Setelah Pulih dari Luka, Akhirnya Sitio Kembali ke Alam Liar

Sitio, menghirup udara alam bebas kembali. Foto: Ayat S Karokaro

 


Kabar gembira datang dari pusat karantina orangutan Yayasan Ekosistem Lestari-Sumatran Orangutan Conservation Programme (YEL-SOCP), di Sibolangit, Sumatera Utara, pekan lalu.

Satu orangutan Sumatera yang telah menjalani perawatan medis di Karantina Orangutan Sumatera SOCP selama enam bulan, akhirnya dinyatakan sehat, dan dapat dikembalikan ke habitat asli.

Sitio, begitu nama orangutan Sumatera ini. Usia sekitar 20 tahun. Hasil pemantauan selama di karantina, satwa terancam punah ini dianggap memiliki sifat liar hingga diputuskan dilepasliarkan kembali ke alam.

Pada Senin pagi, Sitio masuk kandang sementara, dan siap kembali ke habitat asli di Suaka Marga Satwa Siranggas, Kabupaten Pakpak Bharat, Sumut.

Tim Human Orangutan Conflict Response Unit–Orangutan Information Centre (HOCRU-OIC), menempatkan Sitio senyaman mungkin dalam kandang sementara, karena perjalanan cukup panjang.

Pasokan makanan disiapkan untuk menjaga stamina satwa terancam punah ini tetap stabil. Sepanjang perjalanan, tim medis terus memantau kondisi Sitio dalam kandang sementara. Setelah menempuh perjalanan selama enam jam, tim akhirnya tiba di pintu masuk hutan Suaka Margsatwa Siranggas, Pakpak Bharat.

Panut Hadisiswoyo, Direktur Yayasan Orangutan Sumatera Lestari – Orangutan Information Centre (YOSL-OIC) bersama tim HOCRU dan Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Sumut, mencari lokasi tepat untuk lepas liar Sitio.

Dia mengatakan, Sitio pernah terisolasi di perkebunan warga di Dusun Sitio-tio, Desa Kutadame, Kabupaten Pakpak Bharat. Kondisinya benar-benar menghawatirkan, dengan punggung mulai membusuk,  penuh luka.

 

Sitio, kala pertama kali lepasliar, langsung memanjat pohon. Foto: Ayat S Karokaro

 


Sitio evakuasi sekitar Agustus 2016. Setelah enam bulan dinyatakan benar-benar sehat dan masih memiliki sifat liar.

READ  5 Orang Sindikat Penjualan Kukang Diamankan Polda Jabar

Dia optimis keamanan hidup Sitio karena pakan berlimpah dan letak sangat jauh dari rumah penduduk.

Dokter hewan Ricko Layno Jaya, Manager HOCRU-OIC mengatakan sebelum merilis Sitio, di minggu kedua Februari 2017 mereka terlebih dahulu survei kelayakan lokasi lepasliar.

Setelah analisis dan memperhatikan berbagai hal, tertama vegetasi lokasi memiliki indeks kekayaan alam dan keragaman pakan ada 38 jenis dan layak sekali buat orangutan melanjutkan hidup Juga ada 71 pohon buah, memiliki daun muda, dan batang biasa dimakan orangutan.

“Jadi pohon ada 38 jenis atau 54% dari 71 jenis jenis buah dan dianggap pakan layak bagi orangutan untuk hidup di hutan Siranggas. Atas dasar itu kita putuskan merilis Sitio.”

Dokter hewan Mutia, awal masuk selama tiga bulan kondisi Sitio sangat memprihatinkan. “Kita terus pantau dan lakukan berbagai upaya penyembuhan dengan memberikan obat dan mengoperasi punggung yang luka parah.”

 

 

Kebahagiaan Sitio, bisa kembali ke habitat aslinya. Foto: Ayat K Karokaro

 

 

 

 

SUMBER : Mongabay

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *