Pembalakan Liar di TNGL Memang Nyata

  • Pembalakan liar masih terjadi di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Leuser.
  • Kasus terbaru, personil Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser [TNGL] menangkap enam pelaku pembalakan di wilayah administrasi Desa Tenggulun, Kecamatan Tenggulun, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh.
  • Namun, petugas taman nasional sempat dihadang puluhan orang yang meminta para pelaku pembalakan itu dibebaskan.
  • Di Kabupaten Aceh Tamiang, kayu-kayu yang diambil dari TNGL dipasok ke sejumlah pengolahan atau dikirim ke Sumatera Utara. Jenis kayu yang diincar adalah merbau, medang, meranti, dan damar.

 

Personil Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser [TNGL] diserang puluhan orang saat melakukan pemantauan dan pendataan kawasan di dalam hutan Taman Nasional Gunung Leuser [TNGL]. Akibatnya, beberapa petugas terluka, kendaraan yang mereka gunakan rusak, dan sejumlah peralatan hilang. 

Kegiatan monitoring tersebut dilaksanakan pada 23 – 25 September 2021, di kawasan TNGL yang masuk wilayah administrasi Desa Tenggulun, Kecamatan Tenggulun, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh. 

Kepala Bidang Teknis BBTNGL, Adhi Nurul Hadi mengatakan, tim yang berjumlah 12 orang, saat itu melakukan pemantauan dan pendataan rutin. 

“Sabtu siang, mereka mendengar suara gergaji mesin di kawasan TNGL,” terangnya, Minggu [26/9/2021].

Kayu yang ditebang di hutan TNGL. Perambahan dan pembalakan liar merupakan ancaman utama kelestarian TNGL. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia
Kayu yang ditebang di hutan TNGL. Perambahan dan pembalakan liar merupakan ancaman utama kelestarian TNGL. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

 

Tim dibagi dua, mencari asal suara chainsaw itu. Dari lokasi, diketahui ada enam pelaku pembalakan liar dan sejumlah kayu yang telah dipotong dalam ukuran tertentu. 

“Tim satu menangkap dua warga Kecamatan Seruway, inisial AR [42] dan seorang remaja [17]. Sementara tim kedua menangkap empat pelaku, yaitu MR [38] warga Kampung Bukit, serta M [53], AGR [19], dan F [20] yang merupakan warga Desa Tenggulung,” ujar Adhi.  

Tim menyita 26 batang kayu medang dan meranti batu dari para pelaku.

“Setelah itu, tim meninggalkan lokasi dan membawa pelaku beserta barang bukti untuk pemeriksaan lebih lanjut.” 

Namun saat pulang, tim dihadang 50 hingga 80 orang yang memaksa enam pelaku itu dibebaskan. Mereka juga mengambil barang bukti, menyerang petugas, serta merusak kendaraan.  

“Pukul 20.00 WIB, dilakukan mediasi antara tim dengan kelompok orang tak dikenal di Kantor Desa Tenggulun dengan melibatkan Kepala Desa Tenggulun, Bhabinkamtibmas Polsek Simpang Kiri, dan Babinsa Pos Ramil Tenggulun.” 

Barang bukti ini diamankan personil BBTNGL dari para pelaku pembalakan liar di Desa Tenggulun, Kecamatan Tenggulun, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, pada Sabtu [25/9/2021]. Foto: Dok. BBTNGL
Barang bukti ini diamankan personil BBTNGL dari para pelaku pembalakan liar di Desa Tenggulun, Kecamatan Tenggulun, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, pada Sabtu [25/9/2021]. Foto: Dok. BBTNGL

Sekitar pukul 22.00 WIB, mediasi dilanjutkan ke kantor Polres Aceh Tamiang. Diputuskan untuk dilakukan perjanjian perdamaian antara Kepala Desa Tenggulun dengan Ketua Tim Monitoring dan Pendataan Balai Besar TNGL. 

“Beberapa kondisi yang dialami adalah anggota tim mengalami memar akibat pemukulan. Satu unit kendaraan roda empat rusak serta delapan unit kendaraan roda dua rusak ringan dan sedang,” lanjutnya. 

Adhi mengatakan, Kepala Desa Tenggulun berjanji akan mengundang tim BBTNGL untuk membahas kegiatan illegal logging yang terjadi di wilayah itu.

“Kami tetap akan menindak setiap kegiatan liar yang terjadi di kawasan TNGL,” ujarnya. 

Penutupan jalan liar yang berada di batas Taman Nasional Gunung Leuser dilakukan, sehingga akses para pelaku kejahatan dapat diminimalisir. Foto: Forum Konservasi Leuser
Penutupan jalan liar yang berada di batas Taman Nasional Gunung Leuser dilakukan, sehingga akses para pelaku kejahatan dapat diminimalisir. Foto: Forum Konservasi Leuser

Dipasok ke sejumlah tempat

Di Kabupaten Aceh Tamiang, kayu-kayu yang diambil dari TNGL dipasok ke sejumlah pengolahan untuk selanjutnya dikirim lagi ke tempat lain, termasuk ke Sumatera Utara. Selain TNGL, kayu juga diambil dari hutan lindung yang berada di wilayah Aceh Tamiang maupun di Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur. 

“Biasanya kayu yang dipasok ke Sumatera Utara berasal dari Aceh Tamiang. Jenisnya bernilai ekonomi tinggi seperti merbau, medang, meranti, dan damar,” ujar Suryadi, warga Kecamatan Tenggulun.

Dia mengatakan, di Tenggulun sudah menjadi pemandangan biasa kayu-kayu dari dalam hutan diangkut dengan menggunakan truk atau becak yang melewati jalan umum. 

“Kayu-kayu tersebut ada yang awalnya diangkut ke panglong kayu di Aceh Tamiang, lalu dipasok ke Sumatera Utara. Tapi ada juga yang langsung dikirim ke Sumatera Utara.”

Saat kejadian itu, sambung Suryadi, petugas BBTNGL tidak bisa berbuat banyak karena dihadang puluhan orang dari berbagai tempat. Umumnya, mereka adalah pelaku pembalakan liar, atau keluarga pelaku yang ditangkap. 

“Kabar baiknya, persoalan ini diselesaikan dengan damai,” tambahnya. 

Suryadi mengungkapkan, untuk menindak pembalakan liar di Tenggulun, petugas harus benar-benar siap. “Mereka akan membela bila ada kawannya yang ditangkap,” paparnya. 

Pembalakan liar, perambahan, serta perburuan merupakan masalah utama yang masih terjadi di TNGL, taman nasional yang merupakan Situs Warisan Dunia Hutan Hujan Tropis Sumatera atau Tropical Rainforest Heritage of Sumatra [TRHS].

SUMBER: MONGABAY

READ  Mangrove di Bangka Belitung, Antara Pelestarian dan Ancaman Pembukaan Tambak

 

Enable Notifications    Ok No thanks