Riwayat Hutan Lindung 7 Hektare Berakhir Sebab Dibabat Wakil Rakyat

Oknum anggota DPRD Kabupaten Soppeng dari fraksi Gerindra berinisal A ditetapkan menjadi tersangka kasus pembalakan hutan lindung seluas 7 hektare (ha) (dok istimewa)
Oknum anggota DPRD Kabupaten Soppeng dari fraksi Gerindra berinisal A ditetapkan menjadi tersangka kasus pembalakan hutan lindung seluas 7 hektare (ha) (dok istimewa)

Jakarta – Riwayat hutan lindung seluas 7 hektare di Soppeng, Sulawesi Selatan berakhir akibat dibabat oleh wakil rakyat setempat. Pelaku yang merupakan anggota DPRD Kabupaten Soppeng dari Fraksi Gerindra berinisial A kini ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus itu.

Kasat Reskrim Polres Soppeng Iptu Noviarif Kurniawan mengatakan A jadi tersangka bersama dua orang pekerjanya. Kedua orang itu berinisial M dan N.

“(Tersangka) inisial A, M, dan N. Inisial A anggota DPRD Soppeng (Partai) Gerindra,” ujar Noviarif kepada detikcom, Selasa (3/8/2021).

Penanganan kasus ini berawal dari temuan polisi kehutanan Dinas Kehutanan Soppeng terhadap pembalakan liar di Desa Umpungeng, wilayah Kecamatan Lalabata, Soppeng, pada Desember 2020 lalu. Temuan itu kemudian diteruskan ke pihak Polres Soppeng.

“Awalnya dari Dinas Kehutanan menemukan adanya kegiatan pembalakan, kemudian bersama-sama dengan anggota dicek ke lokasi, ternyata memang betul adanya pembalakan hutan masuk wilayah hutan lindung,” ungkap Noviarif.

Setelah ditetapkan sebagai tersangka, ketiganya tidak ditahan. Sebab, penyidik menilai A dan kedua pekerjanya itu koperatif dan tak akan menghalangi penyidikan.

“Alasannya (tidak ditahan) yang bersangkutan koperatif, penyidikan mereka bersiap tidak merusak menghalangi dan tidak melambatkan,” kata Noviarif.

A dan 2 Pekerjanya Wajib Lapor

Alasan selanjutnya tersangka tidak ditahan karena salah satu tersangka menjalani proses pengobatan. Polisi menyebut kondisi pandemi juga menjadi pertimbangan penyidik belum menahan para tersangka.

“Berhubung juga lagi pandemi, jangan sampai kita tahan nanti di sini penyakitnya parah atau terjangkit atau menjangkitkan virus, sebagai gantinya kita mewajib-laporkan,” ungkapnya.

Kanit 3 Reskrim Polres Soppeng Ipda Burhanuddin menjelaskan bawah tersangka A melakukan penebangan pohon pada lahan seluas 7 hektare dari luas lahan kurang-lebih sekitar 11 hektare.

“Jadi (pohon-pohon) yang ditebang itu sekitar 7 hektare,” ungkap Burhanuddin dalam wawancara terpisah.

READ  Jalan Raya Belah ‘Heart of Borneo’ Mengkhawatirkan

Setidaknya sebanyak 155 batang pohon berbagai jenis telah ditebang hingga rata dengan tanah. “Untuk jumlahnya 155 batang,” sebutnya.

Tersangka A berdalih bahwa dirinya tidak mengetahui pohon-pohon yang ia tebang masuk kawasan hutan lindung. Polisi meyebut tersangka juga menebang pohon untuk dijadikan agrowisata berupa wisata buah durian.

“Dia itu dalihnya lahan dia beli. Tapi setelah rata dengan tanah, baru dia tahu ini masuk kawasan hutan lindung, ini pengakuan tersangka ya,” ucap Burhanuddin.

“Jadi tujuannya itu untuk membuka lahan, mau dijadikan kebun durian. Dia mau buat wisata buah durian,” imbuhnya.

Ancaman 5 Tahun Penjara

Akibat perbuatannya itu, A pekerjanya itu dijerat Pasal 82 Ayat 1 juncto Pasal 12 huruf b Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan sebagaimana diubah dalam Pasal 82 Ayat 1 huruf b juncto Pasal 12 huruf b Undang-Undang Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

Selanjutnya para tersangka terancam hukuman 5 tahun penjara dan denda sebesar Rp 2,5 miliar.

Gerindra Sulsel Buka Suara

Gerindra Sulsel buka suara mengenai kadernya yang ditetapkan tersangka pembalakan liar itu. Gerindra Sulsel menyerahkan kasus ke aparat penegak hukum.

“Kita menyerahkan sepenuhnya ke proses hukum, jadi itu kan baru disangka, jadi saya tentu sebagai Sekum menunggu proses itu dan kalau memang dia ditetapkan dan kemudian jadi terdakwa tentu kita akan ambil langkah konkret dari Partai Gerindra,” kata Sekretaris DPD Gerindra Sulsel Darmawangsa Muin saat dimintai konfirmasi detikcom, Rabu (4/8).

Tersangka A disebut belum melaporkan kasusnya itu kepada Gerindra Sulsel. Darmawangsa mengatakan semua pembuktian ada di pengadilan, sehingga pihaknya tidak mempersalahkan proses penyidikan yang dilakukan polisi terus berlanjut.

“Kan yang bersangkutan belum melaporkan ke saya, belum juga kan hanya kalau di kita, anggota yang merasa bersih pasti akan meminta pendampingan ke kita,” ucapnya.

READ  Lolos dari Perangkap, Harimau Sumatera Malah Tewas Tergantung Dipinggir Jurang

Darmawangsa mengaku belum mengetahui sosok anggota DPRD Soppeng berinisial A yang menjadi tersangka pembalakan hutan lindung itu. Oleh sebab itu, dia tidak berkomentar lebih lanjut.

“Saya juga tidak tahu yang mana tersangka siapa namanya, siapa itu A, nah itu kan pusing juga kan. kita tidak tahu yang mana A, nanti saya komentar lebih lanjut kalau sudah clear,” katanya.

“Biarkan saja itu lanjut proses mengalir kan kalau yang bersangkutan minta bantuan pendampingan kita akan pelajari, kalau dia tidak bersalah dan jadi komoditas politik tentu kita akan maju. Kalau dia sengaja melakukan itu Gerindra tidak membenarkan itu juga,” tegas dia.

SUMBER: detik.com

Enable Notifications    Ok No thanks