Yayasan Orangutan Sumatera Lestari Ajak Petani Tanam Jeruk Organik

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN-Yayasan Orangutan Sumatera Lestari, Orangutan Information Centre (YOSL-OIC) bekerjasama dengan Perkumpulan PANSU melalui Sekolah Lapang Jeruk mensosialisasikan cara menanam jeruk secara organik.

Direktur YOSL-OIC, Panut Hadisiswoyo mengatakan, program tersebut bertujuan untuk meningkatakn pemanfaatan lahan secara optimal melalui mekanisme intensifkasi sehingga petani tidak perlu memperluas ladang mereka.

“Dengan adanya program tersebut, para petani dapat mendukung upaya perlindungan dan konservasi kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), yang berbatasan langsung dengan Desa Bukit Mas,” ujarnya, Rabu (28/9/2016).

Ia menerangkan, program tersebut selain untuk mencegah terjadinya serangan virus seperti tahun 1997 hingga 1998 telah meluluhlantakkan seluruh petani jeruk, juga dimaksudkan untuk mengurangi biaya produksi petani yaitu mengurangi ongkos pembelian pupuk kimia dan pestisida kimia.

“Program ini juga untuk mendukung upaya sustainable farming atau pertanian berkelanjutan sehingga usia tanaman akan lebih panjang dan tentu saja akan dapat lebih menjaga kesehatan para petani itu sendiri,” terangnya.

Ia menuturkan, jeruk pante buaya sudah sangat dikenal oleh masyarakat Pulau Sumatera maupun masyarakat Pulau Jawa terutama di Jakarta. Sudah sejak awal tahun 90 an jeruk jenis ini dikonsumsi dan menjadi salah satu buah favorit bagi masyarakat.

Namun serangan virus pada tahun 1997 hingga 1998 telah meluluhlantakkan seluruh petani jeruk di daerah tersebut. Dalam masa satu tahun saja, seluruh batang pohon jeruk di sana mati termasuk tanaman berumur satu tahun. Dan sejak saat itu sebagian besar petani mencoba peruntungan di daerah lain dan meninggalkan begitu saja lahan jeruknya. Sebagian lagi mencoba menanam kelapa sawit dan coklat,” tuturnya.

Ia menjelaskan, Tim YOSL-OIC selain memfasilitasi program tersebut juga memanfaatkan waktu luang mereka di sana dengan memberikan kursus Bahasa Inggris secara gratis. Hingga kini telah terdaftar sebanyak 109 siswa yang dibagi menjadi dua kelompok, yakni kelompok yang belajar pada Sabtu Malam dan yang belajar pada Minggu Pagi.

READ  Gajah Liar Resahkan Petani Cot Girek

“Diharapkan baik orangtua maupun anak-anaknya dapat memperoleh pengetahuan yang berguna bagi masa depan mereka,” jelasnya.

Fasilitator petani dari program tersebut, Supiran, yang bertugas di Kelompok Tani di sana juga menjelaskan bahwa pertanian organik dapat menjamin usia tanaman akan lebih panjang serta hasil produksi yang lebih baik dan sehat.

“Sekolah Lapang Jeruk itu sendiri berlangsung setiap hari Sabtu dan Minggu di Dusun Kodam Bawah dan Dusun Pante Buaya dari mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB. Dan telah berlangsung selama satu bulan dan akan berlangsung hingga pertengahan tahun depan,” terangnya.

 

SUMBER : Tribunnews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Enable Notifications    Ok No thanks