Tanjung Binerean, Ruang Harmoni Kehidupan Petani Bersama Satwa Liar

Seekor burung maleo (Macrocephalon maleo) di Tanjung Binerean.(KOMPAS.COM/RONNY BUOL)
Seekor burung maleo (Macrocephalon maleo) di Tanjung Binerean.(KOMPAS.COM/RONNY BUOL)

 

GORONTALO, KOMPAS.com – Sisa cangkang telur penyu masih terlihat berserakan di pasir pantai Tanjung Binerean Desa Mataindo Kecamatan Pinolosian Tengah Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), Sulawesi Utara.

Di samping cangkang telur penyu ini, di pantai yang sama terdapat sisa-sisa lubang munculnya anakan maleo senkawor (Macrocephalon maleo). Kedua tempat menetas satwa ini dilindungi hatchery berfondasi beton, bertiang kayu berdinding kawat ram yang disertai jaring, kandang ini berfungsi untuk mengamankan tukik danchick (anakan maleo).

“Saat ini belum musim maleo bertelur. Apalagi kondisi cuaca yang hujan lebat dan laut bergelombang tinggi,” kata Hanapi warga Desa Mataindo.

Pria kekar ini telah bertahun-tahun menjaga pantai Tanjung Binerean, menjaga dan memastikan burung maleo bertelur tanpa gangguan manusia dan predator setiap pagi. Usai pasangan maleo menyimpan telurnya di dalam tanah, Hanapi kemudian menggalinya dan memindahkan ke kandang penetasan.

Tidak hanya maleo yang memberi kepercayaan pada pantai ini untuk mengerami telurnya, sejumlah penyu juga sering didapati bertelur di lokasi yang sama.

Penyu yang pernah menempatkan telurnya di sini adalah berjenis penyu hijau (Chelonia mydas), lekang (Lepidochelys olivacea), dan belimbing (Dermochelys coriacea).

“Penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dewasa pernah kami catat kehadirannya di pantai Binerean, namun tidak bertelur,” kata Alfons Patandung, staf Wildlife Conservation Society (WCS) IP-Sulawesi Program yang terlibat riset di kawasan Tanjung Binerean sejak awal.

Tanjung Binerean merupakan koridor hidupan liar yang sedang dikelola menjadi rumah bagi banyak jenis satwa liar.

Koridor Tanjung Binerean terletak di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, berbentuk memanjang dari pinggir pantai sampai batas Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) di pedalaman.

Kawasan ini memiliki keunikan, di pantainya menjadi tempat bertelur penyu dan burung maleo senkawor, tidak jauh dari peneluran ini terdapat rawa yang banyak ditumbuhi nipah (Nypa fruticans).

Rawa tidak seberapa luas ini ternyata menjadi habitat buaya muara (Crocodylus porosus). Buaya juga biasa dijumpai di sekitar laut di depan rawa, di laut yang menjadi bagian Teluk Tomini di sisi utara ini juga menjadi rumah bagi dugong (Dugong dugon), hiu paus (Rhincodon typus).

Di sisi daratan, sebagian telah menjadi ladang masyarakat, ditanami kelapa dan tanaman keras lainnya, juga terdapat semak dan tumbuhan lainnya.

“Buaya muara itu saudara saya, saya sering melihatnya berjemur di rawa atau di pantai,” kata Hanapi.

Hanapi, warga Mataindo memperlihatkan anak maleo yang akan dilepas di Tanjung Binerean, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan. Dearah ini merupakan satu-satunya pantai yang menjadi habitat maleo di pesisir selatan dan tenggara Sulawesi Utara.(KOMPAS.COM/YAKOB BOTUTIHE)
Hanapi, warga Mataindo memperlihatkan anak maleo yang akan dilepas di Tanjung Binerean, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan. Dearah ini merupakan satu-satunya pantai yang menjadi habitat maleo di pesisir selatan dan tenggara Sulawesi Utara.(KOMPAS.COM/YAKOB BOTUTIHE)

 

Hanapi tidak sedang membual, kedekatan dengan satwa ini dibuktikan saat mencari ikan pada malam hari untuk lauk pagi besoknya. Berbekal lampu senter yang melilit kepalanya, ia membawa parang menuruni rawa ini, ia menerobos semak yang tumbuh di rawa dalam hanya berbekal senter yang tidak seberapa terang cahayanya di kepalanya.

Ia mencari ikan yang lengah di rawa ini, gabus, mujair, dan sidat tidak bisa mengelak saat parang tajamnya lebih dulu mengenai tubuh ikan. Segera saja ikan-ikan ini diikat dalam tali yang terbuat dari bagian pohon yang tumbuh di sekitar rawa.

“Itu buaya,” kata Hanapi sambil tangannya menunjuk ke arah dua mata yang menyorot di antara pohon nipah.

Jaraknya tidak jauh dari tempatnya berdiri, sorot kemerahan mata buaya ini juga terlihat tidak terusik, diam saja. Namun saat di dekat pemilik dua mata ini memilih mundur ke arah nipah yang lebih lebat.

READ  Penyelundupan 2.044 Ekor Burung dari Kobar Digagalkan, Mayoritas Satwa Dilindungi

Malam itu Hanapi tidak lama di dalam rawa, tangannya sudah membawa beberapa ekor ikan yang cukup dimasak untuk sarapan pagi. Malam itu ia membuktikan rawa ini masih dihuni buaya muara.

“Kita cukup dengan ikan ini, jangan banyak-banyak mengambilnya, sisakan ikan di rawa untuk buaya,” ujarnya sambil tersenyum.

Setelah menyimpan ikannya di kotak pendingin di dapur pondok stasiun riset lembaga konservasi Wildlife Conservation Society (WCS) yang bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Sulawesi Utara, Hanapi bercerita jika pada beberapa bulan lalu di tahun ini seorang pemancing diterkam buaya saat mencari ikan di laut belakang desa Mataindo. Pemancing ini konon kabarnya mengganggu anak buaya yang ditemui.

“Buaya seperti kita, tidak mau terusik. Kalau ketemu di tempat hidupnya biarkan saja. Kita harus saling menghormati sesama makhluk ciptaan Tuhan,” ujar Hanapi.

Kejadian tragis orang dimakan buaya terlihat oleh sejumlah nelayan yang mencari ikan, nelayan melihat pemancing yang menggunakan perahu tradisional ini jatuh di laut dan sinar senternya berputar-putar di dalam air sebelum gelap menyekat penglihatan para nelayan.

Hanapi bercerita dengan yakin, selama tidak mengganggu satwa di hutan atau laut, orang akan selamat. Menurutnya hewan-hewan liar ini juga membutuhkan makan dan kenyamanan hidup, jika mereka terusik maka manusia akan menerima pembalasan dari hewan tersebut.

Kedekatan masyarakat dengan satwa liar di pesisir Bolaang Mongondow Selatan ini juga diceritakan oleh salah seorang warga asal Sangihe. Rumahnya tertata asri di tepi pantai, halamannya dipenuhi rumput bak karpet yang menutupi tanah dari jalan hingga batas laut di samping rumahnya. Di bagian belakang rumahnya terdapat pohon bakau lebat, di pinggi bakau inilah ia menempatkan perahu kayunya.

“Buaya juga menghuni pantai ini, biasa terlihat di belakang rumah. Bahkan ada anjing kami pernah dimangsanya,” ujar Alian Mahare Ketua RT 6 Dusun 3 Desa Torosik.

Warga desa-desa sekitar pesisir selatan ini sudah mafhum jika mereka berbagi ruang dengan satwa liar.

Pemahaman warga desa yang berdampingan hidup dalam kawasan yang sama-sama dihuni dengan satwa liar ini bahkan ditunjukkan oleh Harun Basir, warga Desa Mataindo. Pria yang biasa dipanggil Papa Aldi ini menunjukkan pekerja pemetik kelapa di pantai tidak akan memanen pada waktu burung maleo bertelur, jam 06.00-10.00 Wita.

“Mereka sudah tahu kalau pagi ada burung maleo yang bertelur, sehingga mereka menunda pekerjaan, menunggu maleo-maleo itu selesai bertelur,” ujar Harun Basir.

Di laut mereka menemukan buaya, di kebun juga terdapat babi, yaki, atau maleo. Diakuinya satwa ini ada yang menganggu kebunnya, terutama yaki. Namun mereka juga sadar bahwa sebelum mereka menempati tanah ini, yaki atau lainnya sudah ada di sini.

Rawa yang menjadi habitat buaya muara di Tanjung Binerean Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel). Kawasan ini merupakan rumah bagi banyak satwa liar yang berada di koridor Tanjung Binerean hingga ke Taman Nasional Bogani Nani Wartabone.(KOMPAS.COM/ROSYID A AZHAR)
Rawa yang menjadi habitat buaya muara di Tanjung Binerean Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel). Kawasan ini merupakan rumah bagi banyak satwa liar yang berada di koridor Tanjung Binerean hingga ke Taman Nasional Bogani Nani Wartabone.(KOMPAS.COM/ROSYID A AZHAR)

 

Bentang alam dari laut hingga memanjang ke arah hutan taman nasional Bogani Nani Wartabone ini membentuk koridor kehidupan harmoni antara manusia dan alam liar.

Di dalam kKoridor ini terdapat Kawasan yang berstatus hutan lindung (HL), hutan produksi terbatas (HPT), hutan produksi (HP), dan areal peruntukan lain (APL). Koridor ini memiliki luas 3382 ha.

READ  Polisi Pastikan, Gajah Mati di Aceh TImur karena Pestisida

Di Kawasan APL terdapat Kawasan berhutan gunung Iparuntu dan kebun warga desa yang menjadi koridor inti bagi satwa liar yang ada di pesisir pantai menuju taman nasional Bogani Nani Wartabone.

Yang menarik adalah koridor ini sebagian besar menjadi kebun warga, di Tanjung Binerean terdapat kebun pohon kelapa berjejer di tepi pantai, di belakang kelapa terdapat kebun cengkeh dan pala yang terhubung dengan gunung Iparuntu. Bagian koridor ini masuk ke dalam wilayah administrasi Desa Torosik dan Mataindo.

Koridor ini menjadi ruang hidup hidupan satwa liar yang harmoni. Tempat ini menjadi ruang hidup yang harmoni antara warga desa dan satwa.

“Burung maleo yang berada di hutan taman nasional saat musim bertelur bisa terbang ke pantai melewati kebun-kebun warga dengan nyaman tanpa terganggu, demikian juga saat anak maleo menetas 2 bulan kemudian dapat balik ke hutan juga dengan nyaman,” ucap Yakob Botutihe, staff community and Engagement Wildlife Conservation Society (WCS), Senin (21/11/2022).

Yakob menjelaskan dari gunung Iparuntu ke hutan taman nasional berjarak 2 km, terdapat kebun warga di 2 desa, Mataindo Utara dan Adow. Di kebun ini warga menanami kelapa, cengkeh, pala, durian, dan jeruk ikan. Di sela tanaman keras ini warga masih memanfaatkan lahannya dengan menanami cabai.

Dalam koridor yang menjadi ruang hidup manusia dan satwa liar diintervensi pengelolaannya oleh lembaga konservasi lokal, Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan yang melibatkan pemerintahan hingga ke desa-desa, warga desa yang umumnya petani dan nelayan, dan Balai Konservasi Sumber Daya alam (KSDA) Sulawesi Utara.

Kolaborasi para pihak ini tidak mengubah status kawasan, namun melakukan mengintervensi pengelolaan koridor satwa liar secara baik dan ramah terhadap kehidupan masyarakat dan satwa.

“Proteksi area terkait habitat maleo dilakukan sejak 2008,” kata Alfons Patandung biodiversity conservation officer, Wildlife Conservation Society.

Alfons Patandung yang Sebagian besar waktu hidupnya dihabiskan di hutan-hutan ini menjelaskan survei habitat maleo bahkan sudah dilakukan jauh sebelum tahun tersebut. Survei ini dilakukan oleh berbagai peneliti, dari dalam dan luar negeri.

Pantai Binerean adalah satu-satunya habitat maleo yang tersisa di pesisir selatan di Provinsi Sulawesi Utara.

Koridor kehidupan ini sangat penting untuk menjaga habitat satwa, terutama burung maleo senkawor yang bergantung sepenuhnya pada pantai ini untuk menetaskan telur-telurnya. Selain maleo, ada yaki (Macaca nigra) dan satwa lain juga acap melintasi koridor ini. Di koridor ini juga pernah tercatat kehadiran anoa (Bubalus esdrepassicornis), babi rusa (Babyrousa celebensis), kuskus beruang (Ailurops ursinus), dan berbagai satwa lainnya .

Koridor Tanjung Binerean ini mendukung keberadaan jenis burung terancam punah dan dilindungi Pemerintah Indonesia.

Sebagai satu-satunya tempat bertelur burung maleo di pesisir selatan dan tenggara Provinsi Sulawesi Utara, Tanjung Binerean adalah tempat istimewa bagi pengelolaan keanekaagaman hayati di Indonesia. Pengelolaan oleh multipihak ini menjadi petemuan semua semangat pelestarian satwa liar, melalui pintu masuk penyelamatan maleo dan habitatnya, semua satwa penting ikut terselamatkan, mulai dari wilayah perairan hingga ke daratan dalam satu koridor yang harmoni.

Pengelolaan multipihak ini juga dilakukan dengan membangun kesadaran para warga desa untuk terlibat dalam upaya konservasi satwa liar dan habitatnya.

READ  Empat Orangutan Sumatera Kembali Dilepasliarkan ke Hutan Jantho

Maleo senkawor ini merupakan satwa endemik yang tersebar di beberapa lokasi di pulau sulawesi dan pulau satelitnya.

“Maleo senkawor berukuran sedang bulu berwarna hitam di bagian atas, putih di bagian bawah,” ujar Alfons Patandung.

Ia menjelaskan burung yang sering berjalan dan berlari ini memiliki tonjolan besar seperti sanggul di kepalanya, tonjolan keras ini mulai nampak saat beranjak dewasa, kakinya besar, berselaput, dan memiliki cakar untuk menggaruk tanah.

Maleo hidup secara monogami dan setia pada pasangannya. Pasangan maleo tidak mengerami telur, dan membiarkan telur menetas sendiri dengan bantuan panas matahari atau panas bumi.

”Butuh waktu hingga 48 jam bagi anakan maleo yang baru menetas untuk berjuang menerobos ke permukaan tanah,” ucap Alfons Patandung.

Maleo yang menetas ini posisinya masih di dalam tanah, ia harus berjuang keras menerobos tanah di atasnya, bahkan terdapat pasir, batu, dan akar pohon. Perjuangan ini benar-benar keras hingga ia muncul ke permukaan tanah. Maleo mungil yang baru keluar dari dalam tanah ini langsung bisa lari dan terbang untuk menghindari predator.

Berat dewasa maleo adalah 1,6 kg dengan panjang 55-60 cm, memiliki pola makan omnivora dengan mengonsumsi buah, biji, dan serangga hutan. Maleo betina bertelur 8-12 butir pertahun, telur ini dipendam dalam lubang tanah.

“Habitatnya di dataran rendah, hutan pegunungan, semak belukar dan pantai, salah satu habitat pentingnya ada di Tanjung Binerean,” ungkap Alfons Patandung.

Status keterancaman maleo adalah kritis, critical endangered. Pemerintah melindungi melalui PP nomor 7 tahun 1999 dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor 106 tahun 2018.

Ancaman pada individu dewasa terjadi oleh kerusakan hutan, anak baru menetas terancam oleh predator alaminya, biawak, ular, elang, dan lainnya. Telur yang berada di dalam tanah juga terancam oleh manusia selain predator.

Pantai Tanjung Binerean, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan yang menjadi habitat maleo dan penyu. Lokasi ini masuk kawasan ekosistem esensial (KEE).(KOMPAS.COM/YAKOB BOTUTIHE)
Pantai Tanjung Binerean, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan yang menjadi habitat maleo dan penyu. Lokasi ini masuk kawasan ekosistem esensial (KEE).(KOMPAS.COM/YAKOB BOTUTIHE)

 

Tempat bertelur maleo di Tanjung Binerean Bolaang Mongondow Selatan dikelola sejak 2008 dengan luas peneluran 0,35 ha, jumlah anak yang sudah dilepasliarkan sebanyak 639 ekor.

“Kami di pemerintahan daerah menerbitkan Perda Kawasan Ekisistem Esensial (KEE) koridor Tanjung Binerean,” kata Sri Maya Lamusu, Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan (Bappelitbangsa) Bolaang Mongondow Selatan.

Dalam catatan Wildlife Conservation Society pada 1994, Marc Argeloo, seorang naturalis Belanda dan peneliti maleo di era 1990-an dalam jurnalnya (1994) mengusulkan tempat bertelur maleo di Tanjung Binerean ini untuk dilindungi sebagai kawasan cagar alam.

Tahun 2014 lahir konsep awal untuk melindungi tempat bertelur maleo Tanjung Binerean melalui skema kawasan restorasi ekosistem namun upaya ini tidak berlanjut.

Pada 2018 Bupati Bolaang Mongondow Selatan Iskandar Kamaru menerbitkan Peraturan nomor 78 tahun 2018 tentang penataan kawasan pengungsian satwa khususnya bagian koridor yang terletak di kawasan areal penggunaan lain.

Pada 2019 Iskandar Kamaru meningkatkan perlindungan koridor ini dengan menerbitkan keputusan nomor 289 yang membentuk forum kolaborasi pengelolaan koridor hidupan liar Tanjung Binerean sebagai bentuk dukungan kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Utara.

Pada 2021, Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan menerbitkan Peraturan Daerah Nomor 2, yang mengatur penataan kawasan pengungsian satwa.

 

SUMBER: KOMPAS.com

Enable Notifications    Ok No thanks