut kekeliruan program rehabilitasi mangrove lantaran tanpa didahului riset atau studi pendahuluan juga tanpa dirawat serius. “Tingkat keberhasilan rendah karena tanpa riset memadai,” katanya.

Dari pengalaman Yayasan Kehati dalam melakukan rehabilitasi mangrove, katanya, ada sejumlah kunci keberhasilan. Yakni dimulai dengan studi pendahuluan, penguatan lembaga, dilanjutkan penanaman dengan perawatan. Selain itu, juga dilakukan usaha untuk menggandeng mitra dengan membuat produk turunan mangrove dan perikananan berkelanjutan.

“Masyarakat didorong menjadi subjek, menjaga ekosistem mangrove berkelanjutan,” katanya. Melatih beragam olahan dari produk mangrove seperti membatik mangrove, teh, sabun, kopi, kudapan dan minuman. Strategi konservasi juga harus menjangkau ekologi, sosial dan ekonomi.

READ  Inilah Beberapa Spesies Terancam Punah Akibat Ulah Manusia

“Ekowisata mangrove bisa mewakili ketiga aspek. Ekologi, sosial dan ekonomi,” katanya.

Ekosistem mangrove di Aru Tengah sebagai habitat Kepiting Bakau. Foto : Aziz F 2021
Ekosistem mangrove di Aru Tengah sebagai habitat Kepiting Bakau. Foto : Aziz F 2021

 

Yasser menyebut komitmen pemerintah dalam merehabilitasi mangrove minimal 50.000 hektar dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Ia menunjukkan sejumlah program pemerintah dalam rehabilitasi mangrove. Yakni KLHK memiliki program pemulihan ekonomi nasional (PEN), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menerapkan program pusat restorasi pengembangan ekosistem pesisir 2.400 hektar.

Sementara Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) melalui program rehabilitasi mangrove di sembilan provinsi. Meliputi Sumut, Riau Kepri, Babel, Kalbar, Kaltim, Kaltaara, Papua dan Papua Barat.

 

Sekitar 25 Persen Luas Mangrove Dunia di Indonesia

Pengajar Ilmu Kelautan Universitas Diponegroro Rudhi Pribadi menjelaskan mangrove tersebar di kawasan tropis dan sedikit di sub tropis. Total luas hutan mangrove di dunia sekitar 18 juta hektar. Sedangkan luas hutan mangrove di Indonesia 3,311 juta hektar atau sekitar 25 persen total hutan mangrove dunia, sedangkaan Brazil delapan persen, dan Australia tujuh persen.

Sehingga Indonesia menjadi pusat persebaran mangrove, secara luas ekosistem mangrove maupun jenis vegetasi. Sedangkan tak semua areal cocok ditumbuhi mangrove. Sekitar 60 persen hutan mangrove di Papua dan Papua Barat. Meliputi Papua Barat 473.059 hektar, Papua 1.634.041 hektar. Disusul Kalimantan Timur 388.991 hektar, Riau 170.000 hektar, dan Sumatera Selatan 152 ribu hektar.

“Mangrove, ideal tumbuh di daerah terlindung,” kata Rudhi. Mangrove tak bisa hidup di daerah abrasi atau diterjang gelombang besar. Secara alamaih, katanya, lokasi tersebut tak sesuai. Rudhi menyebut ada konektivitas ekosistem mangrove dengan lingkungan sekitar yakni arah laut dan darat.

Pendaratan ikan dan udang dikaitan mangrove. Banyak kajian praktis dilakukan yang menyebutkan mangrove menjadi tempat penting bagi perikanan. “Kalau ingin menyelamatkan mangrove harus lihat seluruhnya. Tak bisa hanya mangrove,” ujarnya.

READ  Gajah Terbesar di Sumatera Terluka, Beratnya Mencapai 6 Ton

Di Karimunjawa, ekosistem mangrove berhimpitan dengan padang lamun dan terumbu karang. Sedangkan penelitian Rudhi di Lampung Selatan empat tahun, di bawah hutan mangrove menjadi ekosisem terumbu karang.

“Sangat tidak umum. Kebutuhan ekosistem terumbu karang dengan mangrove berbeda. Terumbu karang membutuhkan perairan yang jernih sementara mangrove cenderung berlumpur dan keruh,” katanya. Pengamatan Rudhi, ada beberapa jenis terumbu karang yang bisa tumbuh baik di bawah ekosistem mangrove.

Penebangan liar mangrove di Langsa, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang terjadi karena permintaan kayu bakau meningkat. Terutama dijadikan arang. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia
Penebangan liar mangrove di Langsa, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang terjadi karena permintaan kayu bakau meningkat. Terutama dijadikan arang. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

 

Fungsi Ekosistem Mengrove

Secara fungsi, hutan mangrove memiliki fungsi fisik, ekologi dan ekonomi. Fungsi fisik ekosistem mangrove bisa menahan laju abrasi, mengurangi laju badai, tsunami dan air laut. Rudhi menyebut sejumlah vegetasi mangrove mencapai diameter dua meter, dan tinggi sampai 50 meter.

“Mangrove jenis Avicennia alba terbesar yang pernah saya jumpai,” katanya. Rudhi meneliti mangrove di Papua, yang diameternya mencapai empat lingkaran tangan orang dewasa. Dengan kondisi vegetasi mangrove seperti ini, kata Rudhi, bisa dipastikan mampu menahan laju abrasi. Usia vegetasi diperkirakan sekitar 100 tahun lebih.

“Kondisi vegetasi tergantung tempat tumbuh, spesies, dan gangguan,” ujarnya.

Sedangkan fungsi ekologi ekosistem mangrove menghasilkan karbon dan nutrien. Hasil penelitiannya, setiap tahun satu hektar hutan mangrove menghasilkan 13 ton serasah mangrove kering. Sebagian tersimpan karbon, sebagian terbawa air terurai menjadi nutrien. “Menjadi pupuk di perairan. Fungsi ekologi sulit dilihat tetapi bisa dirasakan,” katanya.

Selain itu, juga sebagai tempat menjadi tempat mencari pakan dan tempat pengasuhan ikan atau nursery ground. Sejumlah penelitian, katanya, membuktikan hutan mangrove menjadi habitat bagi sidat, lobster, udang, kepiting, kerang dan napoleon.

Sedangkan fungsi ekonomi mangrove yang paling mudah dirasakan. Mengrove menghasilkan kayu, perikanan, udang, lobster, kerang dan kepiting. “Kepiting menjadi bio indikator, jika ukuran besar menunjukkan mangrove masih bagus,” katanya.

Karena fungsi ekonomi, katanya, banyak praktik yang merusak ekosistem. Sebagian besar hutan mangrove rusak karena aktivitas manusia. Seperti penebangan mangrove untuk konversi lahan dialihfungsikan menjadi tambak, dan peruntukan lain. Raklamasi juga merusak mangrove secara tidak langsung. Lantaran mengubah pola arus, sehingga merusak hutan mangrove.

READ  Lindungi, Ekosistem Leuser dari Berbagai Kepentingan “Jahil”

Rudhi menunjukkan perubahan di pesisir Semarang. Peta pada 1741 menunjukkan kawasan pesisir terbentuk rawa dan menjadi hutan mangrove. Pada peta 1800-an mangrove berpetak, menjadi sawah. Sedangkan pada 1920-an mangrove sudah tak ada, berubah menjadi tambak. Era 1980-an hutan mangrove di pantai utara berubah menjadi tambak.

“Mangrove habis, tambak habis menjadi perkotaan. Menjadi beban. Ada pengambilan air tanah, sehingga terjadi penurunan muka tanah,” katanya. Jika 20 tahun ini tak dilakukan perubahan, maka dikhawatirkan 30 persen kawasan Semarang akan tergenang permanen.

Sejumlah nelayan pulang dari melaut dan harus melewati hamparan lumpur di sekitar Pesisir Desa Batu Belubang yang sudah kehilangan mangrovenya. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia
Sejumlah nelayan pulang dari melaut dan harus melewati hamparan lumpur di sekitar Pesisir Desa Batu Belubang yang sudah kehilangan mangrovenya. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia

Kerusakan lain juga terjadi di Lampung, hutan mangrove menjadi tambak. Pertambakan udang Dipasena dan Bratasena yang terbesar di Asia Tenggara. “Dulu green belt sekarang rusak,” katanya.

Rudhi menjelaskan jika hutan mangrove terkait dengan ekosistem pesisir lain. Saling tergantung, dan terhubung. Jika salah satu ekosistem terganggu, katanya, akan menganggu ekosistem yang lain. Mangrove hidup di intertidal zone atau daerah pasang surut. Mangrove sangat istimewa, katanya, lantaran vegetasi lain tak bisa hidup sebaik mangrove.

Ia menyebut tiga alasan mangrove harus dilindungi. Pertama mangrove memiliki adaptasi morfologi yang sangat spesifik. Adaptasi berlangsung ribuan tahun. Hanya spesies vegetasi tertentu yang tumbuh di lingkungan tersebut. “Jika vegetasi rusak tak bisa digantikan peran oleh vegetasi lain,” katanya.

Kedua, mangrove multi fungsi karena hidup di antara daratan dan lautan. Secara khusus memiliki fungsi yang tak dimiliki vegetasi di darat maupun laut. Sehingga menjadi pertimbangan penting mangrove harus dilindungi.

Ketiga, keberadaan hutan mangrove terancam. Sekutar sepertiga hutan mangrove terancam dan rusak. Di Indonesia, sekitar 600.000 hektar diantaranya dalam kondisi kritis. Sehingga cukup alasan mangrove harus dilindungi.

SUMBER: MONGABAY

Enable Notifications    Ok No thanks