Orangutan Kalimantan dan Ancaman Nyata Kehidupannya

  • Indonesia memiliki 3 jenis orangutan yaitu orangutan sumatera [Pongo abelii], orangutan kalimantan [Pongo pygmaeus], serta orangutan tapanuli [Pongo tapanuliensis].
  • Lembaga Konservasi Dunia [IUCN] telah menetapkan ketiga orangutan tersebut dalam status Kritis [Critically Endangered/CR], atau satu langkah menuju kepunahan di alam liar.
  • Pemerintah Indonesia melindungi orangutan sumatera, kalimantan, dan tapanuli, berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi, pada nomor 61, 62, dan 63.
  • Untuk orangutan kalimantan, ancaman habitatnya bertambah, dikarenakan adanya pembangunan infrastruktur untuk ibu kota baru Indonesia di Kalimantan timur. Selain tentunya, perburuan dan perdagangan liar, serta kebakaran hutan yang masih terjadi.

 

Hutan Indonesia merupakan paru-paru dunia. Hal yang tidak saja menjadi berkah bagi kita, tetapi juga untuk kehidupan satwa liar, tak terkecuali orangutan [Pongo].

“Hutan dan orangutan adalah dua hal berharga,” tutur Hardi Baktiantoro, Founder Centre for Orangutan Protection pada acara Bincang Alam Mongabay IndonesiaJum’at, 27 Agustus 2021.

Sesungguhnya istilah “orangutan” diambil dari Bahasa Melayu, yaitu ‘orang’ yang berarti manusia dan ‘utan’ yang artinya hutan. 

Di Indonesia, ada tiga jenis orangutan, yaitu orangutan sumatera [Pongo abelii], orangutan kalimantan [Pongo pygmaeus], serta orangutan tapanuli [Pongo tapanuliensis]

Mereka hidup di hutan tropis Indonesia, di Sumatera dan Kalimantan [Indonesia, Malaysia].

“Ketiga orangutan ini nasibnya terancam punah. Satu dari sejumlah faktor penyebab adalah perubahan fungsi hutan menjadi kebun sawit dan pertambangan,” tutur Hardi.

Namun, Hardi lebih menyoroti kondisi orangutan kalimantan. “Ancaman habitatnya bertambah, ada pembangunan infrastruktur untuk ibu kota baru Indonesia di Kalimantan timur. Selain tentunya, perburuan dan perdagangan liar, serta kebakaran hutan ” jelasnya.

Orangutan di Labanan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, ini diajarkan kembali di Sekolah Hutan agar bisa hidup di hutan bila dilepasliarkan nanti. Foto: COP
Orangutan di Labanan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, ini diajarkan kembali di Sekolah Hutan agar bisa hidup di hutan bila dilepasliarkan nanti. Foto: COP

Persebaran

Berdasarkan data Pusat Studi Satwa Primata Institut Pertanian Bogor [IPB], orangutan kalimantan terbagi dalam tiga sub-jenis berdasarkan variasi morfologi dan genetik, yaitu Pongo pygmaeus pygmaeus [barat laut Kalmantan dan Sabah], Pongo pygmaeus wurmbii [barat daya Kalimantan], dan Pongo pygmaeus morio [timur Kalimantan dan Sabah].

“Orangutan kalimantan memiliki warna rambut lebih gelap dan tubuh lebih besar dibanding orangutan sumatera,” tulis Pusat Studi Satwa Primata IPB.

Satwa ini memiliki rambut panjang dan kusut berwarna merah gelap kecokelatan. Warna pada bagian wajah mulai dari merah muda, merah, hingga hitam. Tingkah lakunya, bergerak lambat dan sering melakukan aktivitas turun dari pohon dan menginjak tanah. 

Berat orangutan kalimantan jantan dewasa bisa mencapai 50 hingga 90 kg dan tinggi badan 1,25 hingga 1,5 m. Sementara betina dewasa beratnya 30 – 50 kg dan tinggi 1 meter.

Orangutan ini menderita luka di kepala. Ruang geraknya menyempit akibat habitatnya di Hutan Lindung Sungai Lesan, Kalimantan Timur, mulai dikelilingi sawit. Foto: Centre for Orangutan Protection [COP]
Orangutan ini menderita luka di kepala. Ruang geraknya menyempit akibat habitatnya di Hutan Lindung Sungai Lesan, Kalimantan Timur, mulai dikelilingi sawit. Foto: Centre for Orangutan Protection [COP]

Hal menarik dari orangutan kalimantan jantan, sebagian dari mereka memiliki pelipis seperti bantal sehingga membuat wajah satwa ini terlihat lebih besar. Juga,  memiliki jakun yang dapat digelembungkan untuk menghasilkan suara keras, yang digunakan untuk memanggil dan memberitahu keberadaan mereka.

 Mereka juga memiliki lengan panjang. Fungsinya, tidak hanya untuk meraih makanan seperti buah-buahan, tetapi juga untuk berayun dari satu pohon ke pohon lain. 

Hutan dan lahan gambut merupakan pusat dari daerah jelajah orangutan kalimantan. Hutan ini lebih banyak menghasilkan tanaman berbuah besar, dibandingkan dengan hutan Dipterocarpaceae yang kering dan banyak mempunyai pohon-pohon tinggi berkayu besar, seperti keruing. 

Pada 2004, para ilmuan memperkirakan total populasi orangutan di Pulau Kalimantan [Indonesia dan Malaysia] sekitar 54 ribu individu. 

Namun, Hardi Baktiantoro menegaskan hal itu cuma perkiraan, dan angkanya bisa saja kurang dari itu.

“Estimasi boleh dianggap banyak atau bahkan bertambah. Tapi, saya orang lapangan menegaskan, habitat mereka terus berkurang,” ujarnya. 

Kekerasan terhadap orangutan terus terjadi. Penegakan hukum harus dilakukan terhadap pelaku kejahatan satwa liar dilindungi ini. Foto: Centre for Orangutan Protection
Kekerasan terhadap orangutan terus terjadi. Penegakan hukum harus dilakukan terhadap pelaku kejahatan satwa liar dilindungi ini. Foto: Centre for Orangutan Protection

Pembangunan

Terkait ibu kota, Presiden Jokowi memastikan tetap melanjutkan pembangunan ini, sesuai rencana sebelumnya. 

Pembangunan infrastruktur tersebut meliputi jalan raya dan kereta api, bandara, dermaga, pelabuhan, dan saluran irigasi. Sebab kata Jokowi, seperti dikutip Tempo, untuk membangun ibu kota baru yang paling penting adalah infrastruktur untuk membawa logistik.

Ibu Kota Negara Indonesia ini, berlokasi sebagian di Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian lagi di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Adapun lahan yang digunakan mengambil lahan bekas hutan tanaman industri seluas 256 ribu hektar yang ditambah kawasan cadangan. Totalnya, mencapai 410 ribu hektar.

Tiga spesies orangutan yang ada di Indonesia: pongo abelii, pongo tapanuliensis, dan pongo pygmaeus. Sumber: Batangtoru.org
Tiga spesies orangutan yang ada di Indonesia: pongo abelii, pongo tapanuliensis, dan pongo pygmaeus. Sumber: Batangtoru.org

Perlindungan

Sesungguhnya, orangutan kalimantan, orangutan sumatera, dan orangutan tapanuli berstatus dilindungi.

Pemerintah Indonesia menetapkannya berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi, pada nomor 61, 62, dan 63.

Lembaga Konservasi Dunia [IUCN] telah menetapkan ketiganya dalam status Kritis [Critically Endangered/CR], atau satu langkah menuju kepunahan di alam liar.

SUMBER: MONGABAY

READ  Nasib Jalak Suren, Diburu di Alam Liar untuk Diperlombakan Sebagai Burung Kicau

 

Enable Notifications    Ok No thanks