Pelaku Perdagangan Satwa Kukang Terancam Hukuman 5 Tahun Penjara

Polisi limpahkatwn kasus perdangan satwa ke kejaksaan (Foto : Okezone.com/Rus)
Polisi limpahkatwn kasus perdangan satwa ke kejaksaan (Foto : Okezone.com/Rus)

AGAM – Kasus perdagangan satwa kukang (Nycticebus Coucang) yang di sidik Satreskrim, Polres Agam dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resor Agam akhirnya dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Agam.

Kepala BKSDA Resor Agam, Ade Putra menjelaskan kasus tersebut menyeret HJ (45), warga Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman. Kasus tersebut berawal ketika HJ ditangkap oleh tim gabungan BKSDA Sumatera Barat dan Satreskrim Polres Agam di Pasar Bawan, Kecamatan Ampek Nagari, Kabupaten Agam, pada Rabu 24 Maret 2021.

“Kami telah melimpahkan kasus tersebut ke Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Agam bersama tersangka dan barang bukti, berkas perkara dinyatakan lengkap atau P-21 oleh Jaksa,” kata Ade, Kamis (20/5/2021).

Ade menjelaskan HJ ditangkap saat membawa dan akan menjual dua ekor Kukang dari Lubuk Sikaping ke Kabupaten Agam. “Dia sudah dipantau sejak tahun 2020, karena dicurigai terlibat dalam perdagangan satwa dilindungi antar propinsi dengan modus menggunakan angkutan sewa travel,” jelasnya.

Setelah menangkap HJ, petugas juga menyita dua ekor kukang yang disimpan dalam dua kotak kecil, serta satu unit sepeda motor dan telepon seluler yang digunakan dalam menjalankan aksinya.

“Saat diamankan kondisi kukang cukup memprihatinkan, pelaku meletakkannya di dalam kotak bekas bola lampu yang kecil dan sempit sehingga membuat kukang stres karena susah untuk bergerak,” katanya.

Kini pelaku dijerat pasal 21 ayat 2 huruf a Undang-undang (UU) nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. “Sanksinya adalah pidana penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak Rp100 juta,” katanya.

Kukang nama latinnya Nycticebus coucang adalah jenis primata yang dilindungi oleh peraturan perundangan di indonesia. Di Level internasional status konservasinya adalah terancam punah dan masuk dalam klasifikasi Appendix I yang artinya tidak boleh dimanfaatkan untuk perdagangan.

READ  BKSDA Agam Telusuri Video Penyiksaan Simpai

“Barang bukti berupa dua ekor kukang saat ini sedang diinapkan di BKSDA dan akan segera dilepasliarkan ke alam dalam waktu dekat,” tutupnya.

SUMBER: okezone.com

Enable Notifications    Ok No thanks